Terus terang saya belum melihat film ini, bahkan membaca bukunya pun hanya beberapa lembar saja dalam urutan acak (tidak berniat untuk membaca), hanya sekedar iseng membaca paragraph yang kebetulan ada pada lembar yang saya buka. Saya buka bukunya pun hanya karena diberi pinjam oleh teman-teman saya. Dan ini terjadi sampai beberapa kali, karena hampir seluruh teman-teman saya telah membacanya, bahkan ada yang begitu getol sampai membaca berkali-kali ndak puas-puas. Merekapun mengatai saya ketinggalan zaman.
Melihat dari sekilas potongan film ini dalam beberapa tayangan TV dan “pengalaman” saya membaca bukunya yang hanya sepersekian persen dari keseluruhan alur cerita total, maka sangat tidak mungkin dapat diperoleh gambaran sebenarnya apa isi dan pikiran sang penulis, apalagi untuk memberikan pentafsiran dan mengkritiknya sebagai karya yang jelek atau baik, benar atau salah.
Namun, boleh dong saya urun rembug dan mengeluarkan uneg-uneg saya. Oleh karena itu sebelumnya saya mohon maaf kepada seluruh pencinta “Ayat Ayat Cinta” maupun kepada sang penulis “Habiburrahman El Syirazi” serta sang sutradara film ini, kalau sekiranya tulisan saya ini terlalu mengkritik dan sebagainya, padahal sangat jelas saya sangat tidak berkompeten dalam hal ini karena bisa dikatakan saya belum membaca dan melihat “Ayat Ayat Cinta” ditambah pula saya bukan seorang penulis dan belum pernah menghasilkan satupun karya tulis.
Ayat Ayat Cinta religiuskah? Bagi semua orang mungkin menyatakan bahwa film ini merupakan film religius. Namun bagi saya, film ini bukanlah film religius. Term ini harus diperjelas lebih dahulu sebelum menyatakan apakah Ayat Ayat Cinta merupakan sesuatu yang religius. Jangan sampai kemudian kita merubah artian apa itu religius dan salah mensikapi bagaimana kita harus bertingkah laku religius. Bagi yang ahli dalam hal agama dan bisa mencari hujjah dan sebagainya dalam hal ini, saya mohon bantuannya agar orang awam seperti saya ini tidak tersilap atau salah dalam mentafsirkan kondisi bagaimana sesuatu itu disebut religius.
Bagi orang awam seperti saya ini dalam melihat Ayat Ayat Cinta religius atau tidak, yang pertama saya perhatikan adalah bagaimana para pemainnya dimunculkan oleh sang sutradara, mulai dari cara pergaulannya, tingkah lakunya dan segala hal yang diperlihatkan dalam film tersebut. Dan jika film itu mengacu kepada sebuah buku tentu terkait pula dengan pemikiran sang penulis. Dalam film ini kita disuguhi:
Yang pertama: penyanyi OST film yang sama sekali tidak memperlihatkan kereligiusan, berpakainnya lebih terkesan kepada glamour, cara menyanyinya lebih ke arah lagu cinta dan tidak memperlihatkan sisi religiusnya, isi lagunya juga nggak religius;
Yang kedua: dalam potongan-potongan film ini ada adegan berpelukan, mencium dan sebagai yang mungkin ada adegan lebih jauh lagi, apalagi bukan dengan muhrim atau mahram antara para pemain filmnya, bisakah ini dikatakan sebagai sesuatu yang religius? Jika poin ini dikatakan masih dalam konteks yang religius maka konteks religius dan makna religiuspun harus ditata ulang dengan fleksibilitas idea yang sangat tinggi dan bisa menjadi kurang tegas.
Dari dua poin ini saja, saya masih kurang yakin bila Ayat Ayat Cinta dikatakan sebagai sebuah film religius. Bagi saya, film ini adalah film cinta yang dibalut norma keagamaan dan bersetting Mesir yang islami. Kalaulah hendak dikatakan sebagai film religius, maka saya sebut saja semi-religius, bukan religius yang sesungguhnya.
Nah, dengan ini juga, saya mohon pendapat dan tanggapan dari anda semua yang mencintai “Ayat Ayat Cinta” ini ataupun anda yang sekedar pernah membaca bukunya dan melihat filmnya. Sekali lagi mohon maaf dan mohon tanggapannya.
Selalu berfikir objektif.
Terimakasih.