Arsip untuk Desember, 2006

Pantaskah Ottoman Turki Kita Nyatakan Sebagai Sebuah Khilafah Islam ??

Desember 31, 2006

Pantaskah Ottoman Turki Kita Nyatakan Sebagai Sebuah Khilafah Islam ??


Seringkali kita mendengar pernyataan mengenai kehancuran khilafah Islam. Yaitu pada kehancuran 1924M yang mengacu pada pemerintahan keluarga Ottoman Turki. Sebuah dinasti yang oleh mayoritas umat islam dianggap sebagai sebuah pemerintahan kekhalifahan penerus pemerintahan nabi saw. Atau paling tidak sebuah pemerintahan Islam yang dianggap mampu mempersatukan umat, dan juga kekuatan islam paling akhir yang mampu bertahan sebelum kekuatan asing mengkotak-kotak umat islam menjadi serpihan negara-negara kecil dan tidak memiliki kekuatan yang berarti.

Sebagian besar diantara kita mungkin akan merasa sedih atau bahkan cenderung merasa dendam dan terhina bila mengingat kejadian pada tahun 1924M tersebut. Selain itu, diberbagai kesempatan juga banyak pihak yang merasa sebagai bagian umat islam berusaha untuk mengingat kembali khilafah Ottoman. Embel-embel khilafah Ottoman sebagai contoh bentuk khilafah islami, hampir tidak pernah lupa dipergunakan dalam berbagai kesempatan. Banyak diantara kita yang selalu merujuk pada khilafah Ottoman Turki pada saat mensyiarkan sistem islami atau khilafah yang dianggap atau diharapkan akan mampu menyelesaikan masalah bangsa, sekaligus untuk menegaskan kita sebagai umat yang berpengetahuan dan berkebudayaan tinggi.

Berusaha untuk mengembalikan sistem yang islami tidak salah, tetapi apakah merujuk pada dinasti Ottoman sebagai contoh kekhilafahan islam sudah tepat ? Marilah kita pikirkan kembali dengan akal yang jernih dan penuh objektifitas !!

Kita sebagai umat islam tentu harus turut prihatin dan sedih dengan kehancuran khilafah Ottoman. Kita pantas untuk kecewa dikarenakan kekuatan yang menunjukkan diri dan selalu dianggap sebagai perwujudan kekuatan umat islam yang terakhir telah dihancurkan, sekaligus memberikan sebuah kesan dan membuktikan bahwa umat islam benar-benar telah habis kekuatannya.

Kesan ini sampai saat ini bahkan benar-benar dihayati oleh sebagian besar umat islam dan secara langsung bahkan memperlihatkan mereka sebagai umat yang hanya bisa merengek-rengek dan mengoceh tentang kehebatan leluhur mereka, memberikan tuduhan-tuduhan terhadap bangsa Eropa sebagai biang kehancuran islam dan selalu mengungkit-ungkit kekuatan leluhurnya tanpa bisa membuktikan kekuatannya sendiri sebagai umat yang mandiri tanpa harus berada dibelakang bayang-bayang leluhurnya. Meskipun tentu saja kita harus tetap berpegang teguh pada prinsip “jas merah” yaitu “jangan sekali-kali melupakan sejarah”, namun yang jelas harus paham penempatannya.

Selain itu, dalam hal berkaitan dengan sejarah, kita harus berusaha mencermati dengan teliti, jangan sekedar tahu dan mempercayai satu buah versi sejarah yang ada sepenuhnya. Perlu dikaji dan di analisis dengan perbandingan dan kemungkinan-kemungkinan pada versi yang berbeda. Oleh karena itu, dalam pembahasan ini marilah kita sedikit membahas dan mengungkap beberapa wacana yang jarang diperbincangkan yang kemungkinan akan mampu memberikan informasi tambahan bagi khazanah sejarah islam.

Menyambung kembali pembahasan mengenai keruntuhan khilafah islam, maka akan kita mulai dengan berbagai hal dan rangkaian kehancurannya, agar kita dapat mengetahui duduk perkara dari berbagai versi yang berbeda.
Beberapa versi kehancuran khilafah islam diantaranya adalah :
Versi I : khilafah telah dianggap hancur setelah Ali ibn Abi Thalib.
Versi II : khilafah hancur setelah masa Dinasti Abbasiyah.
Versi III : khilafah runtuh tahun 1924M pada masa Ottoman Turki.
Versi IV : sebagian dari umat islam yang mengakui khilafah selain Ottoman.

Pembahasan keruntuhan khilafah ini akan kami sajikan berurutan berupa rangkaian kejadian mulai dari masa khulafa arrashidin hingga kejadian-kejadian yang mengiringi sejarah islam pada awal abad ke-20.

Dalam sejarah islam telah secara jelas digambarkan keadilan dan kebesaran para khulafa arrasyidin, dan mungkin hanya beberapa hal saja yang menjadi perdebatan selama masa pemerintahan empat khalifah utama dalam islam yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Mereka ini adalah manusia-manusia utama dalam masa-masa utama dimana ketentuan-ketentuan Allah dan teladan-teladan nabi saw masih diikuti dan diamalkan secara penuh. Pengangkatan khalifah-khalifah ini dilakukan dengan pelaksanaan pemilihan berdasar musyawarah sesuai dengan aturan dan tata cara islami. Semenjak wafatnya nabi saw semasa pengangkatan Abu Bakar, telah dibentuk sebuah team yang menangani dan mengatur pengangkatan khalifah sepeninggal nabi saw. Mungkin mirip dengan pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat di Indonesia pada masa sekarang. Pada masa itu, majelis tersebutlah yang berhak dan berwenang untuk mengangkat serta mengganti khalifah, dengan berbagai masukan dan aspirasi dari rakyat.

Menutup masa keempat khalifah ini pada masa pemerintahan khalifah Ali ibn Abi Thalib, mulai terjadi intrik dan ketidakberesan dalam tatanan islam. Pergantian kepemimpinan dari Ali ke Muawiyah pada masa itu terjadi tidak dengan sewajarnya, tetapi lebih dikarenakan adanya tipu daya dari pihak Muawiyah kepada pihak Ali ibn Abi Thalib. Dan bahkan beberapa pihak yang agak keras pendapatnya menyatakan bahwa Muawiyah pada saat itu mendapatkan kursi pemerintahan dengan cara melakukan kudeta terhadap Ali ibn Abi Thalib. Selain itu, Muawiyah juga merupakan orang yang merubah tata aturan kekhalifahan sekehendaknya sendiri. Kekhalifahan yang pada awalnya dan seharusnya dengan permusyawaratan (khilafah bil intikhaab) dirubah dengan sistem pewarisan atau putra mahkota (khilafah bil waraatsah)

Hal-hal dan rincian kejadian pada masa Ali yang perlu menjadi perhatian adalah sebagai berikut:
1. Ali ibn Abi Thalib pada saat memegang kekuasaan selalu memegang teguh syariat dan aturan pemerintahan seperti yang dijalankan oleh pendahulunya. Namun, tugasnya menjadi semakin berat tatkala menghadapi masyarakat islam yang secara perlahan sudah menjauh dari masa-masa nabi saw. Pada masa itu umat islam sudah menjadi umat yang berlimpah kekayaan dan hal ini mulai membuat mereka terlena dari ketegasan-ketegasan aturan islam yang seharusnya. Sehingga sedikit saja merasa tersaingi dan kurang mendapat pembagian yang memadai dibanding golongan lainnya dapat menyulut pertengkaran dan perselisihan. Ujung-ujungnya adalah timbulnya beberapa pemberontakan terhadap kekuasaan Ali.
2. Terjadinya perang saudara pertama dalam sejarah islam, yaitu antara pasukan Ali dengan pasukan Aisyah istri nabi saw yang terhasut untuk memberontak terhadap Ali.
3. Perselisihan antara keluarga Hasyim dan keluarga Umayyah. Pemberontakan yang dilakukan oleh Muawiyah ibn Abi Sufyan terhadap Ali ibn Abi Thalib merupakan perang yang menelan banyak sekali korban jiwa. Namun, Muawiyah tampil dengan trik-trik liciknya, terutama sekali berkat dukungan penasehatnya yang sudah teruji kelicikannya bernama Amru bin Ash, seorang panglima yang berhasil memasukkan Mesir ke dalam peta dunia islam.
a. Pada saat Ali hampir memenangkan pertempuran, Amru ibn Ash mengangkat tombak yang diujungnya ditancapkan lembaran Alqur`an dengan mengatakan bahwa sebaiknya peperangan dihentikan dan dilakukan perundingan yang berdasarkan pada Alqur`an. Sikap licik ini selain mampu menghindarkan kemusnahan Muawiyah, ternyata bahkan membuat perselisihan dalam pasukan Ali ibn Abi Thalib yang kemudian sebagian dari mereka yang tidak suka dengan penghentian perang tersebut keluar dari pasukan Ali dan berkumpul menjadi kelompok sendiri yang disebut kaum Khawarij.
b. Pihak Muawiyah yang diwakili oleh Amru bin Ash meminta pihak Ali untuk bersama-sama duduk sederajat dengan cara menurunkan jabatan kekhalifahannya. Pihak Ali yang diwakili oleh Abu Musa Al Ash`ari yang merupakan orang shaleh tanpa paham kelicikan siasat lawan menyanggupinya. Baru saja Abu Musa Al Ash`ari menyatakan Ali turun dari kekhalifahan, Amru bin Ash menyatakan kepada umat islam bahwa dengan adanya kekosongan kekhalifahan segera diangkatlah seorang pengganti khalifah. Dan orang itu tidak lain adalah Muawiyah.
c. Dengan diangkatnya Muawiyah sebagai khalifah, dengan lapang dada Ali ibn Abi Thalib dan pasukannya yang sebagian besar memang masih memegang aturan islam bahwa mereka sebagai umat islam harus tunduk pada satu khalifah maka selesailah kekhalifahan yang sebenar-benarnya. Inilah yang mendasari sebagian umat islam untuk menyatakan bahwa kekhilafahan islam sudah hancur semenjak masa Ali ibn Abi Thalib. Pihak ini menganggap bahwa pemerintahan sesudah Ali bukanlah kekhalifahan tapi hanya kerajaan biasa yang tidak berbeda dengan Byzantium dan sebagainya. Hanya saja agama resmi yang dianut adalah islam.
4. Kematian Ali yang tragis pada masa akhir jabatannya sebagai khalifah dengan tikaman pada saat berjalan menuju masjid untuk menjalankan shalat subuh. Pihak yang bertanggung jawab atas kejadian ini adalah kaum Khawarij. Mereka pada dasarnya mengirimkan tiga orang untuk membunuh Ali ibn Abi Thalib, Amru bin Ash, dan Muawiyah. Diantara mereka bertiga ini hanya satu yang berhasil menjalankan tugasnya, yaitu membunuh Ali. Sedangkan yang bertugas membunuh Amru dan Muawiyah gagal menjalankan tugasnya karena dua tokoh tersebut dijaga ketat oleh pengawal masing-masing.
5. Jika dicermati dengan teliti, maka akan kita dapati bahwa sebenarnya orang-orang yang melakukan pemberontakan terhadap Ali ini yaitu golongan Muawiyah adalah orang-orang yang bukan sebenarnya islam dari hati mereka. Ayah Muawiyah yaitu Abu Sufyan masuk islam hanya dikarenakan Makkah pada waktu itu jatuh kepada Islam. Begitupun Muawiyah, dia tidak secara langsung bergaul dan berkomunikasi dengan nabi saw seperti para sahabat yang membesarkan khilafah islam pada masa khulafa arrashidin yang keislamannya benar-benar ditempa oleh masa nabi, merupakan orang-orang shaleh yang menjaga islam dengan harta dan jiwa mereka. Sedangkan orang-orang semacam Muawiyah inilah yang menghancurkan islam.
6. Muawiyah merupakan orang pertama dalam tatanan pemerintahan islam yang memakai singgasana, mengadakan dan membentuk barisan pengawalan khusus bahkan ketika berada di dalam masjid. Juga dia yang pertama melakukan pengangkatan putra mahkota dan menjadikan pemerintahan islam berdasar kepada sistem pewarisan tahta seperti kerajaan pada umumnya. Sebuah bentuk aturan yang jauh dari hakekat kekhalifahan dalam islam.

Dengan perincian beberapa kejadian tersebut, maka beberapa pihak dengan tegas menyatakan bahwa kekhalifahan telah tamat semenjak berakhirnya masa kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib.

Selanjutnya, masa kekhalifahan sesudah masa Ali ibn Abi Thalib, yaitu masa kekhalifahan dinasti Umayyah dan dilanjutkan dengan kekhalifahan dinasti Abbasiyah. Kekhalifahan dinasti Umayyah dimulai semenjak tahun 40H / 660M setelah Muawiyah mengalahkan Ali ibn Abi Thalib dan keturunannya mampu bertahan hingga tahun 132H / 750M. Alasan-alasan yang mendukung keberhasilan bertahannya khalifah ini adalah sebagai berikut:
1. Umat islam sudah banyak perubahan dalam pola pikir mereka dibandingkan dengan masa islam sebelumnya.
2. Beberapa pihak lainnya mungkin ada yang dengan keterpaksaan mengakui jenis kekhalifahan baru yang dibentuk oleh Muawiyah ini dengan kekhawatiran atas keselamatan jiwanya.
3. Sebagian besar dari umat islam pada masa itu memang mereka mengakui kekhalifahan Muawiyah karena mereka tidak paham bagaimana bentuk sebenarnya dari kekhalifahan islam yang dituntunkan oleh nabi saw dan para sahabatnya. Mereka ini adalah orang-orang islam yang jauh dari masa nabi saw atau berasal dari daerah yang mempunyai adat istiadat berbeda dengan adat istiadat islam pada masa nabi saw dan kemudian mencampurkan adat mereka dalam keseharian dan pola pikir keislaman mereka. Artinya adalah, umat islam baru lebih banyak dari umat islam lama. Yaitu bahwa suara umat islam yang benar-benar paham aturan islam langsung dari nabi saw kalah jumlah dengan umat islam yang tidak paham bagaimana seharusnya islam dijalankan. Mereka inilah yang merusak tatanan dalam islam dan dengan kata lain boleh dibilang peningkatan jumlah umat islam tidak diikuti kualitas yang baik pula.
4. Pada masa itu sudah tidak ada lagi kekuatan kekhalifahan yang sesuai dengan tuntunan nabi saw yang mampu menggabungkan segenap kekuatan islam. Kekuatan yang terbesar ada di pihak dinasti Umayyah.

Hal manis yang sempat dilakukan oleh penguasa-penguasa dinasti Umayyah diantaranya adalah pengembangan ilmu pengetahuan dengan pesatnya pendirian madrasah-madrasah besar dan perpustakaan yang lengkap, serta mulai munculnya tokoh-tokoh iptek yang bagus. Selain itu, juga memperindah kota-kota baru seperti Bukhara dan Samarkand dan melengkapinya dengan madasah dan perpustakaan besar yang kemudian menjadikan kota-kota tersebut sebagai tempat pengembangan keilmuan. Juga pada tahun 92H / 711M, membebaskan tanah Andalusia dari penjajahan bangsa Gothia-Barat yang selanjutnya dikembangkan juga sebagai tempat ilmu pengetahuan dan seni budaya tingkat tinggi serta elite. Kekuatan dinasti ini bertahan hingga ketika penguasanya tidak mampu lagi menghadapi pemberontakan dari pihak-pihak yang selama pemerintahan mereka, sering ditekan dan didhalimi.

Kehancuran dinasti Umayyah benar-benar terjadi pada tahun 750M, setelah terjadi pemberontakan yang berkepanjangan dari berbagai pihak, terutama sekali yang semakin besar pengikutnya adalah keluarga Bani Abbas atau keluarga keturunan Abbas, paman Nabi saw. Pemerintahan keluarga ini dikenal dengan nama Bani Abbasiyah. Mereka mulai mendirikan kekhalifahan pada tahun 132H / 749M dengan pusat pemerintahan di kota Baghdad. Kekhalifahan dinasti ini pada dasarnya sama dengan Bani Umayyah, jauh dari tuntunan nabi saw. Bahkan pada awal pembentukannya, dimulai dengan pembantaian besar-besaran terhadap keluarga Bani Umayyah, baik secara langsung maupun dengan teror, kelicikan, dan berbagai tipu muslihat. Bahkan apabila kita teliti lebih lanjut tentang khalifah yang dianggap paling besar dan paling berkualitas pada dinasti ini yaitu khalifah Harun Al Rasyid, maka akan kita temukan berbagai bentuk sikap licik dan tipu muslihat yang diperagakan olehnya.

Hal baik yang pernah dilakukan Harun Al Rasyid:
1. Memperhatikan kemajuan ilmu pengetahuan.
2. Mengembangkan seni budaya dan perekonomian rakyat.
3. Meratakan kemajuan segala bidang di berbagai wilayah dengan melengkapi kota-kota besarnya dengan madrasah-madrasah besar dan perpustakaan yang lengkap.
4. Bersahabat dengan penguasa dari negara-negara tetangga.
5. Memasukkan nilai-nilai islam pada konstitusi Karel de Grote yang menjadi sahabatnya, dan selanjutnya HAM tersebut menjadi HAM Eropa modern.

Hal jelek yang dilakukan Harun Al Rasyid:
1. Persahabatan dengan Papyn, Raja Frank untuk menghancurkan islam Andalusia yang menjadi basis kekuatan keluarga Umayyah.
2. Pembunuhan terhadap lawan-lawan politik diberbagai kesempatan.
3. Pengkhianatan terhadap lawan politik yang telah menyerah dan kemudian menahannya.
4. Pembunuhan terhadap orang-oang dekatnya yang dikhawatirkan menyaingi popularitasnya.

Telah sejak awal, dinyatakan bahwa semenjak berakhirnya masa khulafa arrasyidin, banyak yang beranggapan telah berakhir pula sistem khilafah islam yang sebenarnya, diganti dengan sistem jenis baru yang sebenarnya jauh dari sistem khilafah yang islami. Namun, awal kehancuan islam yang lebih besar lagi akan dimulai beberapa generasi setelah masa Harun Al Rasyid, dimana mulai saat-saat tersebut, sistem kekhilafahan islam akan makin memerosotkan kekuatan islam sendiri, dan situasi ini sangat sedikit yang menyinggungnya, padahal cukup penting dalam menelaah lebih lanjut kekuatan islam pada 1924M.

Untuk itu, disini akan dibahas beberapa hal yang kemungkinan besar merupakan masalah utama yang mendasari keruntuhan islam pada 1924M yang hal itu bahkan telah berawal dari tahun sekitar 800M. Pembahasan ini merupakan sebuah wacana yang memang belum tentu benar, namun pantas untuk diperbincangkan dan bisa menjadi informasi tambahan bagi sejarah islam. Mengenai hal ini, akan dicoba untuk diuraikan sedetail dan seurut mungkin dengan di awali dari masa khalifah Abbasiyah, Muhammad Al Mu`tasim yang berkuasa pada tahun 218-227H / 833-842M. Seperti beberapa khalifah sebelumnya, dia juga membeli budak belian dari Turki. Namun, dia membuat keputusan untuk memperbanyak budak belian dari Turki yang dalam beberapa tahun saja jumlah mereka mencapai 70.000 orang. Dan parahnya, mereka itu akhirnya dijadikan pasukan khusus pengawal istana dan pasukan utama. Keputusan ini merupakan awal petaka khilafah islam yang selanjutnya akan merubah sejarah islam. Bagaiman bisa demikian?

Pasukan khusus dari Turki, juga panglima-panglima perang dan perwira-perwira dari Turki mengisi istana khalifah. Mereka dianak-emaskan dan dilebihkan dari orang Arab dan Persia, sehingga mereka yang merasa dimanja tersebut akhirnya melakukan apa saja sekehendaknya dan suka menganiaya orang terutama diwilayah-wilayah yang jauh dari jangkauan pengamatan khalifah, pungutan liar dan korupsi mulai berkembang, perwira Arab atau Persia yang berulah dan melawan atau menuntut hak akan segera disingkirkan dengan alasan hendak melakukan kudeta terhadap khalifah. Sikap-sikap pasukan Turki ini kemungkinan besar ditunjang oleh adat istiadat, budaya, dan pola pikir mereka yang jauh dari bentuk budaya dan pola pikir islami yang tetap mereka amalkan meski telah memeluk islam. Hal ini bisa dibanding dengan beberapa suku bangsa lain yang membaurkan adat mereka dengan islam sehingga wajah islam di setiap bangsa menjadi berbeda, seperti bangsa Kurdi, Drus, dan lain sebagainya di Timur Tengah, atau pembauran islam dengan budaya jawa di Indonesia yang susah dikatakan bentuknya, apakah islam yang di-jawa-kan atau jawa yang di-islam-kan. Keadaan seperti ini perlu diperhatikan dengan seksama, karena meskipun sebagian besar berakhir dengan terlihat baik dan damai walaupun dengan membentuk pola pikir dan budaya yang salah, tetapi agaknya pada kasus orang-orang Turki pada masa-masa tersebut adalah salah satu hasil silang budaya yang sangat jelek karena sebagian besar mereka ini adalah orang-orang kasar budak belian bukan dari kalangan bangsawan Turki yang lebih halus adabnya. Diperparah lagi mereka ini meskipun jumlah suara lebih sedikit dari kebanyakan umat islam, namun kekuatan mereka sebagai pasukan yang memiliki persenjataan dan fasilitas di istana membuat pengaruh budaya Turki terhadap islam ini bahkan mencapai wilayah yang sangat dekat dengan tempat kelahiran islam itu sendiri. Dari sinilah pada akhirnya nama islam yang penuh kejujuran dan kebudayaan tinggi menjadi hancur lebih cepat daripada masa-masa sebelumnya.

Dengan semakin meningkatnya intrik di pusat pemerintahan hasil karya orang Turki, banyak Bani-Bani di daerah-daerah yang jauh dari Baghdad melakukan pemberontakan. Mulai dari kaum Alawiyyin, Bani Thahiriyah, Bani Saffar, Bani Saman, dan lain sebagainya yang pada dasarnya mereka itu adalah keluarga-keluarga terhormat yang lebih didukung oleh penduduk di wilayah masing-masing daripada penguasa-penguasa Turki yang dikirim untuk jadi wali atau gubernur wilayah.

Pada awal-awal tahun 900M, situasi di pusat pemerintahan semakin buruk, yang akhirnya membuat khalifah pada masa itu dengan terpaksa meminta pertolongan penguasa lain yaitu ke negeri Dailam yang berada di selatan Persia, sepanjang pesisir laut Kaspia yang dipimpin oleh Bani Buaihi bermadhab Syiah. Penguasa utama mereka pada saat itu adalah tiga orang putra keturunan Buaihi yang bernama Ali, Hasan, dan Ahmad. Dengan keputusan khalifah Abbasiyah meminta bantuan Bani Buaihi ini, pengaruh Turki mulai dapat ditekan. Meskipun demikian, khalifah Bani Abbas pada saat itu hanyalah boneka semata, sedangkan penguasa sebenarnya yang mengatur situasi di Baghdad adalah Bani Buaihi, yang mungkin jika dibandingkan dengan keadaan saat ini adalah pemerintahan yang dipegang oleh Presiden dan Perdana Menteri atau Kaisar Jepang yang sekedar menjadi simbol dengan Perdana Menterinya yang menguasai parlemen. Penguasaan Bani Buaihi atas Abbasiyah secara makro ternyata malah semakin menyulut huru-hara lebih besar lagi, yaitu antara Syiah dengan Sunni, orang Arab dengan Turki, dan juga Islam dengan Byzantium yang bahkan pada masa itu mampu mencapai Sungai Euphrat.

Hingga disini, jika kita cermati, sudah memperlihatkan situasi bahwa pada masa sekitar 800-900M, sudah terbentuk pengkotak-kotakan negara-negara islam yang disatu pihak disebabkan adanya serangan luar dan campur tangan budaya luar islam, tapi di pihak lain juga sangat jelas disebabkan oleh adanya perang saudara, saling mencaplok wilayah sesama umat islam untuk tujuan harta dan kekuasaan semata. Dengan berkembangnya permasalahan di Baghdad, pada tahun 351H / 962M seorang panglima Turki bekas budak belian yang bernama Albatekin bukannya membantu khalifah menyelesaikan masalah tetapi bersama pasukannya mendirikan pemerintahan beru dan merdeka dari kekuasaan Baghdad yaitu di Ghaznah yang pada saat ini merupakan wilayah Afganistan, dan kemudian mereka dinamakan sebagai Daulat Ghaznawiyah.

Selain itu, masih pada sekitar tahun 960M, sekali lagi sikap tidak loyal ditunjukkan oleh orang Turki, seorang panglima Turki yang bernama Saljuk bukannya membantu khalifah di Baghdad, tetapi malah menyerang dan mencaplok wilayah kekuasaan khalifah, sehingga pada tahun 447H / 1055M dimasa cucunya yang bernama Throgolbek, resmi mendirikan Daulat Bani Saljuk yang berkuasa atas hampir seluruh wilayah Abbasiyah. Pada saat kejadian ini, khalifah Abbasiyah yang berkuasa adalah Al Qaim dan Sultan Bani Buaihi terakhir yang bernama Sultan Al Malikur Rahman.

Mengenai keluarga Saljuk ini yang perlu menjadi perhatian adalah:
1. Keluarga ini bukanlah keluarga yang dididik secara islam. Penguasa Saljuk baru memeluk islam ketika telah menguasai hampir seluruh wilayah khilafah Abbasiayah.
2. Penguasaan Bani Saljuk atas wilayah Abbasiyah tidak menjadikan keluarga Abbasiyah disingkirkan, tetapi tetap dijadikan simbol kekuasaan di Baghdad.
3. Kemungkinan pencaplokan wilayah Abbasiyah semakin lancar dengan islamnya penguasa Bani Saljuk dan bermadhab Sunni, sehingga mampu mengambil hati penduduk untuk mendukung mereka melawan Bani Buaihi bermadhad Syiah yang berkuasa di Baghdad.
4. Pada masa Bani Saljuk berkuasa, mulai meletus perang Salib, yaitu pada tahun 1095M. Jika ada yang beranggapan perang salib telah terjadi sebelum itu kemungkinan kuang tepat, karena perang-perang islam sebelum itu terjadi hanya sebatas antara islam dengan keajaan eropa tertentu saja yang mencoba memasuki batas wilayah islam. Sedangkan pada perang salib yang pertama adalah persatuan banyak kerajaan eropa atas komando langsung dari Paus di Roma. Perang salib ini berawal dari sentimen negatif terhadap tentara islam yang dikatakan berlaku sewenang-wenang terhadap peziarah kristen yang berkunjung ke Yerussalem. Apakah kita akan membantahnya? Sebaiknya menelaah lebih lanjut terlebih dahulu, karena pada masa itu yang berkuasa di sepanjang wilayah Palestian, hingga Syria, bahkan hingga Asia Tengah adalah tentara Turki yang dalam pembahasan sebelumnya telah terbukti banyak berperilaku tidak manusiawi dan sewenang-wenang terhadap saudara sendiri sesama islam, apalagi terhadap orang yang beragama lain, kemungkinan akan lebih parah.
5. Setelah keluarga Saljuk berkuasa selama kurang lebih 100 tahun, mulai terjadi intrik dengan keluarga Ottoman sesama keturunan Turki.

Bani Saljuk yang mulai terpecah-pecah karena keturunannya saling berebut kekuasaan semenjak kurang kebih tahun 1104M, diperparah dengan terjadinya perebutan kekuasaan dengan Bani Ottoman. Dan setelah berperang selama beberapa tahun dengan Ottoman, Bani Saljuk mulai surut kekuatannya, wilayahnya banyak terjadi pemberontakan dari sesama umat islam, dan juga adanya rongrongan dari kerajaan-kerajaan tetangga, yaitu eropa dengan pasukan sekutu dalam komando perang salib, dan juga pasukan Mongol yang terus merangsek masuk wilayah islam. Dan akhirnya sampailah kita pada tahun 1258M dimana pada saat itu Baghdad dihancurkan oleh tentara Mongol dibawah pimpinan Holako Khan. Penghancuran ini oleh beberapa pihak dinyatakan sebagai hari dimana kekhalifahan islam hancur, karena umat islam selanjut terkotak-kotak menjadi kerajaan-kerajaan kecil saja. Menurut cerita yang berkembang, penghancuran Baghdad oleh pasukan Mongol bukannya tanpa alasan, tetapi dikisahkan bahwa beberapa tahun sebelum kejadian tersebut ada seorang putra pejabat di Baghdad yang telah melakukan tindakan tercela terhadap anak keturunan Mongol. Tindakan kesewenang-wenangan ini tidak berhenti sampai disini, karena ternyata setelah sampai ke pengadilan sang putra pejabat ini dibebaskan dari hukuman sehingga menyulut kemarahan penguasa Mongol. Itulah kenapa kita tidak mendengar adanya penghancuran total terhadap kota-kota islam yang dilalui tentara Mongol sekejam penghancuran Baghdad. Perlu diingat, bahwa untuk menyerang Baghdad, pasukan Mongol dari perbatasan wilayah mereka harus melewati banyak sekali kota-kota islam lainnya yang ternyata tidak banyak dihancurkan oleh pasukan Mongol ini.


Selentingan yang bahkan lebih jauh lagi menyatakan bahwa ada kemunginan sebenarnya yang bermain disini adalah orang-orang Ottoman. Setelah berperang dengan Bani Saljuk bertahun-tahun, orang-orang Ottoman akhirnya menjalankan siasat tipu muslihat yaitu membohongi bangsa Mongol dengan melakukan tindakan semena-mena terhadap anak keturunan Mongol dan kemudian dihembuskanlah berita bahwa yang melakukan tindakan tercela tersebut adalah putra pejabat Baghdad yang tentu saja dengan demikian selain orang-orang Abbasiyah juga orang-orang Saljuk akan terbinasakan. Kemungkinan besar pasukan Otoman turut serta dalam penghancuran Baghdad, sehingga pasukan Ottoman tidak turut dihancurkan seperti pasukan Abbasiyah dan Saljuk dengan pembagian Bani Saljuk mendapat wilayah Abbasiyah, dan Mongol mendapat segenap harta rampasan. Atau ada kemungkinan lain, yaitu beberapa saat sesudah pasukan Mongol berhasil menguasai Baghdad dan berpesta kemenangan, pasukan Ottoman yang pada awalnya menghindari jalur perjalanan pasukan Mongol dalam menyerang Baghdad, dengan segera melakukan penyerangan terhadap pasukan Mongol sehingga kocar-kacir dan melarikan diri kembali ke perbatasan wilayah mereka. Bentuk siasat semacam ini pada beberapa tahun kemudian, yaitu kurang lebih pada tahun 1290M di tanah jawa juga dipakai oleh pendiri Majapahit untuk mengalahkan musuhnya dari Singasari dengan tipu muslihat terhadap pasukan Tiongkok, dan kemudian menyerang mereka pada saat berpesta kemenangan sehingga dengan sendirinya akan terhalau pulang ke wilayah mereka sendiri, yaitu Tiongkok. Sedangkan pada kejadian tahun 1258M, penguasa Baghdad dari Abbasiyah maupun dari Saljuk dibantai secara menyeluruh, gedung-gedung madasah, masjid, perpustakaan, pusat kebudayaan, semua dihancurkan, dibakar, dan sebagian besar buku-buku ilmu pengetahuan dan budaya dihanyutkan ke S. Tigris.

Dari segenap penjelasan diatas membuktikan bahwa dalam hampir semua masalah mulai tahun 850M hingga peristiwa besar penghancuran Baghdad, dan peristiwa-peristaiwa bertahun-tahun kemudian antara islam dengan perang salib yang terjadi berkali-kali selalu di dalangi oleh orang-orang Turki, sehingga terlihat jelas bahwa pangkal masalah sebenarnya adalah orang-orang Turki dan pasukan Turki. Tragedi ini merupakan mata rantai dekadensi moral yang melibatkan islam dan sebuah bangsa besar penguasa daratan asia dan eropa yang seharusnya menjadi contoh kejujuran dan ketinggian akhlak serta kebudayaan yang besar seperti pada masa nabi saw dan para sahabatnya. Namun pada akhirnya semua lenyap dengan begitu cepat setelah orang-orang Turki menjadi pemegang senjata dan kekuasaan dalam tatanan islam.

Nah, dari urutan-urutan yang tercantum diatas, apakah masih pantas bagi kita untuk mempertahankan pendapat bahwa khilafah islam hancur pada tahun 1924M dibawah kekuasaan Turki Ottoman. Ataukah kita jadi percaya bahwa pada dasarnya kekuasan Ottoman hanya sebuah kerajaan belaka sama dengan kerajaan lainnya diseluruh dunia, hanya saja kebetulan sekali agama yang dianutnya adalah islam? Mengapa kita tidak pernah berusaha melihat dan memahami khilafah islam lainnya yang pada masanya jauh lebih baik kebudayaan islamnya dan lebih pantas disebut sebagai khilafah yang sebenarnya. Ambillah contoh khilafah Andalusia yang dipimpin sisa-sisa keturunan Bani Umayyah bebas dari penguasaan Bani Abbasiyah maupun kekuasaan Turki dan mampu bertahan hingga sekitar tahun 1400M, atau pemerintahan Bani-Bani di Mesir, juga pemerintahan di Iran yang bertahan hingga tahun 1979M pada masa dinasti Pahlevi, atau juga Kesultanan di tanah Jawa, apakah mereka juga tidak pantas untuk diperhitungkan? Mengapa harus dinasti Ottoman Turki yang diakui sebagai kekhalifahan terakhir islam? Padahal menurut berbagai catatan menunjukkan tingginya dekadensi moral pada masa dinasti ini yang bahkan pada saat kehancurannya tahun 1924M, pejabat-pejabatnya sebagian besar adalah pemabuk, penjudi, koruptor, dan lain sebagainya yang menunjukkan perilaku mereka yang sangat kotor. Ataukah hanya karena dinasti ini punya tentara terkuat diantara kerajaan-keajaan islam lainnya yang telah terkotak-kotak kecil dan loyo tanpa tenaga sama sekali sehingga gampang dipermainkan pihak eropa? Ataukah hanya sebuah keyakinan tanpa dasar dari orang awam yang kurang paham sejarah dan sekarang mendominasi jumlah suara umat islam?

Wallahu a`lam bishawab.

Masih banyak lagi hal-hal dalam sejarah Islam yang bisa diambil hikmah dan teladan bagi kehidupan, sehingga kita tahu dan mengerti berbagai khazanah sejarah Islam.

T h i n k ! ! ! ! ! !
T h i n k ! ! ! ! ! !
T h i n k ! ! ! ! ! !
And always …… become a thinkers.

Saya akan sangat senang jika ada pembaca yang memberikan timbal balik berupa komentar terhadap tulisan ini sehingga kita bisa berbagi wacana dan terus berfikir, berfikir, berfikir, dan tetap selalu berfikir dengan objektifitas tinggi. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Amien.

Amiiruka

Desember 3, 2006


Pernahkah anda mendengar tentang kemajuan peradaban Islam pada abad-abad pertengahan masehi?? Jika anda pernah mendengarnya, percayakah dengan pernyataan tersebut?? Banyak orang mengatakan bahwa penemu ilmu kedokteran modern adalah ilmuwan Islam, perbintangan oleh ilmuwan Islam, anatomi tubuh, catalog tanaman, dan berbagai penemuan lainnya yang menjadi dasar ilmu modern adalah oleh ilmuwan Islam.

Sebagian orang memang ada yang percaya, dan ada sebagian lainnya ada yang apriori dan menganggap pernyataan-pernyataan tersebut penuh kebohongan atau terlalu berlebihan. Memang pada dasarnya sebagian ilmuwan Islam telah dimasukkan sebagai founding father pada beberapa ilmu pengetahuan modern, semacam Ibnu Sina, Aljabar, dan lain sebagai yang hal ini dikarenakan buku-buku mereka pada masa sekarang ini masih dapat dijumpai di sejumlah museum Eropa. Anda tentu ingat bahwa pada masa kemajuan peradaban Islam dahulu, Eropa masih dalam keadaan terbelakang sebagai negara dunia ketiga yang bahkan London aatau Paris pada masa abad pertengahan dikatakan belum mampu mengatur jalan-jalan utama yang penuh lumpur dan genangan air kotor yang kemudian menyebabkan wabah penyakit yang sungguh kritis ketika jumlah penduduknya makin bertambah. Lorong-lorongnya yang sempit dan kurang penerangan, prosentase penduduk yang buta huruf sangat tinggi, dan lain sebagainya yang memberikan kesan dan memang membuktikan bahwa Eropa pada masa itu adalah negara dunia ketiga.

Banyak hal yang jika anda fikirkan secara objektif akan terbukti bahwa masih banyak hal dan banyak kejadian serta bukti kemajuan peradaban Islam yang disembunyikan keberadaannya dan pada akhirnya dikatakan sebagai hasil karya pemuka dan ilmuwan masyarakat Eropa. Ini tidak lain karen memang bukti sejarah berupa buku, artifak, dan lain sebagainya yang pada masa-masa dahulu dimusnahkan. Anda tentu ingat bahwa Baghdad sebagia pusat peradaban yang memiliki ribuan perpustakaan yang buku-bukunya dibakar dan sebagian dibuang ke sungai euphrat oleh serangan barbar. Begitu pula khasanah kebudayaan dan perpustakaan-perpustakaan di Andalusia yang pada salah satu episode perang salib telah dibumihanguskan (kecuali istana khalifah dan beberapa masjid yang kemudian diubah menjadi gereja maupun istal). Pada masa itu Andalusia menjadi acuan dan penelitian oleh ilmuwan barat yang hendak belajar berbagai pengetahuan yang telah diketemukan oleh ilmuwan-ilmuwan Islam. Andalusia pada saat ini telah dijadikan sebuah negara yang bernama Spanyol.

Ada sebuah berita atau mungkin cerita (pada paragraph diatas telah saya tulis bahwa masih banyak kejadian dan bukti peradaban Islam yang hilang atau sengaja dihilangkan) yang disampaikan kepada saya bahwa dahulu pada masa terjadi perang salib ada tawanan-tawanan perang diantara kedua belah pihak. Pada cerita ini dikisahkan bahwa ada seorang perwira dan beberapa serdadu angkatan laut Islam yang berhasil ditawan oleh tentara salib. Perwira Islam ini dikatakan membawa sebuah peta yang bergambar kepulauan luas melebihi daratan Eropa dan Asia saja juga digambar secara mendetail dan pada tiap-tiap bagiannya dibatasi oleh garis-garis yang membujur ke arah kanan-kiri dan atas-bawah (saat ini dikenal dengan garis bujur dan garis lintang). Pada saat itu, perwira tentara salib yang melihat peta ini berusaha untuk membacanya, namun karena dia bukan ahli bahasa arab maka dia membacanya terbalik. Ini dikarenakan jika anda cermati, tulisan bahasa Arab yang terbalik akan mirip dengan tulisan Eropa pada abad pertengahan yang ditulis indah yang biasa digunakan dalam format tulisan resmi mereka. Ditambah lagi peta yang ada bangsa Eropa meskipun belum lengkap dan berisi hanya seputar daratan Eropa dan sedikit Asia saja yang mendetail, berformat arah utara berada diatas, sehingga dengan keadaan terbalik tersebut penempatan daratan Eropa dan sekitar menjadi sama dengan peta mereka. Jadi pada dasarnaya peta awal Islam yang kemungkinan merupakan peta jalur angkatan laut Islam ini berketentuan arah selatan berada diatas. Selanjutnya, peta ini disalin oleh ilmuwan mereka yang paham dengan bahasa arab, namun dengan format yang sudah mereka pahami sebelumnya yaitu menetapkan arah utara dibagian atas dan menjadi ketetapan hingga saat ini.


Singkat cerita, peta ini kemudian berada ditangan Colombus yang ditugaskan mencari daratan yang belum pernah mereka ketemukan sebelumnya yang pada waktu itu sudah ada dalam peta Islam. Colombus terkenal sebagai penemu dunia baru yang kemudian dinamakan Amerika. Pada pelayarannya mencari Amerika ini, Colombus juga membawa perwira Islam yang menjadi tawanan perang tersebut untuk menjadi penunjuk arah. Bagian cerita ini menurut desas desus juga masih ada buktinya, namun disembunyikan oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Dalam perjalanannya ini, akhirnya sampailah mereka ini ke daratan baru yang bagi orang Eropa masih sangat asing dan menakutkan (ingatlah bahwa pada masa itu, orang Eropa berkeyakinan bahwa bumi berbentuk kotak, sehingga siapa yang terlalu jauh melakukan pelayaran akan jatuh ke dalam jurang dipinggir dunia). Sedangkan Islam pada masa itu sudah meyakini bahwa bumi itu bulat.


Pada saat menemukan daratan baru ini, orang Eropa ini saling bersengketa, siapa yang berhak atas tanah tersebut, sebagian beranggapan bahwa karena terlalu jauh dari wilayah Eropa dan jauh dari raja mereka, maka mereka berusaha menguasainya sendiri. Namun, sebagian yang lain mengatakan bahwa tanah tersebut tetap dipersembahkan bagi raja mereka, dan tentunya mereka berharap akan mendapatkan imbalan dari raja mereka. Dalam perselisihan ini, sang perwira Islam mengatakan: “haadza li amiiruka”, yang artinya adalah: “Ini menjadi milik raja kamu” dan sambil menunjuk ke arah yang lainnya, dia berkata: “wa qoriibiyyun hunaaka”, yang artinya: “dan orang-orang terdekatnya berada disebelah sana” (maksudnya adalah orang dekat raja, yaitu mereka yang diutus mencari dunia baru tersebut). Ketika perwira Islam mengatakan “amiiruka”, selanjutnya diucapkan oleh pelaut-pelaut Eropa tersebut menjadi “Amerika”. Begitu pula dengan kata-kata “qoriibiyyun” yang kemudian diucapkan menjadi “Karibia” yang pada akhirnya menjadi nama kepulauan disana.

Masih banyak lagi hal-hal dalam sejarah Islam yang bisa diambil hikmah dan teladan bagi kehidupan, sehingga kita tahu dan mengerti bahwa ilmuwan Islam adalah pembentuk dan penemu dasar-dasar ilmu pengetahuan modern.

T h i n k ! ! ! ! ! !
T h i n k ! ! ! ! ! !
T h i n k ! ! ! ! ! !
And always …….
T h i n k ! ! ! ! ! !
Saya akan sangat senang jika ada pembaca yang memberikan timbal balik berupa komentar terhadap tulisan ini sehingga kita bisa berbagi wacana dan terus berfikir, berfikir, berfikir, dan tetap selalu berfikir dengan objektifitas tinggi. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Amien.

Forty Hadith Qudsi

Desember 2, 2006


In the Name of Allah, the Most Compassionate, the Most Merciful
Forty Hadith Qudsi

——————————————————————————–

Introduction
The following is a collection of 40 Hadith Qudsi. But what is Hadith Qudsi and how do they differ from other Hadith? The following discussion is given in the introduction to the book titled “Forty Hadith Qudsi” published by: Revival of Islamic Heritage Society, Islamic Translation Center, P.O.Box 38130, Aldahieh, Kuwait.

Hadith Qudsi are the sayings of the Prophet Muhammad (Peace and Blessings of Allah be upon him) as revealed to him by the Almighty Allah. Hadith Qudsi (or Sacred Hadith) are so named because, unlike the majority of Hadith which are Prophetic Hadith, their authority (Sanad) is traced back not to the Prophet but to the Almighty.

Among the many definitions given by the early scholars to Sacred Hadith is that of as-Sayyid ash-Sharif al-Jurjani (died in 816 A.H.) in his lexicon At-Tarifat where he says: “A Sacred Hadith is, as to the meaning, from Allah the Almighty; as to the wording, it is from the messenger of Allah . It is that which Allah the Almighty has communicated to His Prophet through revelation or in dream, and he, peace be upon him, has communicated it in his own words. Thus Qur’an is superior to it because, besides being revealed, it is His wording.”

Hadith Collection

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 1:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said:

When Allah decreed the Creation He pledged Himself by writing in His book which is laid down with Him: My mercy prevails over my wrath.

It was related by Muslim (also by al-Bukhari, an-Nasa’i and Ibn Majah).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 2:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said: Allah Almighty has said:

The son of Adam denied Me and he had no right to do so. And he reviled Me and he had no right to do so. As for his denying Me, it is his saying: He will not remake me as He made me at first (1) – and the initial creation [of him] is no easier for Me than remaking him. As for his reviling Me, it is his saying: Allah has taken to Himself a son, while I am the One, the Everlasting Refuge. I begot not nor was I begotten, and there is none comparable to Me.

(1) i.e., bring me back to life after death.

It was related by al-Bukhari (also by an-Nasa’i).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 3:
On the authority of Zayd ibn Khalid al-Juhaniyy (may Allah be pleased with him), who said:

The Messenger of Allah (may the blessings and peace of Allah be upon him) led the morning prayer for us at al-Hudaybiyah following rainfall during the night. When the Prophet (may the blessings and peace of Allah be upon him) finished, he faced the people and said to them: Do you know what your Lord has said? They said: Allah and his Messenger know best. He said: This morning one of my servants became a believer in Me and one a disbeliever. As for him who said: We have been given rain by virtue of Allah and His mercy, that one is a believer in Me, a disbeliever in the stars (2); and as for him who said: We have been given rain by such-and-such a star, that one is a disbeliever in Me, a believer in the stars.

(2) The pre-Islamic Arabs believed that rain was brought about by the movement of stars. This Hadith draws attention to the fact that whatever be the direct cause of such natural phenomena as rain, it is Allah the Almighty who is the Disposer of all things.

It is related by al-Bukhari (also by Malik and an-Nasa’i).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 4:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said: Allah said:

Sons of Adam inveigh against [the vicissitudes of] Time, and I am Time, in My hand is the night and the day (1).

(1) As the Almighty is the Ordainer of all things, to inveigh aginst misfortunes that are part of Time is tantamount to inveighing against Him.

It was related by al-Bukhari (also by Muslim).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 5:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said: Allah (glorified and exalted be He) said:

I am so self-sufficient that I am in no need of having an associate. Thus he who does an action for someone else’s sake as well as Mine will have that action renounced by Me to him whom he associated with Me.

It was related by Muslim (also by Ibn Majah).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 6:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said: I heard the Messenger of Allah say:

The first of people against whom judgment will be pronounced on the Day of Resurrection will be a man who died a martyr. He will be brought and Allah will make known to him His favours and he will recognize them. [ The Almighty] will say: And what did you do about them? He will say: I fought for you until I died a martyr. He will say: You have lied – you did but fight that it might be said [of you]: He is courageous. And so it was said. Then he will be ordered to be dragged along on his face until he is cast into Hell-fire. [Another] will be a man who has studied [religious] knowledge and has taught it and who used to recite the Quran. He will be brought and Allah will make known to his His favours and he will recognize them. [The Almighty] will say: And what did you do about them? He will say: I studied [religious] knowledge and I taught it and I recited the Quran for Your sake. He will say: You have lied – you did but study [religious] knowledge that it might be said [of you]: He is learned. And you recited the Quran that it might be said [of you]: He is a reciter. And so it was said. Then he will be ordered to be dragged along on his face until he is cast into Hell-fire. [Another] will be a man whom Allah had made rich and to whom He had given all kinds of wealth. He will be brought and Allah will make known to his His favours and he will recognize them. [The Almighty] will say: And what did you do about them? He will say: I left no path [untrodden] in which You like money to be spent without spending in it for Your sake. He will say: You have lied – you did but do so that it might be said [of you]: He is open-handed. And so it was said. Then he will be ordered to be dragged along on his face until he is cast into Hell-fire.

It was related by Muslim (also by at-Tirmidhi and an-Nasa’i).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 7:
On the authority of Uqbah ibn Amir (may Allah be pleased with him), who said: I heard the messenger of Allah say:

Your Lord delights at a shepherd who, on the peak of a mountain crag, gives the call to prayer and prays. Then Allah (glorified and exalted be He) say: Look at this servant of Mine, he gives the call to prayer and performs the prayers; he is in awe of Me. I have forgiven My servant [his sins] and have admitted him to Paradise.

It was related by an-Nasa’i with a good chain of authorities.

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 8:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him) from the Prophet , who said:

A prayer performed by someone who has not recited the Essence of the Quran (1) during it is deficient (and he repeated the word three times), incomplete. Someone said to Abu Hurayrah: [Even though] we are behind the imam? (2) He said: Recite it to yourself, for I have heard the Prophet (may the blessings and peace of Allah be up on him) say: Allah (mighty and sublime be He), had said: I have divided prayer between Myself and My servant into two halves, and My servant shall have what he has asked for. When the servant says: Al-hamdu lillahi rabbi l-alamin (3), Allah (mighty and sublime be He) says: My servant has praised Me. And when he says: Ar-rahmani r-rahim (4), Allah (mighty and sublime be He) says: My servant has extolled Me, and when he says: Maliki yawmi d-din (5), Allah says: My servant has glorified Me – and on one occasion He said: My servant has submitted to My power. And when he says: Iyyaka na budu wa iyyaka nasta in (6), He says: This is between Me and My servant, and My servant shall have what he has asked for. And when he says: Ihdina s-sirata l- mustaqim, siratal ladhina an amta alayhim ghayril-maghdubi alayhim wa la d-dallin (7), He says: This is for My servant, and My servant shall have what he has asked for.

(1) Surat al-Fatihah, the first surah (chapter) of the Qur’an.

(2) i.e. standing behind the imam (leader) listening to him reciting al-Fatihah.

(3) “Praise be to Allah, Lord of the Worlds.”

(4) “The Merciful, the Compassionate”.

(5) “Master of the Day of Judgement”.

(6) “It is You we worship and it is You we ask for help”.

(7) “Guide us to the straight path, the path of those upon whom You have bestowed favors, not of those against whom You are angry, nor of those who are astray”.

It was related by Muslim (also by Malik, at-Tirmidhi, Abu-Dawud, an-Nasa’i and Ibn Majah).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 9:
On the authority of Abu Harayrah (may Allah be pleased with him) from the Prophet , who said: Allah (mighty and sublime be He) says:

The fist of his actions for which a servant of Allah will be held accountable on the Day of Resurrection will be his prayers. If they are in order, then he will have prospered and succeeded: and if they are wanting, then he will have failed and lost. If there is something defective in his obligatory prayers, the Lord (glorified and exalted be He) will say: See if My servant has any supererogatory prayers with which may be completed that which was defective in his obligatory prayers. Then the rest of his actions will be judged in like fashion.

It was related by at-Tirmidhi (also by Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibn Majah and Ahmad).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 10:
On the authority of Abu Harayrah (may Allah be pleased with him) from the Prophet , who said: Allah (mighty and sublime be He) says:

Fasting is Mine and it I who give reward for it. [A man] gives up his sexual passion, his food and his drink for my sake. Fasting is like a shield, and he who fasts has two joys: a joy whin he breaks his fast and a joy when he meets his Lord. The change in the breath of the mouth of him who fasts is better in Allah’s estimation than the smell of musk.

It was related by al-Bukhari (also by Muslim, Malik, at-Tirmidhi, an-Nasa’i and Ibn Majah).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 11:
On the authority of Abu Harayrah (may Allah be pleased with him) from the Prophet , who said: Allah (mighty and sublime be He) said:

Spend (on charity), O son of Adam, and I shall spend on you.

It was related by al-Bukhari (also by Muslim).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 12:
On the authority of Abu Mas’ud al-Ansari (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah (may the blessings and peace of Allah be upon him) said:

A man from among those who were before you was called to account. Nothing in the way of good was found for him except that he used to have dealings with people and, being well-to-do, he would order his servants to let off the man in straitened circumstances [from repaying his debt]. He (the Prophet p.b.u.h) said that Allah said: We are worthier than you of that (of being so generous). Let him off.

It was related by Muslim (also by al-Bukhari and an-Nasa’i).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 13:
On the authority of Adiyy ibn Hatim (may Allah be pleased with him), who said:

I was with the Messenger of Allah (may the blessings and peace of Allah be upon him) and there came to him two men: one of them was complaining of penury (being very poor), while the other was complaining of brigandry (robbery). The Messenger of Allah (may the blessings and peace of Allah be upon him) said: As for brigandry, it will be but a short time before a caravan will [be able to] go out of Mecca without a guard. As for penury, the Hour (Day of Judgement) will not arrive before one of you takes his charity around without finding anyone to accept it from him. Then (1) one of you will surely stand before Allah, there being no screed between Him and him, nor an interpreter to translate for him. Then He will say to him: Did I not bring you wealth? And he will say: Yes. Then He will say: Did I not send to you a messenger? And he will say: Yes. And he will look to his right and will see nothing but Hell-fire, then he will look to his left and will see nothing but Hell-fire, so let each of you protect himself against Hell-fire, be it with even half a date – and if he finds it not, then with a kind word.

(1) i.e. at the time of the Hour. It was related by al-Bukhari.

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 14:
On the authority of Abu Harayrah (may Allah be pleased with him) from the Prophet , who said:

Allah (glorified and exalted be He) has supernumerary angels who rove about seeking out gatherings in which Allah’s name is being invoked: they sit with them and fold their wings round each other, fillin that which is between them and between the lowest heaven. When [the people in the gathering] depart, [the angels] ascend and rise up to heaven. He (the Prophet p.b.u.h.) said: Then Allah (mighty and sublime be He) asks them – [though] He is most knowing about them: From where have you come? And they say: We have come from some servants of Yours on Earth: they were glorifying You (Subhana llah), exalting you (Allahu akbar), witnessing that there is no god but You (La ilaha illa llah), praising You (Al-Hamdu lillah), and asking [favours] of You. He says: And what do they ask of Me? They say: They ask of You Your Paradise. He says: And have they seen My Paradise? They say: No, O Lord. He says: And how would it be were they to have seen My Paradise! They say: And they ask protection of You. He says: From what do they ask protection of Me? They say: From Your Hell-fire, O Lord. He says: And have they seen My Hell-fire? They say: NO. He says: And how would it be were they to have seen My Hell-fire: They say: And they ask for Your forgiveness. He (the Prophet p.b.u.h) said: Then He says: I have forgiven them and I have bestowed upon them what they have asked for,and I have granted them sanctuary from that from which they asked protection. He (the Prophet p.b.u.h) said: They say: O Lord, among then is So-and-so, a much sinning servant, who was merely passing by and sat down with them. He (the Prophet p.b.u.h) said: And He says: And to him [too] I have given forgiveness: he who sits with such people shall not suffer.

It was related by Muslim (also by al-Bukhari, at-Tirmidhi, and an-Nasa’i).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 15:
On the authority of Abu Harayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Prophet said: Allah the Almighty said:

I am as My servant thinks I am (1). I am with him when he makes mention of Me. If he makes mention of Me to himself, I make mention of him to Myself; and if he makes mention of Me in an assembly, I make mention of him in an assemble better than it. And if he draws near to Me an arm’s length, I draw near to him a fathom’s length. And if he comes to Me walking, I go to him at speed.

(1) Another possible rendering of the Arabic is: “I am as My servant expects Me to be”. The meaning is that forgiveness and acceptance of repentance by the Almighty is subject to His servant truly believing that He is forgiving and merciful. However, not to accompany such belief with right action would be to mock the Almighty.

It was related by al-Buhkari (also by Muslim, at-Tirmidhi and Ibn-Majah).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 16:
On the authority of son of Abbas (may Allah be pleased with them both), from the Messenger of Allah , among the sayings he related from his Lord (glorified and exalted be He) is that He said:

Allah has written down the good deeds and the bad ones. Then He explained it [by saying that] he who has intended a good deed and has not done it, Allah writes it down with Himself as a full good deed, but if he has intended it and has done it, Allah writes it down with Himself as from ten good deeds to seven hundred times, or many times over. But if he has intended a bad deed and has not done it, Allah writes it down with Himself as a full good deed, but if he has intended it and has done it, Allah writes it down as one bad deed.

It was related by al-Bukhari and Muslim.

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 17:
On the authority of Abu Dharr al-Ghifari (may Allah be pleased with him) from the Prophet is that among the sayings he relates from his Lord (may He be glorified) is that He said:

O My servants, I have forbidden oppression for Myself and have made it forbidden amongst you, so do not oppress one another. O My servants, all of you are astray except for those I have guided, so seek guidance of Me and I shall guide you, O My servants, all of you are hungry except for those I have fed, so seek food of Me and I shall feed you. O My servants, all of you are naked except for those I have clothed, so seek clothing of Me and I shall clothe you. O My servants, you sin by night and by day, and I forgive all sins, so seek forgiveness of Me and I shall forgive you. O My servants, you will not attain harming Me so as to harm Me, and will not attain benefitting Me so as to benefit Me. O My servants, were the first of you and the last of you, the human of you and the jinn of you to be as pious as the most pious heart of any one man of you, that would not increase My kingdom in anything. O My servants, were the first of you and the last of you, the human of you and the jinn of you to be as wicked as the most wicked heart of any one man of you, that would not decrease My kingdom in anything. O My servants, were the first of you and the last of you, the human of you and the jinn of you to rise up in one place and make a request of Me, and were I to give everyone what he requested, that would not decrease what I have, any more that a needle decreases the sea if put into it. O My servants, it is but your deeds that I reckon up for you and then recompense you for, so let him finds good praise Allah and let him who finds other that blame no one but himself.

It was related by Muslim (also by at-Tirmidhi and Ibn Majah).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 18:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said: Allah (mighty and sublime be He) will say on the Day of Resurrection:

O son of Adam, I fell ill and you visited Me not. He will say: O Lord, and how should I visit You when You are the Lord of the worlds? He will say: Did you not know that My servant So-and-so had fallen ill and you visited him not? Did you not know that had you visited him you would have found Me with him? O son of Adam, I asked you for food and you fed Me not. He will say: O Lord, and how should I feed You when You are the Lord of the worlds? He will say: Did you not know that My servant So-and-so asked you for food and you fed him not? Did you not know that had you fed him you would surely have found that (the reward for doing so) with Me? O son of Adam, I asked you to give Me to drink and you gave Me not to drink. He will say: O Lord, how should I give You to drink whin You are the Lord of the worlds? He will say: My servant So-and-so asked you to give him to drink and you gave him not to drink. Had you given him to drink you would have surely found that with Me.

It was related by Muslim.

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 19:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said: Allah (mighty and sublime be He) said:

Pride is my cloak and greatness My robe, and he who competes with Me in respect of either of them I shall cast into Hell-fire.

It was related by Abu Dawud (also by Ibn Majah and Ahmad) with sound chains of authority. This Hadith also appears in Muslim in another version.

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 20:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said:

The gates of Paradise will be opened on Mondays and on Thursdays, and every servant [of Allah] who associates nothing with Allah will be forgiven, except for the man who has a grudge against his brother. [About them] it will be said: Delay these two until they are reconciled; delay these two until they are reconciled.

It was related by Muslim (also by Malik and Abu Dawud).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 21:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said that Allah the Almighty said:

There are three (1) whose adversary I shall be on the Day of Resurrection: a man who has given his word by Me and has broken it; a man who has sold a free man (2) and has consumed the price; and a man who has hired a workman, has exacted his due in full from him and has not given him his wage.

(1) i.e. types of men.

(2) i.e. a man who has made a slave of another and has sold him.

It was related by al-Bukhari (also by Ibn Majah and Ahmad ibn Hanbal).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 22:
On the authority of Abu Sa’id (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said:

Let not any one of you belittle himself. They said: O Messenger of Allah, how can any one of us belittle himself? He said: He finds a matter concerning Allah about which he should say something, and he does not say [it], so Allah (mighty and sublime be He) says to him on the Day of Resurrection: What prevented you from saying something about such-and-such and such-and-such? He say: [It was] out of fear of people. Then He says: Rather it is I whom you should more properly fear.

It was related by Ibn Majah with a sound chain of authorities.

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 23:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said: Allah will say on the Day of Resurrection:

Where are those who love one another through My glory? Today I shall give them shade in My shade, it being a day when there is no shade but My shade.

It was related by al-Bukhari (also by Malik).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 24:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said:

If Allah has loved a servant [of His] He calls Gabriel (on whom be peace) and says: I love So-and-so, therefore love him. He (the Prophet pbuh) said: So Gabriel loves him. Then he (Gabriel) calls out in heaven, saying: Allah loves So-and-so, therefore love him. And the inhabitants of heaven love him. He (the Prophet pbuh) said: Then acceptance is established for him on earth. And if Allah has abhorred a servant [of His], He calls Gabriel and says: I abhor So-and-so, therefore abhor him. So Gabriel abhors him. Then Gabriel calls out to the inhabitants of heaven: Allah abhors So-and-so, therefore abhor him. He (the Prophet pbuh) said: So they abhor him, and abhorrence is established for him on earth.

It was related by Muslim (also by al-Bukhari, Malik, and at-Tirmidhi).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 25:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said: Allah (mighty and sublime be He) said:

Whosoever shows enmity to someone devoted to Me, I shall be at war with him. My servant draws not near to Me with anything more loved by Me than the religious duties I have enjoined upon him, and My servant continues to draw near to Me with supererogatory works so that I shall love him. When I love him I am his hearing with which he hears, his seeing with which he sees, his hand with which he strikes and his foot with which he walks. Were he to ask [something] of Me, I would surely give it to him, and were he to ask Me for refuge, I would surely grant him it. I do not hesitate about anything as much as I hesitate about [seizing] the soul of My faithful servant: he hates death and I hate hurting him.

It was related by al-Bukhari.

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 26:
On the authority of Abu Umamah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said: Allah (mighty and sublime be He) said:

Truly of those devoted to Me the one I most favour is a believer who is of meagre means and much given to prayer, who has been particular in the worship of his Lord and has obeyed Him inwardly (1), who was obscure among people and not pointed our, and whose sustenance was just sufficient to provide for him yet he bore this patiently. Then the Prophet rapped his hand and said: Death will have come early to him, his mourners will have been few, his estate scant.

(1) i.e. he has not been ostentatious in his obedience.

It was related by at-Tirmidhi (also by Ahmad ibn Hanbal and Ibn Majah). Its chain of authorities is sound.

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 27:
On the authority of Masruq, who said:

We asked Abdullah (i.e. Ibn Masud) about this verse: And do not regard those who have been killed in the cause of Allah as dead, rather are they alive with their Lord, being provided for (Quran Chapter 3 Verse 169). He said: We asked about that and the Prophet said: Their souls are in the insides of green birds having lanterns suspended from the Throne, roaming freely in Paradise where they please, then taking shelter in those lanterns. So their Lord cast a glance at them (1) and said: Do you wish for anything? They said: What shall we wish for when we roam freely in Paradise where we please? And thus did He do to them three times. When they say that they would not be spared from being asked [again], they said: O Lord, we would like for You to put back our souls into our bodies so that we might fight for Your sake once again. And when He saw that they were not in need of anything they were let be.

(1) i.e. at those who had been killed in the cause of Allah.

It was related by Muslim (also by at-Tirmidhi, an-Nasa’i and Ibn Majah).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 28:
On the authority of Jundub ibn Abdullah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said:

There was amongst those before you a man who had a wound. He was in [such] anguish that he took a knife and made with it a cut in his hand, and the blood did not cease to flow till he died. Allah the Almighty said: My servant has himself forestalled Me; I have forbidden him Paradise.

It was related by al-Bukhari.

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 29:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said: Allah (mighty and sublime be He) says:

My faithful servant’s reward from Me, if I have taken to Me his best friend from amongst the inhabitants of the world and he has then borne it patiently for My sake, shall be nothing less than Paradise.

It was related by al-Bukhari.

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 30:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said: Allah (mighty and sublime be He) said:

If My servant likes to meet Me, I like to meet him; and if he dislikes to meet Me, I dislike to meet him. Prophetic explanation of this Sacred Hadith: He who likes to meet Allah, Allah likes to meet him; and he who dislikes to meet Allah, Allah dislikes to meet him. Aishah (may Allah be pleased with her) said: O Prophet of Allah, is it because of the dislike of death, for all of us dislike death? The Prophet said: It is not so, but rather it is that when the believer is given news of Allah’s mercy, His approval and His Paradise, he likes to meet Allah and Allah likes to meet him; but when the unbeliever is given news of Allah’s punishment and His displeasure, he dislikes to meet Allah and Allah dislikes to meet him.

It was related by al-Bukhari and Malik. The Prophetic version is related by Muslim.

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 31:
On the authority of Jundub (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah related:

A man said: By Allah, Allah will not forgive So-and-so. At this Allah the Almighty said: Who is he who swears by Me that I will not forgive So-and-so? Verily I have forgiven So-and-so and have nullified your [own good] deeds (1) (or as he said [it]).

(1) A similar Hadith, which is given by Abu Dawud, indicates that the person referred to was a goldly man whose previous good deeds were brought to nought through presuming to declare that Allah would not forgive someone’s bad deeds.

It was related by Muslim.

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 32:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said:

A man sinned greatly against himself, and when death came to him he charged his sons, saying: When I have died, burn me, then crush me and scatter [my ashes] into the sea, for, by Allah, if my Lord takes possession of me, He will punish me in a manner in which He has punished no one [else]. So they did that to him. Then He said to the earth: Produce what you have taken-and there he was! And He said to him: What induced you to do what you did? He said: Being afraid of You, O my Lord (or he said: Being frightened of You) and because of that He forgave him.

It was related by Muslim (also by al-Bukhari, an-Nasa’i and Ibn Majah).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 33:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him) that the Prophet , from among the things he reports from his Lord (mighty and sublime be He), is that he said:

A servant [of Allah's] committed a sin and said: O Allah, forgive me my sin. And He (glorified and exalted be He) said: My servant has committed a sin and has known that he has a Lord who forgives sins and punishes for them. Then he sinned again and said: O Lord, forgive me my sin. And He (glorified and exalted be He) said: My servant has committed a sin and has known that he has a Lord who forgives sins and punishes for them. Then he sinned again and said: O Lord, forgive me my sin. And He (glorified and exalted be He) said: My servant has committed a sin and has known that he has a Lord who forgives sins and punishes for sins. Do what you wish, for I have forgiven you.

It was related by Muslim (also by al-Bukhari).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 34:
On the authority of Anas (may Allah be pleased with him), who said: I heard the Messenger of Allah say: Allah the Almighty said:

O son of Adam, so long as you call upon Me and ask of Me, I shall forgive you for what you have done, and I shall not mind. O son of Adam, were your sins to reach the clouds of the sky and were you then to ask forgiveness of Me, I would forgive you. O son of Adam, were you to come to Me with sins nearly as great as the earth and were you then to face Me, ascribing no partner to Me, I would bring you forgiveness nearly as great at it.

It was related by at-Tirmidhi (also by Ahmad ibn Hanbal). Its chain of authorities is sound.

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 35:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said:

Our Lord (glorified and exalted be He) descends each night to the earth’s sky when there remains the final third of the night, and He says: Who is saying a prayer to Me that I may answer it? Who is asking something of Me that I may give it him? Who is asking forgiveness of Me that I may forgive him?

It was related by al-Bukhari (also by Muslim, Malik, at-Tirmidhi and Abu Dawud).

In a version by Muslim the Hadith ends with the words:

And thus He continues till [the light of] dawn shines.

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 36:
On the authority of Anas (may Allah be pleased with him) from the Prophet , who said:

The believers will gather together on the Day of Resurrection and will say: Should we not ask [someone] to intercede for us with our Lord? So they will come to Adam and will say: You are the Father of mankind; Allah created you with His hand He made His angels bow down to you and He taught you the names of everything, so intercede for us with you Lord so that He may give us relief form this place where we are. And he will say: I am not in a position [to do that] – and he will mention his wrongdoing and will feel ashamed and will say: Go to Noah, for he is the first messenger that Allah sent to the inhabitants of the earth. So they will come to him and he will say: I am not in a position [to do that] – and he will mention his having requested something of his Lord about which he had no [proper] knowledge (Quran Chapter 11 Verses 45-46), and he will feel ashamed and will say: Go to the Friend of the Merciful (Abraham). So they will come to him and he will say: I am not in a position [to do that]. Go to Moses, a servant to whom Allah talked and to whom He gave the Torah. So they will come to him and he will say: I am not in a position [to do that] – and he will mention the talking of a life other that for a life (Quran Chapter 28 Verses 15-16), and he will fell ashamed in the sight of his Lord and will say: Go to Jesus, Allah’s servant and messenger, Allah’s word and spirit. So they will come to him and he will say: I am not in a position [to do that]. Go to Muhammad (may the blessings and peace of Allah be upon him), a servant to whom Allah has forgiven all his wrongdoing, past and future. So they will come to me and I shall set forth to ask permission to come to my Lord, and permission will be given, and when I shall see my Lord I shall prostrate myself. He will leave me thus for such time as it pleases Him, and then it will be said [to me]: Raise your head. Ask and it will be granted. Speak and it will be heard. Intercede and your intercession will be accepted. So I shall raise my head and praise Him with a form of praise that He will teach me. Then I shall intercede and HE will set me a limit [as to the number of people], so I shall admit them into Paradise. Then I shall return to Him, and when I shall see my Lord [I shall bow down] as before. Then I shall intercede and He will set me a limit [as to the number of people]. So I shall admit them into Paradise. Then I shall return for a third time, then a fourth, and I shall say: There remains in Hell-fire only those whom the Quran has confined and who must be there for eternity. There shall come out of Hell-fire he who has said: There is no god but Allah and who has in his heart goodness weighing a barley-corn; then there shall come out of Hell-fire he who has said: There is no god but Allah and who has in his heart goodness weighing a grain of wheat; then there shall come out of Hell-fire he who has said: There is no god but Allah and who has in his heart goodness weighing an atom.

It was related by al-Bukhari (also by Muslim, at-Tirmidhi, and Ibn Majah).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 37:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said: Allah said:

I have prepared for My righteous servants what no eye has seen and no ear has heard, not has it occurred to human heart. Thus recite if you wish (1): And no soul knows what joy for them (the inhabitants of Paradise) has been kept hidden (Quran Chapter 32 Verse 17).

(1) The words “Thus recite if you wish” are those of Abu Harayrah.

It was related by al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidhi and Ibn Majah.

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 38:
On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said:

When Allah created Paradise and Hell-fire, He sent Gabriel to Paradise, saying: Look at it and at what I have prepared therein for its inhabitants. The Prophet said: So he came to it and looked at it and at what Allah had prepared therein for its inhabitants. The Prophet said: So he returned to Him and said: By your glory, no one hears of it without entering it. So He ordered that it be encompassed by forms of hardship, and He said: Return to it and look at what I have prepared therein for its inhabitants. The Prophet said: So he returned to it and found that it was encompassed by forms of hardship (1). Then he returned to Him and said: By Your glory, I fear that no one will enter it. He said: Go to Hell-fire and look at it and what I have prepared therein for its inhabitants, and he fount that it was in layers, one above the other. Then he returned to Him and said: By Your glory, no one who hears of it will enter it. So He ordered that it be encompassed by lusts. Then He said: Return to it. And he returned to it and said: By Your glory, I am frightened that no one will escape from entering it.

(1) The Arabic word used here is “makarih”, the literal meaning of which is “things that are disliked”. In this context it refers to forms of religious discipline that man usually finds onerous.

It was related by Tirmidhi, who said that it was a good and sound Hadith (also by Abu Dawud and an-Nasa’i).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 39:
On the authority of Abu Sa’id al-Khudri (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said:

Paradise and Hell-fire disputed together, and Hell-fire said: In me are the mighty and the haughty. Paradise said: In me are the weak and the poor. So Allah judged between them, [saying]: You are Paradise, My mercy; through you I show mercy to those I wish. And you are Hell-fire, My punishment; through you I punish those I wish, and it is incumbent upon Me that each of you shall have its fill.

It was related by Muslim (also by al-Bukhari and at-Tirmidhi).

——————————————————————————–

Hadith Qudsi 40:
On the authority of Abu Sa’id al-Khudri (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah said:

Allah will say to the inhabitant of Paradise: O inhabitants of Paradise! They will say: O our Lord, we present ourselves and are at Your pleasure, and goodness rests in Your hands. Then He will say: Are you contented? And they will say: And how should we not be contented, O Lord, when You have given to us that which You have given to no one else of Your creation? Then He will say: Would not like Me to give you something better than that? And they will say: O Lord and what thing is better than that? And He will say: I shall cause My favour to descend upon you and thereafter shall never be displeased with you.

It was related by al-Bukhari (also by Muslim and at-Tirmidhi).

Osama, The 21st Century Jesus ??

Desember 2, 2006

Sebuah wacana baru mengenai pribadi seorang buronan yang paling ditakuti oleh barat, yaitu Osama bin Ladin, muncul diakhir tahun lalu. Buronan yang kerapkali dicari dan dihantam rudal Amerika ditempat persembunyiannya –paling tidak itu adalah tempat yang dianggap sebagi tempat persembunyiannya oleh mata-mata Amerika-, namun selalu saja mampu meloloskan diri dan bahkan mengeluarkan statement covering yang dikirimkan sebagai bukti kegagalan serangan Amerika terhadapnya.
Dalam kurun waktu hamper satu dekade ini, bahwa pengamat dan intelejen, mengatakan bahwa Osama bin Ladin bersembunyi jauh di dalam goa-goa wilayah Afganistan dan bahkan di wilayah Timur Tengah, menempuh berbagai bahaya dan rintangan yang sebenarnya tidak akan mungkin sanggup dijalani oleh seorang Rambo. Dia merupakan orang yang selalu mendasarkan tindakannya pada philosophy keagamaan yang oleh banyak orang dianggap terlalu berlebihan dan bahkan menyimpang dari ajaran agama yang seharusnya. Bagi pihak luar, yang sangat mengecewakan adalah meskipun dia telah mendapatkan berbagai ancaman dan tekanan dari berbagai otoritas pemerintahan, namun dia berhasil tetap mendapatkan pengikut setia yang bahkan semakin banyak. Dengan pembatasan-pembatasan yang diberlakukan oleh negara-negara yang menjadi kaki tangan “polisi internasional”, tidak menyurutkan perlawan yang diberikan oleh Osama.
Uniknya saat ini ada pendapat atau wacana yang membandingkan Osama dengan seorang yang pada masa 2000 tahun lalu juga mengalami penyiksaan, pengejaran, dan berbagai sikap “menteroriskan dia” pada masanya dahulu kala. Apakah ada yang ingat siapa tokoh tersebut??? Dia adalah Jesus atau Isaias atau Isa atau Ieyus sang penyebar agama Nasrani. Lantas bagaimana atau apa yang mendasari munculnya wacana ini???
Wacana ini diambil atau dikutip dari sebuah website yang kemungkinan berada di Eropa atau di Amerika. Berikut ini akan diungkapkan beberapa kesamaan mendasar antara Jesus dan Osama:


10 Kemiripan Osama bin Laden dan Jesus

10. Membuat kekacauan besar bagi pemerintahan pada masa mereka, namun kemudian tidak diketahui keberadaannya.

9. Penuh ketertarikan terhadap agama dan selalu meresahkan beberapa tokoh negara yang berafiliasi dengan setan.

8. Melaksanakan setiap geraknya berdasarkan wahyu tuhan.

7. Tidak pernah beristirahat dalam melawan tekanan regime.

6. Bersembunyi dalam gua ketika tentara musuh berusaha membunuhnya, namun keberadaannya selalu menjadi misteri.

5. Diberkati oleh Tuhan.

4. Para pengikutnya berusaha meyakini bahwa dia belum mati dan memenuhi tugas sebagai pengikut yang baik.

3. Memberikan tugas kepada murid-muridnya untuk melemahkan musuhnya.

2. Berasal dari Timur Tengah.

1. Terkenal berkat pengkhianat dan musuh-musuhnya.

Dengan memperhatikan beberapa poin diatas, maka kiranya sudah sepantasnya bagi para THINKERS alias manusia yang merasa masih memiliki jiwa objektifitas dan kemauan untuk menerima kebenaran, bahwa antara Osama dan Jesus memiliki jiwa dan pola gerak yang mirip, bahkan juga dalam hal wajah serta asal mereka yang dari Timur Tengah. Mengapa hal ini bisa terjadi, tidak lain karena mereka memiliki kesamaan TUHAN dan agama yaitu agama keselamatan atau ISLAM. Yesus membawa aturan baru yang memperbaharui agama lama yang disebut Yahudi. Pada masanya dahulu Yesus diburu untuk dibunuh oleh kalangan pengikut Yahudi karena mereka tidak mau menerima kebenaran yang dibawa oleh Yesus meskipun kebenaran itu telah tercantum dalam kitab mereka. Saat 500 tahun berikutnya diturunkan utusan Tuhan yang beru yang melengkapi dan memperbaharui aturan yang dibawa Yesus sebelumnya, sekaligus dia sebagai utusan Tuhan yang terakhir. Mulai saat itulah bermunculan pihak-pihak dari kalangan pengikut Yesus yang tidak mau menerima kenyataan bahwa utusan Tuhan telah berganti memusuhi dan memerangi pengikut sang utusan terakhir, dan hal ini bertahan hingga saat ini dimana salah satu pengikut utusan terakhir diburu dan hendak dilenyapkan.
Keadaan telah berulang setelah beratus tahun berselang.
Namun, tentu saja kesamaan ini bukan berarti kita harus mengakui bahwa Osama adalah Yesus yang diturunkan kembali ke bumi, tetapi jelaslah bahwa Tuhan telah mengulang kembali alur cerita pada masa Yesus dan ditempatkan dalam kehidupan seorang yang bernama Osama.
Banyak diantara kalangan ahli Injil yang menyatakan bahwa utusan Tuhan setelah Yesus adalah berasal dari pegunungan Faron atau daerah Arabia, namun mengapa hal ini disembunyikan???
Banyak ahli Injil yang mengatakan bahwa suatu ketika nanti akan muncul golongan yang anti Christ yang kemudian mereka anggap Islam adalah golongan tersebut??? Apakah mereka tidak sadar bahwa Yesus membawakan pengikutnya aturan-aturan surga yang melarang pengikutnya terlena pada dunia dan akhirnya melupakan agama??? Pada saat ini pojok dunia mana yang ditempati pengikut Yesus yang melarang perjudian, melarang perzinahan, melarang makan babi dan anjing, melarang segenap aturan Yesus??? Pengikut Yesus saat ini mengerjakan segala yang dilarang oleh Yesus sendiri sehingga seharusnya mereka sadar bahwa sebenarnya mereka sendirilah pada saat ini yang masuk ke dalam golongan anti Christ dan melecehkan utusan Tuhan mereka.
T h i n k ! ! ! ! ! !
T h i n k ! ! ! ! ! !
T h i n k ! ! ! ! ! !
And always …….
T h i n k ! ! ! ! ! !
Penulis berharap adanya timbal balik berupa komentar terhadap tulisan ini dan mari kita berbagi wacana untuk terus berfikir, berfikir, berfikir, dan tetap selalu berfikir dengan objektifitas tinggi. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Amien.

Pemimpin

Desember 2, 2006


Pemimpin

Manusia diciptakan memang untuk beribadah kepada Sang Pencipta dengan sungguh-sungguh dan sebanyak mungkin mengumpulkan amal sebagai bekal kehidupan akhirat. Dari satu sikap ritual peribadahan ada kisah menarik yang dapat kita ambil sebagai hikmah dan teladan agar kita tidak sampai terjerat dalam kesesatan dan kekeliruan dalam peribadahan kita.

Dalam islam dikenal adanya imam dalam sebuah jama’ah sholat. Untuk memilih seorang imam harus memenuhi persyaratan yang mendasar seperti seorang pemimpin bermasyarakat, mulai dari dicari yang paling tua dengan harapan bisa menumbuhkan sikap hormat dan segan bagi para ma’mum yang berarti juga sebuah ketaatan kepada seorang yang berpengalaman. Dicari yang paling fasih bacaannya dengan harapan agar dia menjadi imam yang membimbing para jama’ah ke arah kebenaran dalam sikap gerak dan segala bacaannya. Dicari juga yang hafal Alquran dan hadist dengan keinginan agar pedoman yang dipakai jelas dan sesuai dengan ketetapan. Dan ketentuan-ketentuan lain sebagainya dengan harapan agar jalannya sholat berjamaah akan lancar, benar, sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh agama.

Ketika seorang imam telah terpilih dalam sebuah tempat sholat, dilarang adanya imam lain yang juga melakukan sholat jama’ah. Sehingga dalam sebuah masjid dalam satu waktu sholat harus hanya ada satu imam saja. Imam susulan hanya berlaku ketika imam yang telah lebih dahulu sholat menyelesaikan sholatnya hingga salam. Ketentuan ini bila kita pikirkan tentu ada maksud dan tujuannya, tidak sekedar membuat batasan-batasan yang susah dipahami. Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita ambil contoh sederhana ketika kita melakukan pemilihan ketua RT misalnya, jelas kita tidak diperkenankan menciptakan seorang ketua RT tandingan. Ketika sang ketua RT telah lengser barulah kita memilih ketua RT yang baru. Inilah sikap yang tidak menciptakan perseteruan, kekacauan dan kesemrawutan dalam tatanan kehidupan. Coba bila ada dua ketua RT dalam satu tempat, kemudian ketua RT yang pertama memerintahkan kita membangun selokan ke arah barat, ternyata ketua RT yang lain memerintahkan kita membuat selokan yang mengarah ke utara, pasti akan ada pro kontra yang sebagian warga ingin mengikuti ketua RT yang pertama, sedangkan sebagian lagi ingin ikut perintah ketua RT yang kedua. Hal ini jelas akan merusak tatanan yang ada bahkan bisa mengarah dalam pertikaian.

Begitulah islam, peraturannya begitu lengkap dan mudah difahami namun hanya akan mencapai hati bagi orang-orang yang mau berfikir.

Ada sebuah kisah manarik pada masa dahulu, ketika ada sebuah jamaah sholat sedang dilaksanakan, datanglah seorang yang ingin ikut dalam jama’ah tersebut, namun dia sudah dalam keadaan terlambat atau masbuq dan ketika itu imam sudah sampai pada gerakan ruku’. Orang yang ingin ikut berjama’ah ini begitu masuk masjid dan tahu bahwa masih ada sedikit kesempatan sebelum terlambat atau lepas dari gerakan ruku’, dia nyeletuk: Innallaaha ma`a assobiriin, yang berarti Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Anda paham maksudnya, si orang yang baru datang ini menyindir imam agar bersedia menanti dia sehingga tidak jadi terlambat sholatnya. Tentu saja sikap ini merupakan sikap yang salah, karena memaksakan kehendaknya dan memerintahkan imam yang seharusnya tidak boleh diganggu untuk kepentingan segelintir orang yang ingin mendapatkan fasilitas dan kenyamanan. Orang yang terlambat datang pada sebuah jama’ah sholat harus mengikuti gerakan imam pada saat itu juga, baru kemudian menambah rakaat sholatnya dibelakang. Dengan cara apapun tidak diperkenankan seorang meminta kemudahan dari imam seperti itu, baik dengan kata-kata, dengan berdehem, dan lain sebagainya.

Ketika seorang imam melakukan kesalahan pun ada aturannya, yaitu ma’mum laki-laki harus mengatakan subhanallah dan tidak boleh menggunakan cara lain seperti teriak, bersuara keras dan kasar, mentertawakan, dan sebagainya. Kata-kata subhanallah sudah ketetapan yang akan mengembalikan sikap imam yang mengalami kekeliruan menjadi betul kembali. Untuk jama’ah yang bisu dan kaum perempuan, memperingatkan kesalahan imam dengan menepukkan kedua tangan atau menepukkan tangan ke tempat sholat saja. Mengapa demikian???. Hal ini dikarenakan, jika kaum perempuan memperingatkan imam dengan suara, dikhawatirkan akan mengganggu kekhusu’an sholat karena suara perempuan memang diciptakan Tuhan lebih utama dari suara laki-laki, penuh kelembutan.

Banyak sekali aturan dalam hal imam sholat ini yang bisa diambil hikmah dan teladan bagi kehidupan kita sehari-hari, sehingga damai dan tenteram laksana ketika kita sholat. Penulis berharap adanya timbal balik berupa komentar terhadap tulisan ini dan mari kita berbagi wacana untuk terus berfikir dengan obyektif. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Amien. (*sumber: data bebas).

(related topic: Merapatkan Shaf)