Pantaskah Ottoman Turki Kita Nyatakan Sebagai Sebuah Khilafah Islam ??

Seringkali kita mendengar pernyataan mengenai kehancuran khilafah Islam. Yaitu pada kehancuran 1924M yang mengacu pada pemerintahan keluarga Ottoman Turki. Sebuah dinasti yang oleh mayoritas umat islam dianggap sebagai sebuah pemerintahan kekhalifahan penerus pemerintahan nabi saw. Atau paling tidak sebuah pemerintahan Islam yang dianggap mampu mempersatukan umat, dan juga kekuatan islam paling akhir yang mampu bertahan sebelum kekuatan asing mengkotak-kotak umat islam menjadi serpihan negara-negara kecil dan tidak memiliki kekuatan yang berarti.
Sebagian besar diantara kita mungkin akan merasa sedih atau bahkan cenderung merasa dendam dan terhina bila mengingat kejadian pada tahun 1924M tersebut. Selain itu, diberbagai kesempatan juga banyak pihak yang merasa sebagai bagian umat islam berusaha untuk mengingat kembali khilafah Ottoman. Embel-embel khilafah Ottoman sebagai contoh bentuk khilafah islami, hampir tidak pernah lupa dipergunakan dalam berbagai kesempatan. Banyak diantara kita yang selalu merujuk pada khilafah Ottoman Turki pada saat mensyiarkan sistem islami atau khilafah yang dianggap atau diharapkan akan mampu menyelesaikan masalah bangsa, sekaligus untuk menegaskan kita sebagai umat yang berpengetahuan dan berkebudayaan tinggi.
Berusaha untuk mengembalikan sistem yang islami tidak salah, tetapi apakah merujuk pada dinasti Ottoman sebagai contoh kekhilafahan islam sudah tepat ? Marilah kita pikirkan kembali dengan akal yang jernih dan penuh objektifitas !!
Kita sebagai umat islam tentu harus turut prihatin dan sedih dengan kehancuran khilafah Ottoman. Kita pantas untuk kecewa dikarenakan kekuatan yang menunjukkan diri dan selalu dianggap sebagai perwujudan kekuatan umat islam yang terakhir telah dihancurkan, sekaligus memberikan sebuah kesan dan membuktikan bahwa umat islam benar-benar telah habis kekuatannya.
Kesan ini sampai saat ini bahkan benar-benar dihayati oleh sebagian besar umat islam dan secara langsung bahkan memperlihatkan mereka sebagai umat yang hanya bisa merengek-rengek dan mengoceh tentang kehebatan leluhur mereka, memberikan tuduhan-tuduhan terhadap bangsa Eropa sebagai biang kehancuran islam dan selalu mengungkit-ungkit kekuatan leluhurnya tanpa bisa membuktikan kekuatannya sendiri sebagai umat yang mandiri tanpa harus berada dibelakang bayang-bayang leluhurnya. Meskipun tentu saja kita harus tetap berpegang teguh pada prinsip “jas merah” yaitu “jangan sekali-kali melupakan sejarah”, namun yang jelas harus paham penempatannya.
Selain itu, dalam hal berkaitan dengan sejarah, kita harus berusaha mencermati dengan teliti, jangan sekedar tahu dan mempercayai satu buah versi sejarah yang ada sepenuhnya. Perlu dikaji dan di analisis dengan perbandingan dan kemungkinan-kemungkinan pada versi yang berbeda. Oleh karena itu, dalam pembahasan ini marilah kita sedikit membahas dan mengungkap beberapa wacana yang jarang diperbincangkan yang kemungkinan akan mampu memberikan informasi tambahan bagi khazanah sejarah islam.
Menyambung kembali pembahasan mengenai keruntuhan khilafah islam, maka akan kita mulai dengan berbagai hal dan rangkaian kehancurannya, agar kita dapat mengetahui duduk perkara dari berbagai versi yang berbeda.
Beberapa versi kehancuran khilafah islam diantaranya adalah :
Versi I : khilafah telah dianggap hancur setelah Ali ibn Abi Thalib.
Versi II : khilafah hancur setelah masa Dinasti Abbasiyah.
Versi III : khilafah runtuh tahun 1924M pada masa Ottoman Turki.
Versi IV : sebagian dari umat islam yang mengakui khilafah selain Ottoman.
Pembahasan keruntuhan khilafah ini akan kami sajikan berurutan berupa rangkaian kejadian mulai dari masa khulafa arrashidin hingga kejadian-kejadian yang mengiringi sejarah islam pada awal abad ke-20.
Dalam sejarah islam telah secara jelas digambarkan keadilan dan kebesaran para khulafa arrasyidin, dan mungkin hanya beberapa hal saja yang menjadi perdebatan selama masa pemerintahan empat khalifah utama dalam islam yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Mereka ini adalah manusia-manusia utama dalam masa-masa utama dimana ketentuan-ketentuan Allah dan teladan-teladan nabi saw masih diikuti dan diamalkan secara penuh. Pengangkatan khalifah-khalifah ini dilakukan dengan pelaksanaan pemilihan berdasar musyawarah sesuai dengan aturan dan tata cara islami. Semenjak wafatnya nabi saw semasa pengangkatan Abu Bakar, telah dibentuk sebuah team yang menangani dan mengatur pengangkatan khalifah sepeninggal nabi saw. Mungkin mirip dengan pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat di Indonesia pada masa sekarang. Pada masa itu, majelis tersebutlah yang berhak dan berwenang untuk mengangkat serta mengganti khalifah, dengan berbagai masukan dan aspirasi dari rakyat.
Menutup masa keempat khalifah ini pada masa pemerintahan khalifah Ali ibn Abi Thalib, mulai terjadi intrik dan ketidakberesan dalam tatanan islam. Pergantian kepemimpinan dari Ali ke Muawiyah pada masa itu terjadi tidak dengan sewajarnya, tetapi lebih dikarenakan adanya tipu daya dari pihak Muawiyah kepada pihak Ali ibn Abi Thalib. Dan bahkan beberapa pihak yang agak keras pendapatnya menyatakan bahwa Muawiyah pada saat itu mendapatkan kursi pemerintahan dengan cara melakukan kudeta terhadap Ali ibn Abi Thalib. Selain itu, Muawiyah juga merupakan orang yang merubah tata aturan kekhalifahan sekehendaknya sendiri. Kekhalifahan yang pada awalnya dan seharusnya dengan permusyawaratan (khilafah bil intikhaab) dirubah dengan sistem pewarisan atau putra mahkota (khilafah bil waraatsah)
Hal-hal dan rincian kejadian pada masa Ali yang perlu menjadi perhatian adalah sebagai berikut:
1. Ali ibn Abi Thalib pada saat memegang kekuasaan selalu memegang teguh syariat dan aturan pemerintahan seperti yang dijalankan oleh pendahulunya. Namun, tugasnya menjadi semakin berat tatkala menghadapi masyarakat islam yang secara perlahan sudah menjauh dari masa-masa nabi saw. Pada masa itu umat islam sudah menjadi umat yang berlimpah kekayaan dan hal ini mulai membuat mereka terlena dari ketegasan-ketegasan aturan islam yang seharusnya. Sehingga sedikit saja merasa tersaingi dan kurang mendapat pembagian yang memadai dibanding golongan lainnya dapat menyulut pertengkaran dan perselisihan. Ujung-ujungnya adalah timbulnya beberapa pemberontakan terhadap kekuasaan Ali.
2. Terjadinya perang saudara pertama dalam sejarah islam, yaitu antara pasukan Ali dengan pasukan Aisyah istri nabi saw yang terhasut untuk memberontak terhadap Ali.
3. Perselisihan antara keluarga Hasyim dan keluarga Umayyah. Pemberontakan yang dilakukan oleh Muawiyah ibn Abi Sufyan terhadap Ali ibn Abi Thalib merupakan perang yang menelan banyak sekali korban jiwa. Namun, Muawiyah tampil dengan trik-trik liciknya, terutama sekali berkat dukungan penasehatnya yang sudah teruji kelicikannya bernama Amru bin Ash, seorang panglima yang berhasil memasukkan Mesir ke dalam peta dunia islam.
a. Pada saat Ali hampir memenangkan pertempuran, Amru ibn Ash mengangkat tombak yang diujungnya ditancapkan lembaran Alqur`an dengan mengatakan bahwa sebaiknya peperangan dihentikan dan dilakukan perundingan yang berdasarkan pada Alqur`an. Sikap licik ini selain mampu menghindarkan kemusnahan Muawiyah, ternyata bahkan membuat perselisihan dalam pasukan Ali ibn Abi Thalib yang kemudian sebagian dari mereka yang tidak suka dengan penghentian perang tersebut keluar dari pasukan Ali dan berkumpul menjadi kelompok sendiri yang disebut kaum Khawarij.
b. Pihak Muawiyah yang diwakili oleh Amru bin Ash meminta pihak Ali untuk bersama-sama duduk sederajat dengan cara menurunkan jabatan kekhalifahannya. Pihak Ali yang diwakili oleh Abu Musa Al Ash`ari yang merupakan orang shaleh tanpa paham kelicikan siasat lawan menyanggupinya. Baru saja Abu Musa Al Ash`ari menyatakan Ali turun dari kekhalifahan, Amru bin Ash menyatakan kepada umat islam bahwa dengan adanya kekosongan kekhalifahan segera diangkatlah seorang pengganti khalifah. Dan orang itu tidak lain adalah Muawiyah.
c. Dengan diangkatnya Muawiyah sebagai khalifah, dengan lapang dada Ali ibn Abi Thalib dan pasukannya yang sebagian besar memang masih memegang aturan islam bahwa mereka sebagai umat islam harus tunduk pada satu khalifah maka selesailah kekhalifahan yang sebenar-benarnya. Inilah yang mendasari sebagian umat islam untuk menyatakan bahwa kekhilafahan islam sudah hancur semenjak masa Ali ibn Abi Thalib. Pihak ini menganggap bahwa pemerintahan sesudah Ali bukanlah kekhalifahan tapi hanya kerajaan biasa yang tidak berbeda dengan Byzantium dan sebagainya. Hanya saja agama resmi yang dianut adalah islam.
4. Kematian Ali yang tragis pada masa akhir jabatannya sebagai khalifah dengan tikaman pada saat berjalan menuju masjid untuk menjalankan shalat subuh. Pihak yang bertanggung jawab atas kejadian ini adalah kaum Khawarij. Mereka pada dasarnya mengirimkan tiga orang untuk membunuh Ali ibn Abi Thalib, Amru bin Ash, dan Muawiyah. Diantara mereka bertiga ini hanya satu yang berhasil menjalankan tugasnya, yaitu membunuh Ali. Sedangkan yang bertugas membunuh Amru dan Muawiyah gagal menjalankan tugasnya karena dua tokoh tersebut dijaga ketat oleh pengawal masing-masing.
5. Jika dicermati dengan teliti, maka akan kita dapati bahwa sebenarnya orang-orang yang melakukan pemberontakan terhadap Ali ini yaitu golongan Muawiyah adalah orang-orang yang bukan sebenarnya islam dari hati mereka. Ayah Muawiyah yaitu Abu Sufyan masuk islam hanya dikarenakan Makkah pada waktu itu jatuh kepada Islam. Begitupun Muawiyah, dia tidak secara langsung bergaul dan berkomunikasi dengan nabi saw seperti para sahabat yang membesarkan khilafah islam pada masa khulafa arrashidin yang keislamannya benar-benar ditempa oleh masa nabi, merupakan orang-orang shaleh yang menjaga islam dengan harta dan jiwa mereka. Sedangkan orang-orang semacam Muawiyah inilah yang menghancurkan islam.
6. Muawiyah merupakan orang pertama dalam tatanan pemerintahan islam yang memakai singgasana, mengadakan dan membentuk barisan pengawalan khusus bahkan ketika berada di dalam masjid. Juga dia yang pertama melakukan pengangkatan putra mahkota dan menjadikan pemerintahan islam berdasar kepada sistem pewarisan tahta seperti kerajaan pada umumnya. Sebuah bentuk aturan yang jauh dari hakekat kekhalifahan dalam islam.
Dengan perincian beberapa kejadian tersebut, maka beberapa pihak dengan tegas menyatakan bahwa kekhalifahan telah tamat semenjak berakhirnya masa kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib.
Selanjutnya, masa kekhalifahan sesudah masa Ali ibn Abi Thalib, yaitu masa kekhalifahan dinasti Umayyah dan dilanjutkan dengan kekhalifahan dinasti Abbasiyah. Kekhalifahan dinasti Umayyah dimulai semenjak tahun 40H / 660M setelah Muawiyah mengalahkan Ali ibn Abi Thalib dan keturunannya mampu bertahan hingga tahun 132H / 750M. Alasan-alasan yang mendukung keberhasilan bertahannya khalifah ini adalah sebagai berikut:
1. Umat islam sudah banyak perubahan dalam pola pikir mereka dibandingkan dengan masa islam sebelumnya.
2. Beberapa pihak lainnya mungkin ada yang dengan keterpaksaan mengakui jenis kekhalifahan baru yang dibentuk oleh Muawiyah ini dengan kekhawatiran atas keselamatan jiwanya.
3. Sebagian besar dari umat islam pada masa itu memang mereka mengakui kekhalifahan Muawiyah karena mereka tidak paham bagaimana bentuk sebenarnya dari kekhalifahan islam yang dituntunkan oleh nabi saw dan para sahabatnya. Mereka ini adalah orang-orang islam yang jauh dari masa nabi saw atau berasal dari daerah yang mempunyai adat istiadat berbeda dengan adat istiadat islam pada masa nabi saw dan kemudian mencampurkan adat mereka dalam keseharian dan pola pikir keislaman mereka. Artinya adalah, umat islam baru lebih banyak dari umat islam lama. Yaitu bahwa suara umat islam yang benar-benar paham aturan islam langsung dari nabi saw kalah jumlah dengan umat islam yang tidak paham bagaimana seharusnya islam dijalankan. Mereka inilah yang merusak tatanan dalam islam dan dengan kata lain boleh dibilang peningkatan jumlah umat islam tidak diikuti kualitas yang baik pula.
4. Pada masa itu sudah tidak ada lagi kekuatan kekhalifahan yang sesuai dengan tuntunan nabi saw yang mampu menggabungkan segenap kekuatan islam. Kekuatan yang terbesar ada di pihak dinasti Umayyah.
Hal manis yang sempat dilakukan oleh penguasa-penguasa dinasti Umayyah diantaranya adalah pengembangan ilmu pengetahuan dengan pesatnya pendirian madrasah-madrasah besar dan perpustakaan yang lengkap, serta mulai munculnya tokoh-tokoh iptek yang bagus. Selain itu, juga memperindah kota-kota baru seperti Bukhara dan Samarkand dan melengkapinya dengan madasah dan perpustakaan besar yang kemudian menjadikan kota-kota tersebut sebagai tempat pengembangan keilmuan. Juga pada tahun 92H / 711M, membebaskan tanah Andalusia dari penjajahan bangsa Gothia-Barat yang selanjutnya dikembangkan juga sebagai tempat ilmu pengetahuan dan seni budaya tingkat tinggi serta elite. Kekuatan dinasti ini bertahan hingga ketika penguasanya tidak mampu lagi menghadapi pemberontakan dari pihak-pihak yang selama pemerintahan mereka, sering ditekan dan didhalimi.
Kehancuran dinasti Umayyah benar-benar terjadi pada tahun 750M, setelah terjadi pemberontakan yang berkepanjangan dari berbagai pihak, terutama sekali yang semakin besar pengikutnya adalah keluarga Bani Abbas atau keluarga keturunan Abbas, paman Nabi saw. Pemerintahan keluarga ini dikenal dengan nama Bani Abbasiyah. Mereka mulai mendirikan kekhalifahan pada tahun 132H / 749M dengan pusat pemerintahan di kota Baghdad. Kekhalifahan dinasti ini pada dasarnya sama dengan Bani Umayyah, jauh dari tuntunan nabi saw. Bahkan pada awal pembentukannya, dimulai dengan pembantaian besar-besaran terhadap keluarga Bani Umayyah, baik secara langsung maupun dengan teror, kelicikan, dan berbagai tipu muslihat. Bahkan apabila kita teliti lebih lanjut tentang khalifah yang dianggap paling besar dan paling berkualitas pada dinasti ini yaitu khalifah Harun Al Rasyid, maka akan kita temukan berbagai bentuk sikap licik dan tipu muslihat yang diperagakan olehnya.
Hal baik yang pernah dilakukan Harun Al Rasyid:
1. Memperhatikan kemajuan ilmu pengetahuan.
2. Mengembangkan seni budaya dan perekonomian rakyat.
3. Meratakan kemajuan segala bidang di berbagai wilayah dengan melengkapi kota-kota besarnya dengan madrasah-madrasah besar dan perpustakaan yang lengkap.
4. Bersahabat dengan penguasa dari negara-negara tetangga.
5. Memasukkan nilai-nilai islam pada konstitusi Karel de Grote yang menjadi sahabatnya, dan selanjutnya HAM tersebut menjadi HAM Eropa modern.
Hal jelek yang dilakukan Harun Al Rasyid:
1. Persahabatan dengan Papyn, Raja Frank untuk menghancurkan islam Andalusia yang menjadi basis kekuatan keluarga Umayyah.
2. Pembunuhan terhadap lawan-lawan politik diberbagai kesempatan.
3. Pengkhianatan terhadap lawan politik yang telah menyerah dan kemudian menahannya.
4. Pembunuhan terhadap orang-oang dekatnya yang dikhawatirkan menyaingi popularitasnya.
Telah sejak awal, dinyatakan bahwa semenjak berakhirnya masa khulafa arrasyidin, banyak yang beranggapan telah berakhir pula sistem khilafah islam yang sebenarnya, diganti dengan sistem jenis baru yang sebenarnya jauh dari sistem khilafah yang islami. Namun, awal kehancuan islam yang lebih besar lagi akan dimulai beberapa generasi setelah masa Harun Al Rasyid, dimana mulai saat-saat tersebut, sistem kekhilafahan islam akan makin memerosotkan kekuatan islam sendiri, dan situasi ini sangat sedikit yang menyinggungnya, padahal cukup penting dalam menelaah lebih lanjut kekuatan islam pada 1924M.
Untuk itu, disini akan dibahas beberapa hal yang kemungkinan besar merupakan masalah utama yang mendasari keruntuhan islam pada 1924M yang hal itu bahkan telah berawal dari tahun sekitar 800M. Pembahasan ini merupakan sebuah wacana yang memang belum tentu benar, namun pantas untuk diperbincangkan dan bisa menjadi informasi tambahan bagi sejarah islam. Mengenai hal ini, akan dicoba untuk diuraikan sedetail dan seurut mungkin dengan di awali dari masa khalifah Abbasiyah, Muhammad Al Mu`tasim yang berkuasa pada tahun 218-227H / 833-842M. Seperti beberapa khalifah sebelumnya, dia juga membeli budak belian dari Turki. Namun, dia membuat keputusan untuk memperbanyak budak belian dari Turki yang dalam beberapa tahun saja jumlah mereka mencapai 70.000 orang. Dan parahnya, mereka itu akhirnya dijadikan pasukan khusus pengawal istana dan pasukan utama. Keputusan ini merupakan awal petaka khilafah islam yang selanjutnya akan merubah sejarah islam. Bagaiman bisa demikian?
Pasukan khusus dari Turki, juga panglima-panglima perang dan perwira-perwira dari Turki mengisi istana khalifah. Mereka dianak-emaskan dan dilebihkan dari orang Arab dan Persia, sehingga mereka yang merasa dimanja tersebut akhirnya melakukan apa saja sekehendaknya dan suka menganiaya orang terutama diwilayah-wilayah yang jauh dari jangkauan pengamatan khalifah, pungutan liar dan korupsi mulai berkembang, perwira Arab atau Persia yang berulah dan melawan atau menuntut hak akan segera disingkirkan dengan alasan hendak melakukan kudeta terhadap khalifah. Sikap-sikap pasukan Turki ini kemungkinan besar ditunjang oleh adat istiadat, budaya, dan pola pikir mereka yang jauh dari bentuk budaya dan pola pikir islami yang tetap mereka amalkan meski telah memeluk islam. Hal ini bisa dibanding dengan beberapa suku bangsa lain yang membaurkan adat mereka dengan islam sehingga wajah islam di setiap bangsa menjadi berbeda, seperti bangsa Kurdi, Drus, dan lain sebagainya di Timur Tengah, atau pembauran islam dengan budaya jawa di Indonesia yang susah dikatakan bentuknya, apakah islam yang di-jawa-kan atau jawa yang di-islam-kan. Keadaan seperti ini perlu diperhatikan dengan seksama, karena meskipun sebagian besar berakhir dengan terlihat baik dan damai walaupun dengan membentuk pola pikir dan budaya yang salah, tetapi agaknya pada kasus orang-orang Turki pada masa-masa tersebut adalah salah satu hasil silang budaya yang sangat jelek karena sebagian besar mereka ini adalah orang-orang kasar budak belian bukan dari kalangan bangsawan Turki yang lebih halus adabnya. Diperparah lagi mereka ini meskipun jumlah suara lebih sedikit dari kebanyakan umat islam, namun kekuatan mereka sebagai pasukan yang memiliki persenjataan dan fasilitas di istana membuat pengaruh budaya Turki terhadap islam ini bahkan mencapai wilayah yang sangat dekat dengan tempat kelahiran islam itu sendiri. Dari sinilah pada akhirnya nama islam yang penuh kejujuran dan kebudayaan tinggi menjadi hancur lebih cepat daripada masa-masa sebelumnya.
Dengan semakin meningkatnya intrik di pusat pemerintahan hasil karya orang Turki, banyak Bani-Bani di daerah-daerah yang jauh dari Baghdad melakukan pemberontakan. Mulai dari kaum Alawiyyin, Bani Thahiriyah, Bani Saffar, Bani Saman, dan lain sebagainya yang pada dasarnya mereka itu adalah keluarga-keluarga terhormat yang lebih didukung oleh penduduk di wilayah masing-masing daripada penguasa-penguasa Turki yang dikirim untuk jadi wali atau gubernur wilayah.
Pada awal-awal tahun 900M, situasi di pusat pemerintahan semakin buruk, yang akhirnya membuat khalifah pada masa itu dengan terpaksa meminta pertolongan penguasa lain yaitu ke negeri Dailam yang berada di selatan Persia, sepanjang pesisir laut Kaspia yang dipimpin oleh Bani Buaihi bermadhab Syiah. Penguasa utama mereka pada saat itu adalah tiga orang putra keturunan Buaihi yang bernama Ali, Hasan, dan Ahmad. Dengan keputusan khalifah Abbasiyah meminta bantuan Bani Buaihi ini, pengaruh Turki mulai dapat ditekan. Meskipun demikian, khalifah Bani Abbas pada saat itu hanyalah boneka semata, sedangkan penguasa sebenarnya yang mengatur situasi di Baghdad adalah Bani Buaihi, yang mungkin jika dibandingkan dengan keadaan saat ini adalah pemerintahan yang dipegang oleh Presiden dan Perdana Menteri atau Kaisar Jepang yang sekedar menjadi simbol dengan Perdana Menterinya yang menguasai parlemen. Penguasaan Bani Buaihi atas Abbasiyah secara makro ternyata malah semakin menyulut huru-hara lebih besar lagi, yaitu antara Syiah dengan Sunni, orang Arab dengan Turki, dan juga Islam dengan Byzantium yang bahkan pada masa itu mampu mencapai Sungai Euphrat.
Hingga disini, jika kita cermati, sudah memperlihatkan situasi bahwa pada masa sekitar 800-900M, sudah terbentuk pengkotak-kotakan negara-negara islam yang disatu pihak disebabkan adanya serangan luar dan campur tangan budaya luar islam, tapi di pihak lain juga sangat jelas disebabkan oleh adanya perang saudara, saling mencaplok wilayah sesama umat islam untuk tujuan harta dan kekuasaan semata. Dengan berkembangnya permasalahan di Baghdad, pada tahun 351H / 962M seorang panglima Turki bekas budak belian yang bernama Albatekin bukannya membantu khalifah menyelesaikan masalah tetapi bersama pasukannya mendirikan pemerintahan beru dan merdeka dari kekuasaan Baghdad yaitu di Ghaznah yang pada saat ini merupakan wilayah Afganistan, dan kemudian mereka dinamakan sebagai Daulat Ghaznawiyah.
Selain itu, masih pada sekitar tahun 960M, sekali lagi sikap tidak loyal ditunjukkan oleh orang Turki, seorang panglima Turki yang bernama Saljuk bukannya membantu khalifah di Baghdad, tetapi malah menyerang dan mencaplok wilayah kekuasaan khalifah, sehingga pada tahun 447H / 1055M dimasa cucunya yang bernama Throgolbek, resmi mendirikan Daulat Bani Saljuk yang berkuasa atas hampir seluruh wilayah Abbasiyah. Pada saat kejadian ini, khalifah Abbasiyah yang berkuasa adalah Al Qaim dan Sultan Bani Buaihi terakhir yang bernama Sultan Al Malikur Rahman.
Mengenai keluarga Saljuk ini yang perlu menjadi perhatian adalah:
1. Keluarga ini bukanlah keluarga yang dididik secara islam. Penguasa Saljuk baru memeluk islam ketika telah menguasai hampir seluruh wilayah khilafah Abbasiayah.
2. Penguasaan Bani Saljuk atas wilayah Abbasiyah tidak menjadikan keluarga Abbasiyah disingkirkan, tetapi tetap dijadikan simbol kekuasaan di Baghdad.
3. Kemungkinan pencaplokan wilayah Abbasiyah semakin lancar dengan islamnya penguasa Bani Saljuk dan bermadhab Sunni, sehingga mampu mengambil hati penduduk untuk mendukung mereka melawan Bani Buaihi bermadhad Syiah yang berkuasa di Baghdad.
4. Pada masa Bani Saljuk berkuasa, mulai meletus perang Salib, yaitu pada tahun 1095M. Jika ada yang beranggapan perang salib telah terjadi sebelum itu kemungkinan kuang tepat, karena perang-perang islam sebelum itu terjadi hanya sebatas antara islam dengan keajaan eropa tertentu saja yang mencoba memasuki batas wilayah islam. Sedangkan pada perang salib yang pertama adalah persatuan banyak kerajaan eropa atas komando langsung dari Paus di Roma. Perang salib ini berawal dari sentimen negatif terhadap tentara islam yang dikatakan berlaku sewenang-wenang terhadap peziarah kristen yang berkunjung ke Yerussalem. Apakah kita akan membantahnya? Sebaiknya menelaah lebih lanjut terlebih dahulu, karena pada masa itu yang berkuasa di sepanjang wilayah Palestian, hingga Syria, bahkan hingga Asia Tengah adalah tentara Turki yang dalam pembahasan sebelumnya telah terbukti banyak berperilaku tidak manusiawi dan sewenang-wenang terhadap saudara sendiri sesama islam, apalagi terhadap orang yang beragama lain, kemungkinan akan lebih parah.
5. Setelah keluarga Saljuk berkuasa selama kurang lebih 100 tahun, mulai terjadi intrik dengan keluarga Ottoman sesama keturunan Turki.
Bani Saljuk yang mulai terpecah-pecah karena keturunannya saling berebut kekuasaan semenjak kurang kebih tahun 1104M, diperparah dengan terjadinya perebutan kekuasaan dengan Bani Ottoman. Dan setelah berperang selama beberapa tahun dengan Ottoman, Bani Saljuk mulai surut kekuatannya, wilayahnya banyak terjadi pemberontakan dari sesama umat islam, dan juga adanya rongrongan dari kerajaan-kerajaan tetangga, yaitu eropa dengan pasukan sekutu dalam komando perang salib, dan juga pasukan Mongol yang terus merangsek masuk wilayah islam. Dan akhirnya sampailah kita pada tahun 1258M dimana pada saat itu Baghdad dihancurkan oleh tentara Mongol dibawah pimpinan Holako Khan. Penghancuran ini oleh beberapa pihak dinyatakan sebagai hari dimana kekhalifahan islam hancur, karena umat islam selanjut terkotak-kotak menjadi kerajaan-kerajaan kecil saja. Menurut cerita yang berkembang, penghancuran Baghdad oleh pasukan Mongol bukannya tanpa alasan, tetapi dikisahkan bahwa beberapa tahun sebelum kejadian tersebut ada seorang putra pejabat di Baghdad yang telah melakukan tindakan tercela terhadap anak keturunan Mongol. Tindakan kesewenang-wenangan ini tidak berhenti sampai disini, karena ternyata setelah sampai ke pengadilan sang putra pejabat ini dibebaskan dari hukuman sehingga menyulut kemarahan penguasa Mongol. Itulah kenapa kita tidak mendengar adanya penghancuran total terhadap kota-kota islam yang dilalui tentara Mongol sekejam penghancuran Baghdad. Perlu diingat, bahwa untuk menyerang Baghdad, pasukan Mongol dari perbatasan wilayah mereka harus melewati banyak sekali kota-kota islam lainnya yang ternyata tidak banyak dihancurkan oleh pasukan Mongol ini.

Selentingan yang bahkan lebih jauh lagi menyatakan bahwa ada kemunginan sebenarnya yang bermain disini adalah orang-orang Ottoman. Setelah berperang dengan Bani Saljuk bertahun-tahun, orang-orang Ottoman akhirnya menjalankan siasat tipu muslihat yaitu membohongi bangsa Mongol dengan melakukan tindakan semena-mena terhadap anak keturunan Mongol dan kemudian dihembuskanlah berita bahwa yang melakukan tindakan tercela tersebut adalah putra pejabat Baghdad yang tentu saja dengan demikian selain orang-orang Abbasiyah juga orang-orang Saljuk akan terbinasakan. Kemungkinan besar pasukan Otoman turut serta dalam penghancuran Baghdad, sehingga pasukan Ottoman tidak turut dihancurkan seperti pasukan Abbasiyah dan Saljuk dengan pembagian Bani Saljuk mendapat wilayah Abbasiyah, dan Mongol mendapat segenap harta rampasan. Atau ada kemungkinan lain, yaitu beberapa saat sesudah pasukan Mongol berhasil menguasai Baghdad dan berpesta kemenangan, pasukan Ottoman yang pada awalnya menghindari jalur perjalanan pasukan Mongol dalam menyerang Baghdad, dengan segera melakukan penyerangan terhadap pasukan Mongol sehingga kocar-kacir dan melarikan diri kembali ke perbatasan wilayah mereka. Bentuk siasat semacam ini pada beberapa tahun kemudian, yaitu kurang lebih pada tahun 1290M di tanah jawa juga dipakai oleh pendiri Majapahit untuk mengalahkan musuhnya dari Singasari dengan tipu muslihat terhadap pasukan Tiongkok, dan kemudian menyerang mereka pada saat berpesta kemenangan sehingga dengan sendirinya akan terhalau pulang ke wilayah mereka sendiri, yaitu Tiongkok. Sedangkan pada kejadian tahun 1258M, penguasa Baghdad dari Abbasiyah maupun dari Saljuk dibantai secara menyeluruh, gedung-gedung madasah, masjid, perpustakaan, pusat kebudayaan, semua dihancurkan, dibakar, dan sebagian besar buku-buku ilmu pengetahuan dan budaya dihanyutkan ke S. Tigris.
Dari segenap penjelasan diatas membuktikan bahwa dalam hampir semua masalah mulai tahun 850M hingga peristiwa besar penghancuran Baghdad, dan peristiwa-peristaiwa bertahun-tahun kemudian antara islam dengan perang salib yang terjadi berkali-kali selalu di dalangi oleh orang-orang Turki, sehingga terlihat jelas bahwa pangkal masalah sebenarnya adalah orang-orang Turki dan pasukan Turki. Tragedi ini merupakan mata rantai dekadensi moral yang melibatkan islam dan sebuah bangsa besar penguasa daratan asia dan eropa yang seharusnya menjadi contoh kejujuran dan ketinggian akhlak serta kebudayaan yang besar seperti pada masa nabi saw dan para sahabatnya. Namun pada akhirnya semua lenyap dengan begitu cepat setelah orang-orang Turki menjadi pemegang senjata dan kekuasaan dalam tatanan islam.
Nah, dari urutan-urutan yang tercantum diatas, apakah masih pantas bagi kita untuk mempertahankan pendapat bahwa khilafah islam hancur pada tahun 1924M dibawah kekuasaan Turki Ottoman. Ataukah kita jadi percaya bahwa pada dasarnya kekuasan Ottoman hanya sebuah kerajaan belaka sama dengan kerajaan lainnya diseluruh dunia, hanya saja kebetulan sekali agama yang dianutnya adalah islam? Mengapa kita tidak pernah berusaha melihat dan memahami khilafah islam lainnya yang pada masanya jauh lebih baik kebudayaan islamnya dan lebih pantas disebut sebagai khilafah yang sebenarnya. Ambillah contoh khilafah Andalusia yang dipimpin sisa-sisa keturunan Bani Umayyah bebas dari penguasaan Bani Abbasiyah maupun kekuasaan Turki dan mampu bertahan hingga sekitar tahun 1400M, atau pemerintahan Bani-Bani di Mesir, juga pemerintahan di Iran yang bertahan hingga tahun 1979M pada masa dinasti Pahlevi, atau juga Kesultanan di tanah Jawa, apakah mereka juga tidak pantas untuk diperhitungkan? Mengapa harus dinasti Ottoman Turki yang diakui sebagai kekhalifahan terakhir islam? Padahal menurut berbagai catatan menunjukkan tingginya dekadensi moral pada masa dinasti ini yang bahkan pada saat kehancurannya tahun 1924M, pejabat-pejabatnya sebagian besar adalah pemabuk, penjudi, koruptor, dan lain sebagainya yang menunjukkan perilaku mereka yang sangat kotor. Ataukah hanya karena dinasti ini punya tentara terkuat diantara kerajaan-keajaan islam lainnya yang telah terkotak-kotak kecil dan loyo tanpa tenaga sama sekali sehingga gampang dipermainkan pihak eropa? Ataukah hanya sebuah keyakinan tanpa dasar dari orang awam yang kurang paham sejarah dan sekarang mendominasi jumlah suara umat islam?
Wallahu a`lam bishawab.
Masih banyak lagi hal-hal dalam sejarah Islam yang bisa diambil hikmah dan teladan bagi kehidupan, sehingga kita tahu dan mengerti berbagai khazanah sejarah Islam.
T h i n k ! ! ! ! ! !
T h i n k ! ! ! ! ! !
T h i n k ! ! ! ! ! !
And always …… become a thinkers.
Saya akan sangat senang jika ada pembaca yang memberikan timbal balik berupa komentar terhadap tulisan ini sehingga kita bisa berbagi wacana dan terus berfikir, berfikir, berfikir, dan tetap selalu berfikir dengan objektifitas tinggi. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Amien.







