Arsip untuk Juli, 2007

Muhammad dan Khadijah

Juli 25, 2007


Muhammad semenjak kecil mengisi harinya dengan menggembalakan ternak terutama kambing dan domba, bahkan ketika semakin dewasa semakin banyak ternak yang digembalakannya, baik milik sendiri dan keluarga Abu Thalib, maupun titipan dari penduduk Makkah yang mengupahnya untuk menggembalakan ternak mereka. Profesi ini seakan telah ditetapkan oleh Tuhan kepada orang-orang pilihan-Nya yang dipersiapkan sebagai utusan-Nya. Hampir semua nabi ditetapkan oleh Allah sebagai penggembala kambing atau domba, Musa, Yakub, maupun Isa. Ini adalah salah satu ciri kenabian seseorang yang telah ditetapkan Allah.

Pada saat-saat tertentu, Muhammad juga berdagang membantu perdagangan milik Abu Thalib atau barang dagangan titipan dari orang lain. Pada usia 12 tahun untuk pertama kalinya dia diajak pamannya, Abu Thalib, berdagang keluar tanah Arab, yaitu ke daerah Syam. Dengan hasil perdagangan dan ternak, penghidupan Muhammad dan keluarga Abu Thalib semakin bagus pada saat ia semakin dewasa. Semakin lama, semakin banyak ternak yang digembalakan oleh Muhammad, baik milik pribadi dan keluarga Abu Thalib, maupun milik masyarakat Makkah. Selain itu, perdagangannya dari barang dagangan yang dititipkan maupun milik pribadi juga semakin banyak dan menuai sukses. Walhasil, pada usia 24-an tahun, Muhammad merupakan salah satu orang yang cukup kaya di Makkah dari hasil ternak dan perdagangan, namun dia tetap dipercaya orang untuk menjualkan barang dagangan mereka, ini membuktikan bahwa Muhammad merupakan tipe orang yang jujur dan bisa dipercaya. Puncaknya, pada usia 25-an dia diberi kepercayaan oleh seorang pedagang besar dan merupakan seorang janda kaya untuk membawakan dagangannya ke negeri Syam, dia adalah Khadijah. Seluruh perdagangannya sebelum itu dibawakan oleh para pekerjanya sendiri. Namun, melihat kesuksesan dan keuntungan yang diperoleh Muhammad dan pedagang lain yang mempercayakan dagangan mereka kepada Muhammad, maka Khadijah memberikan kepercayaan kepada Muhammad untuk memimpin kafilah/rombongan dagang miliknya, meskipun pada saat itu Khadijah mengikutsertakan seorang pembantu kepercayaannya yang bernama Maisarah untuk mengawasi perdagaanngn tersebut. Singkat cerita, perdagangan sukses dan banyak laba yang masuk, Khadijah semakin mempercayai Muhammad, dan beberapa bulan kemudian Khadijah meminta keluarganya untuk melamar Muhammad bagi dirinya.

Dari rangkaian cerita diatas, seakan-akan alasan Khadijah menikah dengan Muhammad semata karena Muhammad terbukti sebagai pedagang yang terkenal jujur, dapat dipercaya, dan sukses. Apakah memang seringkas itu? Apakah sesederhana itu? Jika dipikirkan dengan objektif, tentu saja kurang masuk akal atau terlalu ringkas cerita yang disampaikan disana. Nah, dalam hal ini beberapa ahli berusaha mengungkap dan membahas beberapa hal yang kurang diperhatikan oleh banyak kalangan mengenai alasan utama Khadijah bersedia menikah dengan Muhammad. Pendapat ini menyatakan bahwa salah satu hal yang menyebabkan Khadijah ingin menikah dengan Muhammad adalah karena Khadijah tahu bahwa ada ciri-ciri kenabian dalam diri Muhammad / calon nabi. Bagaimana bisa demikian? Apa dasar dari pendapat ini? Lantas mengapa Muhammad mau menikah dengan janda berusia 40 tahun disaat umurnya baru 25 tahun? Bahkan, pada saat menikahi Khadijah tersebut Muhammad memberikan mahar pernikahan kira-kira 100 ekor unta yang pada masa sekarang kurang lebih harganya sama dengan satu sedan Mercedes Benz terbaru atau lebih dari 1 milyar rupiah.

Dalam hal ini, Muhammad bersedia menikah dengan Khadijah dikarenakan berbagai pertimbangan, diantaranya adalah:

  1. Muhammad mengenal dengan baik segala hal mengenai keluarga Khadijah dan silsilahnya, sehingga paham bahwa Khadijah berasal dari keluarga terhormat dan beretika, dimana pada masa itu di Makkah sukar ditemukan keluarga yang tidak menyembah berhala dan menjalankan adat jahiliyah.
  2. Silsilah Muhammad dan Khadijah terpaut tidak terlalu jauh, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah. Sedangkan Khadijah bint Khuwaylid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. Dengan demikian ada pertemuan silsilah antara keduanya.
  3. Khadijah meskipun berusia lebih tua dan janda, namun dikalangan penduduk Makkah terkenal berpribadi luhur, berakhlaq mulia, tidak menyembah berhala, dermawan, kemungkinan beragama nasrani (kristen unitarian) karena beberapa tetua dan pemimpin keluarganya adalah ahli kitab dan ahli bahasa kuno.

Itulah beberapa pertimbangan dari Muhammad untuk menerima Khadijah menjadi istrinya. Sedangkan dari Khadijah sendiri memiliki pertimbangan lain, yang diataranya adalah karena dia tahu bahwa Muhammad adalah calon nabi. Apa dasar dari pendapat ini? Pendapat yang menyatakan bahwa Khadijah sudah melihat adanya ciri kenabian pada diri Muhammad bahkan sebelum mereka menikah adalah:

  1. Keluarga besar Khadijah, terutama para tetua, kakek, dan pemimpin keluarganya adalah ahli kitab (Injil dan Taurat) yang paham betul nubuat dan penafsiaran dari kitab sucinya secara langsung dalam bahasa kuno (Ibrani dan Aramic) sebagai bahasa kitab suci mereka pada masa dahulu kala, bukan sekedar dari terjemahan didalam bahasa harian mereka (Arab). Keadaan keluarga ini memang kurang dibahas dengan mendetail.
  2. Ada sebuah cerita tambahan (bagian ini kurang dibahas para ahli sejarah), menyebutkan bahwa beberapa waktu sebelum Muhammad lahir, saudara sepupu Khadijah pernah pula akan dinikahkan dengan Abdullah, ayah Muhammad, namun gagal. Uraian cerita ini kembali ke masa sebelum tahun 571M, beberapa tahun sebelum kelahiran Muhammad yang pada saat itu Khadijah berusia kira-kira 14-15 tahun. Seorang pamannya (ahli kitab) melihat adanya ciri kenabian pada diri Abdullah bin Abdul Muthalib dan setelah diperhatikan dengan seksama dan penuh keyakinan maka bersegeralah ia melamar Abdullah untuk putrinya (sepupu Khadijah, mungkin usianya sebaya atau lebih tua sedikit dibanding Khadijah). Namun Allah berkehendak lain, Abdullah dipertemukan dengan Aminah bint Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab, dan akhirnya menikahinya. Paman Khadijah yang gagal melamar Abdullah tetap percaya adanya ciri kenabian pada diri Abdullah, oleh sebab itu maka ia memberitahukan segala hal tersebut kepada segenap keluarga besarnya termasuk didengar pula oleh Khadijah sendiri. Namun, dengan kematian Abdullah diusia muda setelah menikah dengan Aminah (bahkan ketika anaknya belum lahir), para ahli kitab dari keluarga ini melihat ciri kenabian yang lebih jelas terlihat pada diri anaknya, yaitu Muhammad bin Abdullah. Pada masa itu, keluarga Asad ini menutup informasi ini dari orang lain karena dalam nubuat kitab suci mereka juga disebutkan bahwa orang-orang sesat yang tahu dengan keberadaan calon nabi itu pastilah akan berusaha membunuhnya. Alasan ini diperkuat dengan pertemuan rombongan dagang Abu Thalib yang disertai Muhammad pada saat berusia 12 tahun ketika berdagang ke Syam dengan seorang rahib bernama Bukhaira yang juga melihat adanya ciri kenabian pada diri Muhammad dan percaya bahwa dia adalah nabi yang dijanjikan, dan dalam pertemuan itu dia mewasiatkan kepada Abu Thalib untuk segera pulang ke Makkah dan menjaga Muhammad dengan cermat karena sebagai calon nabi dia banyak dicari untuk dibunuh oleh kaum yang sesat dan tahu akan nubuat dalam kitab suci mereka.

Itulah beberapa alasan kenapa Khadijah ingin menikah dengan Muhammad meskipun usianya jauh lebih tua dan paham betul bahwa orang yang baik tidak akan menikah hanya sekedar melihat usia dan kecantikan semata. Dan juga Khadijah percaya bahwa perkiraan tetua keluarganya yang menyatakan bahwa Muhamad adalah calon nabi yang dijanjikan adalah sesuatu yang benar. Jadi kepercayaan pada diri Khadijah kepada kenabian Muhammad tidaklah setelah turunnya wahyu, namun jauh sebelum itu. Oleh karena itu, begitu Muhammad menerima wahyu yang pertama, Khadijah langsung menghadap pamannya, Waraqah bin Naufal, salah satu ahli kitab di keluarganya yang paham isi Injil dan Taurat, mampu berbahasa Ibrani, namun sudah tua dan buta. Ketika Khadijah menceritakan kejadian atas diri Muhammad, sang paman menyatakan kebenaran dan validitas kenabian Muhammad. Selanjutnya, beberapa hari kemudian, Muhammad diajak Khadijah untuk menghadap pamannya tersebut untuk meminta nasehat. Pada saat itu bahkan Waraqah bin Naufal menyatakan kepastian bahwa suatu ketika nanti dia akan diburu dan diusir oleh kaumnya sendiri, juga pengikut-pengikutnya akan dianiaya atau dibunuh. Dan memang demikianlah yang terjadi dan berlaku kepada semua utusan Tuhan yang membawa risalah kenabian baru seperti juga yang terjadi terhadap Musa, Isa, dan begitu pula dengan Muhammad.

Demikian sekilas uraian mengapa Khadijah menginginkan Muhammad menjadi suaminya, dan juga alasan kenapa dia bersedia menyatakan keislamannya tanpa ragu-ragu dan bimbang diawal perjuangan Muhammad sebagai nabi. Khadijah adalah istri yang paling dicintai Muhammad dibandingkan istri-istrinya yang lain.

Wallahu a’lam bi shawaf.

Bukhari 3194 and 789

Juli 10, 2007

Bukhari 3194 حذيفة إن مع الدجال إذا خرج ماء ونارا

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ قَالَ قَالَ عُقْبَةُ بْنُ عَمْرٍو لِحُذَيْفَةَ أَلَا تُحَدِّثُنَا مَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي سَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ مَعَ الدَّجَّالِ إِذَا خَرَجَ مَاءً وَنَارًا فَأَمَّا الَّذِي يَرَى النَّاسُ أَنَّهَا النَّارُ فَمَاءٌ بَارِدٌ وَأَمَّا الَّذِي يَرَى النَّاسُ أَنَّهُ مَاءٌ بَارِدٌ فَنَارٌ تُحْرِقُ فَمَنْ أَدْرَكَ مِنْكُمْ فَلْيَقَعْ فِي الَّذِي يَرَى أَنَّهَا نَارٌ فَإِنَّهُ عَذْبٌ بَارِدٌ قَالَ حُذَيْفَةُ وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ رَجُلًا كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَتَاهُ الْمَلَكُ لِيَقْبِضَ رُوحَهُ فَقِيلَ لَهُ هَلْ عَمِلْتَ مِنْ خَيْرٍ قَالَ مَا أَعْلَمُ قِيلَ لَهُ انْظُرْ قَالَ مَا أَعْلَمُ شَيْئًا غَيْرَ أَنِّي كُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا وَأُجَازِيهِمْ فَأُنْظِرُ الْمُوسِرَ وَأَتَجَاوَزُ عَنْ الْمُعْسِرِ فَأَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ فَقَالَ وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ رَجُلًا حَضَرَهُ الْمَوْتُ فَلَمَّا يَئِسَ مِنْ الْحَيَاةِ أَوْصَى أَهْلَهُ إِذَا أَنَا مُتُّ فَاجْمَعُوا لِي حَطَبًا كَثِيرًا وَأَوْقِدُوا فِيهِ نَارًا حَتَّى إِذَا أَكَلَتْ لَحْمِي وَخَلَصَتْ إِلَى عَظْمِي فَامْتُحِشَتْ فَخُذُوهَا فَاطْحَنُوهَا ثُمَّ انْظُرُوا يَوْمًا رَاحًا فَاذْرُوهُ فِي الْيَمِّ فَفَعَلُوا فَجَمَعَهُ اللَّهُ فَقَالَ لَهُ لِمَ فَعَلْتَ ذَلِكَ قَالَ مِنْ خَشْيَتِكَ فَغَفَرَ اللَّهُ لَهُ قَالَ عُقْبَةُ بْنُ عَمْرٍو وَأَنَا سَمِعْتُهُ يَقُولُ ذَاكَ وَكَانَ نَبَّاشًا

Bukhari 789 عائشة اللهم إني أعوذ بك من عذاب القبر

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنَا عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو فِي الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنْ الْمَغْرَمِ فَقَالَ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ وَعَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَعِيذُ فِي صَلَاتِهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Story about Apple

Juli 2, 2007

Genesis: 3:6 And when the woman saw that the tree was good for food, and that it was pleasant to the eyes, and a tree to be desired to make one wise, she took of the fruit thereof, and did eat, and gave also unto her husband with her; and he did eat. 3:12 And the man said, The woman whom thou gavest to be with me, she gave me of the tree, and I did eat. 3:13 And the LORD God said unto the woman, What is this that thou hast done? And the woman said, The serpent beguiled me, and I did eat.

The above verse is King James translation which explaining the Adam falls into sins because a fruit. But unfortunately, almost all Bible translation didn’t give the name of the fruit, I didn’t know why. So, when I ask to some peoples, they said it is better if to explain the fruit, we name it as apple or peach. Some said it is just to make it simple, and some said if some Bible translation perhaps also use that name to explain that fruit. In Bible, Adam eats the fruit because of his wife whose had been beguiled by the serpent, and they did eat. Later, because of they did eat the fruit, both of them falls to the sins and sent out from heaven into this world, and all of their descendents get falls into the sins even all of them didn’t eat the fruit like Adam and Eve.

That unbelievable sin makes a big question, even to the Bible followers itself. Some of my friends give me Luther remarks about that, but it was in my local language and I didn’t know how the real words in his language. So this translation is not 100% same with his words and this is just a free translation and forgive me if it is wrong. Luther said if Adam didn’t do any killing or adultery, even he didn’t robs or slander to the God, not even do any scary sins bigger than earth size, but he just eat a fruit after had been beguiled by Satan through a woman. Logic or normal brain asks, do we think that fruit so important even the world must be sacrificed to redeem Adam’s sins with so many peoples who’s wise, good personality, and even son of the God himself with all God’s messengers, holy man, and all preach must die to redeem Adam’s sin?

It is right what had said by Luther, the story about the fruit is so scary and creepy. Because Adam eats fruit, belongs to Christian teaching, all human being must be born with carrying Adam sin run in family heredity. The strange think is, because of that sin also son of the God must forming to be human and comes to the world to be sacrificed to redeem all human sins which begins from one think, Adam eats fruit. This condition forcing trinity concepts comes up in the Christian tradition, redeem of the sins, and forcing God to make a child, to make a son.

From these religion concepts, if we analyzed back to the beginning that we can say if from the first time Adam didn’t eat the fruit, God didn’t need to come to this world in the form of Jesus as the son of the God. So, Jesus didn’t to be hanging on the cross to be tortured and died to pay or to redeem Adam’s sin. Also those concepts want to tell us that live of the son of the God just as much as a fruit which had to be eaten by Adam. Even more, the consequences, if Jesus didn’t need comes to this world, Christian religion didn’t need to be exist. It is different if bible comes to correcting the human behavior; the Christian religion must be exists on that era.

So, from these few things, to be recognized or not, it was very clear that trinity concepts was not central or centering on Jesus, but base on the fails of Adam into the sin just because of a fruit. Then why God so late to producing a baby and at the same time send his baby to this world to take away all human sins, whereas the distance between Adam era and Jesus time is very far until thousands years. So, how about the sins of millions Adam descendants before Jesus time?

God must be unfair isn’t it!!

That is trinity concepts…………..!!

Why there are story about God have a child and sending that child to this world as human? Because Adam eats the fruit.

Why God must die on the cross in scary condition? Because Adam eats the fruit.

Why since the birth age all human get heredity sin? Because Adam eats the fruit.

So, why all Adam descendants who are never touch and eat the fruit suffered from Adam’s sin? Could some body help me to answering this? That all reason is unbelievable for me……………………….!@#$%^&*()

May be the problem is the believers who’s believe with the concepts are holding their logic by the “traditio declarativa” and “traditio constituva” characteristics inside the church institute. Those conditions make all the doctrines from the church even if illogical at all, still would be kept and believed as the truth. Perhaps just few of them still use the logic and make their own concepts, just like Luther, and the Unitarian community.

Furthermore, if God really have a child, the personality who’s more eligible to be the son of the God wasn’t Jesus, but Adam. If Jesus born from a virgin woman that mean he need a mother, but Adam with no father and mother at all, just with the order from the God and comes up as the first human. Also Adam’s wife, Eve, she is more reasonable than Jesus because she born with no mother and just from the rib of Adam with the command of the God. So, for a person whose believes Jesus as the son of the God, it is better to understanding this analyze.

About God have son, Allah said in Holy Koran:

قل إن كان للرحمن ولد فأنا أوّل العابدين

“Say (O Muhammad): ‘If the Beneficent One hath son, I am first among the worshippers’.”

(Surah 43/Ornaments of Gold: 81). Note: please check again the translation. May be I make a mistake. Thanks.

Afterwards, because of the God is the creator and the God is not a creation, the God wouldn’t make a baby or become a baby, and it is improper thought to think the God as a pathetic creation and think the God so unethical. So, because of that reality, Adam and Eve or even Jesus couldn’t be a son of the God isn’t? Also, the Jesus crucifixion can be analogized, when a toothache patient ask to the best doctor to be take cared and wish his toothache clear up, but the strange is the doctor didn’t pull out the patient teeth, but the doctor pull out his own teeth as apart of his own body and hope that the patient will be cured.

This is a glance of the fruit story which I hope it is easy to be understanding and took the means. Don’t forget to think positive and objective because all thought from any body about any think if analyzed with relax and high objectivity will fixing our mind pattern and our faith. Amiens. Thanks for your attention and I am waiting for the feedback or the reply.