Arsip untuk Agustus, 2008

Merayakan Hari Kemenangan

Agustus 28, 2008

“Waah, besok hari lebaran, kita rayain hari kemenangan….”, kata seseorang dipinggir jalan raya. Padahal dia pada saat itu merokok disaat orang lain berpuasa, padahal dia pada pagi harinya masih menyantap makan pagi disaat orang lain mulai kehausan.

Ya, begitulah kebanyakan ummat Islam. Ritual Ramadhan bagi sebagian orang hanyalah sekedar ikut memukul kentongan membangunkan orang sahur, setelah itu dia makan ayam bakar ditambahin minuman keras, “buat ngusir dingin” katanya, atau dia ikut keliling ronda sahur tapi dia sendiri tidak sahur karena emang nggak mau puasa. Dia ikutan taraweh kadang-kadang saja dengan alasan taraweh berjama’ah kurang khusu’ padahal dia molor di rumah buat persiapan begadang ronda sahur. Paling-paling rajin sholatnya di masjid hanya subuh saja, karena ramai dan setelah itu bisa JJS (Jalan-Jalan Subuh) ama cewek-cewek atau nongkrong godain cewek yang lagi seliweran (masih pagi buta, udah berbuat maksiat godain cewek, di bulan Ramadhan pula). Mereka biasanya bermesraan, bergandengan tangan, dan peluk-pelukan di tempat umum yang jelas melanggar etika dan aturan agama, belum lagi yang main trek-trekan motor mengganggu kenyamanan pengguna jalan lainnya. Siang harinya saat orang yang pada puasa tidur dengan maksud agar terhindar dari hal-hal yang membatalkan puasa, dia ikutan tidur juga sekadar menjalankan ritual dan mode tidur siang bulan puasa.

Nah, bulan Ramadhan yang seharusnya dan sebenarnya penuh rahmat, penuh barakah, tapi tidak dijalani dengan sungguh-sungguh namun malah memperparah kemaksiatan, mengikuti ibadah juga sekadar iseng, sekedar carmuk dan caper. Tapi udah begitu, lebaran ingin ikut juga menjadi orang yang dikatakan mendapat kemenangan. Kemenangan dari mana??

Hal ini diperparah dengan seringnya media massa membuat pernyataan dan statement sendiri tentang hari kemenangan. Akrab kita dengar dan kita perhatikan di TV maupun koran (sejak bertahun-tahun ini), telah dikembangkan argumen bahwa hari kemenangan diperoleh siapa saja pada saat hari raya Idul Fitri.

“para penghuni wisma ***** merayakan hari kemenangan di kampung halaman mereka”, “para penghibur diskotik merayakan hari kemenangan bersama para tunawisma”, “artis ****** merayakan hari kemenangan dengan mengundang anak-anak panti asuhan”, dan lain sebagainya. Perhatikanlah statement-statement yang sering menjadi hiasan berita di media massa. Para pelacur ataupun penghibur diskotik yang pulang kampung dari kota besar cuti Ramadhan membelikan baju-baju bagus dengan uang haram mereka untuk keluarga di kampung dikatakan telah memperoleh dan menikmati hari kemenangan. Artis pornoaksi yang sering buka baju dan bergoyang erotis diatas panggung hiburan memberikan santunan kepada anak yatim maupun tuna wisma dikatakan telah mendapatkan hari kemenangan.

Padahal mereka yang digambarkan memperoleh hari kemenangan oleh media massa itu tidak mendapat kemenangan yang sesungguhnya. Padahal mereka tidak puasa, padahal selama Ramadhan tetap melakukan berbagai kemaksiatan, bahkan segera setelah hari kemenangan terlewati, setelah masa memakai kerudung usai, masa cuti jadi pelacur dan penari stiptease selesai, mereka kembali lagi tidak bermoral melakoni pekerjaan yang merusak akhlaq. Mana bukti kemenangan yang dikoar-koarkan? Mana penjabaran hari kemenangan oleh media massa dijadikan penyemarak berita??

Bahkan sekarang makin marak penayangan hiburan sensualitas dan tidak pantas ditayangkan media dalam rangka menikmati hari kemenangan. Hari kemenangan yang seharusnya suci tapi diisi hiburan tidak bermoral. Lha yang mendefinisikan makna kemenangan itu apakah kita, apakah sekehendak manusia, apa terserah definisi dari media massa??

Maka dari itu, mari kita jaga jangan sampai kesucian Ramadhan dan Idul Fitri dinodai dengan pemaknaan sekehendak hati orang-orang tidak bermoral. Mari kita kembalikan makna kemenangan kepada makna yang sebenarnya. Ketika Ramadhan menjalankan ibadah puasa dengan maksimal menjauhi hal-hal maksiat dan mengisi Ramadhan dengan berbagai ibadah lillaahi ta’aala, yang artinya menjaga diri dari berbagai pantangan puasa, tidak makan dan minum, tidak bergunjing, tidak menghasut dan adu domba, dan segala macam kemaksiatan lainnya. Juga harus jaga niat puasa, jaga niat taraweh jangan karena pingin dilihat orang saja, juga ikhlas menjani Ramadhan hanya untuk Allah swt. Karena puasa dalah untuk Allah swt, dilihat orang atau tidak dilihat orang tetap berpuasa dengan hati teguh ikhlas untuk Allah swt semata. Maka Allah mengatakan bahwa pahala puasa dilipatgandakan beratus kali lipat. Selanjutnya, imbas dan keberhasilan memaksimalkan Ramadhan adalah berubahnya tingkahlaku dan keseharian menjadi orang yang berusaha lebih baik lagi dari sebelumnya, bertahan semakin baik bahkan setelah hari raya terlampaui. Itulah kemenangan yang sebenarnya.

Kalau media massa ingin turut serta memaknai dan menyemarakkan kemenangan maka jangan menafsirkan sendiri bagaimana bentuk kemenangan itu, jangan menampilkan hiburan seronok dengan dalih dalam rangka menyemarakkan hari kemenangan, jangan merubah kemenangan yang penuh kesucian dan hikmah menjadi tidak bermoral dan sekehendak uang bermotif mencari ranking tayangan dan laba semata.

Selamat menjalankan ibadah puasa pada Ramadhan 1429H ini, semoga ibadah kita mendapatkan hasil yang optimal di dunia dan akherat. Amien.

Penyelewengan Sejarah: Iskandar Zulqarnain Vs Alexander The Conqueror

Agustus 22, 2008

Dalam Islam, kita temukan berbagai macam usaha perusakan dan penyimpangan. Contoh mengenai perusakan kebiasaan (link: Sepele), dalam pakaian (link: Jilbab), dalam tingkah laku (link: Dewi Perssik). Selain dalam ucapan dan tingkah laku, penyelewengan terhadap islampun terjadi dalam hal sejarah. Yaitu perubahan penggambaran dan bentuk ideologi seseorang ataupun suatu kaum pada masa lalu secara sepihak dengan maksud untuk mendapatkan kebesaran nama tokoh tersebut dan memenangkan ideologinya.

Kalau di Indonesia ada beberapa kasus seperti kisah Raja Sisingamangaraja yang (kalau saya tidak salah) memakai mata uang bertanda islam tapi kemudian disembunyikan agar seakan-akan Sisingamangaraja beragama lain. Ada pula Capitan Pattimura yang (kalau tidak salah lagi) dia bernama Ahmad Matulessi, tapi hal ini juga disembunyikan dan dia dinyatakan bukan islam. Mungkin masih banyak lagi tokoh-tokoh lain yang kurang terkenal atau jarang diketahui publik mendapat perlakuan seperti itu juga. Mereka seharusnya kita doakan tapi karena kita mendapat data sejarah yang telah direkayasa (seakan-akan mereka bukan islam), maka mereka tidak mendapatkan doa dari anak turunnya, tidak juga mendapatkan doa dari saudara seiman dalam islam.

Itu baru di Indonesia, tokoh duniapun demikian. Sering kita dengar Iskandar Zulqarnain adalah anak dari Philip XI dari Yunani (Macedonia), yaitu seorang raja yang beragama tidak karuan (menyembah dewa). Iskandar anak Philip ini (Alexander), karena dianggap sebagai Iskandar Zulqarnain yang tercantum dalam Alqur’an, maka dia mendapat tempat mulia dalam pendidikan dan pengajaran Islam dan menjadi cerita menarik di berbagai lembaga pendidikan Islam. Salah satu proses penyimpangan sejarah ini adalah minimnya fakta sejarah serta adanya penulisan dalam berbagai kamus dan literatur sejarah yang tidak betul oleh orang diluar Islam. Di dalam kamus Bahasa Arab Munjid karangan Lewis (nasrani) Libanon pada awal abad 20 ditulis bahwa Iskandar Al Kabir adalah anak Philip yang bernama lain Iskandar Zulqarnain, dan ini masih menjadi salah satu kamus yang dipakai di beberapa lembaga islam (saya hanya mengomentari mengenai penulisan Iskandar Zulqarnain sebagai anak Philip di dalam kamus ini, bukan mengkritik keseluruhan isi kamusnya, karena pada dasarnya kamus ini sangat bagus dan bermanfaat untuk menunjang pendidikan bahasa Arab). Akhirnya buku-buku lain yang merujuk hanya kepada pernyataan bahwa Zulqarnain adalah anak Philip menjadi ikut salah kaprah.

Mengenai Zulqarnain, patokan pertama adalah bahwa dia membuat tembok pembatas atas suatu kaum. Para ahli sejarah dan arkeologi banyak menemukan bukti-bukti tembok raksasa kuno (lebih kuno daripada tembok China), dan juga jauh dari masa Alexander Macedonia. Sedangkan di dalam Alqur’an disebutkan kisah Zulqarnain QS.Al-Kahfi 83-99. Diantara arti ayat-ayat yang menceritakan tembok pembatasnya adalah:

“Hingga dia (Zulqarnain) telah sampai di tempat matahari terbenam, dia melihatnya terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan disana ditemukan suatu kaum (tidak beragama). Kami berfirman: ‘Wahai Zulqarnain! Engkau boleh menghukum atau berbuat kebaikan (mengajak beriman) kepada mereka’.” (86).

“Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung, didapatinya dibelakangnya suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan.” (93).

“’Berilah aku potongan-potongan besi!’. Hingga ketika besi itu telah sama rata dengan kedua puncak itu, dia berkata, ‘Tiuplah api itu!’ Ketika itu sudah menjadi api (merah), diapun berkata, ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar ku tuangkan ke atasnya!’.” (97).

“Maka mereka (Ya’juj dan Ma’juj) tidak dapat mendakinya dan tidak dapat melubanginya.” (97).

Perbedaan di antara Alexander Macedonia dengan Zulqarnain adalah:

Alexander Macedonia: (1) Penyembah berhala, (2) suka sesama jenis, (3) penjajah dengan segala cara (datang, merusak, dan merampas), (4) tidak membangun tembok pembatas.

Iskandar Zulqarnain: (1) Menyembah Satu Tuhan, (2) mendapat firman (ilham atau wahyu), (3) tidak mengambil harta negeri jajahan secara dzalim, (4) membuat tembok pembatas untuk melindungi negeri yang didatanginya.

Jadi, sangat jelas bahwa Alexander Macedonia pastilah bukan Zulqarnain yang disebutkan di dalam Alqur’an, dan ummat Islampun harus segera berhenti menyanjung Alexander Macedonia sebagai Iskandar Zulqarnain.

Dengan banyaknya versi sejarah mengenai Zulqarnain dan pengaruh lamanya waktu kejadian, muncul beberapa versi juga di dalam Islam. Diantaranya:

Yang pertama, ada yang memperkirakan dia adalah Darius, Raja Persia kira-kira 300-an tahun sebelum masa Alexander, atau Cyrus, atau beberapa generasi lebih tua lagi. Jika mengikuti perkiraan ini, maka berarti Darius menjelajah dan membuat tembok pembatas dari kaum Yunani (termasuk Macedonia) yang suka menyerang negara lain dan dianggap sebagai bagain dari Ya’juj dan Ma’juj, kemudian memutar ke arah timur dan meninggalkan satu kaum diluar temboknya yang disebut kaum Turki (dari bahasa Arab: Taraka-Yatruku), selanjutnya yang dimaksud laut berlumpur adalah laut Hitam atau danau Ural. Tembok ini baru bisa dirusak oleh Alexander beratus tahun kemudian. Mungkin versi ini yang mengawali penyebutan Iskandar Zulqarnain sebagai pelindung dan pembuat tembok, sedangkan Alexander disebut Iskandar Al Kabir atau Iskandar Al Maqduni yang merusak dan meruntuhkan tembok.

Versi kedua, diperkirakan Zulqarnain adalah salah satu keturunan Fir’aun yang keluar dari Mesir karena mengikuti ajaran Musa as, melakukan perjalanan hingga daerah China dan atas permintaan penduduk China diminta membuatkan tembok pembatas dengan negara utara (Mongolia) yang suka berperang dan menunggang kuda (Ya’juj dan Ma’juj), dan menurut arkeologi masih ada reruntuhan tembok ini karena berkonstruksi besi baja dan tembaga mirip dengan yang disebutkan di dalam Alqur’an serta juga mirip cara bangun dan desain Mesir. Hal lain yang mendukung kemungkinan bahwa Zulqarnain dari Mesir adalah pengolahan kertas yang berkembang pesat di China setelah masa itu, karena sebelumnya pengembangan kertas hanya ada di Mesir dengan papyrus (paper). Tembok ini diperkirakan juga samapai ke daerah Turki dan juga kaum Turki yang ditinggal di utara tembok. Setelah tembok ini mulai dirusak oleh penyerang, barulah muncul pembuatan tembok China yang baru seperti sekarang ini.

Ummat Islam seharusnya memilih versi-versi Islami ini plus sudah jelas ada bukti ilmiahnya, daripada cerita Alexander yang jelas-jelas salah. Silahkan pilih mana yang lebih kuat bukti dan kemungkinannya, itu lebih baik. Dalam dua versi ini ada beberapa persamaan: (1) Tokohnya menyembah Satu Tuhan, (2) sama-sama memakai mahkota dua tanduk (Zulqarnain), (3) sama-sama membuat tembok pembatas.

Bahkan kalau mungkin, seharusnya hal ini difatwakan MUI agar buku sejarah Islam mengenai Zulqarnain ditulis ulang dan melarang versi Zulqarnain sebagai Alexander agar generasi Islam tidak jadi generasi bodoh dan dibodohi terus-terusan.

Sekian semoga bermanfaat, wallahu a’lam.

Menghina Utusan Tuhan

Agustus 18, 2008

“Ngapain sih kamu ngurusin agama orang lain?, urusin aja agama kamu sendiri!”, begitu dia menjawab ketika saya bertanya mengenai Yesus. Kenapa Tuhan disalib ya……

Kemudian saya katakan “Saya tidak mengurusi agama orang lain, tapi saya mengurusi urusan agama saya sendiri”.

“Maksud lhooe.!”, dia bertanya lagi

“Ya iyalah”, saya jawab. “Karena kalian telah menghina Yesus”. Tambah bingung…….

“Yang kalian anggap Yesus itu, di dalam agama saya merupakan salah satu tokoh yang sangat dihormati, salah seorang manusia utama yang dipilih Allah swt untuk menjadi utusan-Nya alias jadi rasul dan kami menyebutnya Isa as. Dia bukan pesakitan yang disiksa, dipukuli dengan penuh kehinaan, disalib, dan merengek-rengek mencari Tuhannya”.

Demikianlah adanya, Yesus ataupun Isa pada intinya adalah sama, namun dengan perbedaan penggambaran, perbedaan alur cerita, dan perbedaan cara pandang terhadapnya yang dengan itu semua telah menjadikan Yesus atau Isa seakan-akan bukanlah sosok yang sama.

Di dalam alur yang pertama dinyatakan bahwa Isa as adalah seorang manusia pilihan Allah swt sebagai rasul yang memberikan pengajaran agama tauhid. Di dalam QS.Maryam 16-40 disebutkan mengenai Nabi Isa as, termasuk mengenai kejadian Isa. Diantara artinya sebagai berikut:

“Dia (Maryam) berkata:”Bagaimana mungkin aku punya anak, padahal tidak pernah ada laki-laki yang menyentuhku dan aku bukan pezina!””. (20).

“Dia (Jibril) berkata:”Demikianlah Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya sebagai tanda (kebesaran Allah) bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu urusan yang sudah diputuskan”””. (21).

Jadi menurut Islam, Isa (Yesus) adalah manusia (dieja= M A N U S I A). Dengan adanya seorang ayah ataupun tanpa ayah, itu adalah hal mudah bagi Allah swt. Bahkan manusia pertama, yaitu Adam, tanpa ayah dan tanpa ibu namun Adam tetap saja manusia, bukan menjadi anak Tuhan. (link: Cerita Apel)

Selanjutnya, mengenai penyimpangan penuhanan Isa (Yesus) ini seperti tertulis di dalam QS.Maryam 88 yang artinya: ”Dan mereka berkata, “Tuhan yang Maha Pengasih mempunyai anak”. Inilah alur cerita yang kedua, mempertuhankan Isa (Yesus) padahal mereka hendak memberikan kehinaan dan olok-olokan yang mereka lontarkan kepada Yesus karena mereka tidak mau mengimani Yesus secara benar sebagai utusan Tuhan. Maka, dijadikanlah Yesus sebagai anak Tuhan yang dihinakan diatas salib, merengek-rengek memanggil Tuhan “Eli Eli, lama sabakhtanii” è “Tuhanku Tuhanku, mengapa kau tinggalkan aku”.

Dengan penghinaan terhadap Isa as seperti ini, maka saya membela dia sebagai salahsatu nabi yang saya imani. Nabi yang seharusnya dimulyakan, malah dijadikan bahan olok-olokan dan dihinakan. Bahkan, kalau kita gali lebih dalam, penghinaan atas nabi memang sudah mendarah daging dalam diri orang-orang yang menyelewengkan ajaran Yesus. Dalam kitab mereka dikatakan Nabi Luth as (Loth) mabuk dan berhubungan sex dengan dua orang anak perempuannya sendiri, Nabi Ibrahim as (Abraham) mabuk sambil telanjang keluar kemahnya lantas ketika anaknya membantunya malah dikutuk, Nabi Daud as (David) merebut istri salah seorang pasukannya karena tertarik kecantikannya, Nabi Sulaiman as (Solomon) mempunyai anak haram dari hubungan tanpa nikah dengan Balqis (kalau tidak salah, disebut Sheba), Ya’kub berhubungan sex dengan menantunya sendiri, dan lain sebagainya. Belum lagi kata-kata kotor yang muncul di lembar-lembar kitab “suci” itu, ada yang mengupas ketertarikan terhadap tubuh perempuan seperti pohon anggur yang siap dipetik “itunya” (jadi ngeres juga otak saya……………hehe), ada juga Ayub yang mengatakan kalau berbohong maka biar istrinya ditiduri orang lain. Walaah…………*&%*

Dari sekian banyak contoh itu apakah masih mau dipungkiri bahwa menghina para utusan Tuhan memang telah menjadi sifat mereka. Yahh, begitulah nasib manusia-manusia utama pilihan Tuhan di mata mereka, dihinakan dan dijadikan bahan olok-olokan. Cerita para nabi itu diputarbalikkan menjadi tidak bermoral semuanya. Ya hanya di kitab mereka kita temui penghinaan terhadap para manusia mulya yang seharusnya (kalau mereka benar-benar mengimaninya) dihormati dan tidak mungkin berkehidupan tidak beradab dan tidak bermoral. Para utusan Tuhan itu seharusnya ditempatkan sesuai harkat martabatnya sebagai manusia-manusia pilihan yang menjadi panutan.

Kalau mengenai “menjadi panutan” memang iya, para utusan Tuhan itu mereka jadikan panutan (sesuai dengan cerita yang ada yang ada di dalam kitab mereka) maka digalakkanlah punya anak diluar nikah, sex bebas, mabuk-mabukan, berkata-kata kotor, dan lain sebagainya. Lantas apakah isi ajaran asli dari Yesus seperti itu (tidak bermoral). Tentu saja tidak demikian. Maka jelaslah bahwa sebenarnya orang-orang yang membuat kitab-kitab dengan cerita seperti itu sebenarnya tidak mengimani para utusan Tuhan tersebut, tapi merupakan bagain dari orang-orang yang membenci utusan-utusan Tuhan itu. Begitu pula orang-orang yang mengimani kitab semacam itu, sama juga tidak mengimani para nabi dan tidak mengimani Yesus itu sendiri.

Di dalam QS.Al-an’aam 84-90 disebutkan mengenai utusan Tuhan, salah satu ayatnya bermakna: “Mereka itulah orang-orang yang telah Kami beri kitab, hikmah, dan kenabian……. (89).

Naah, udah jelas kan sekarang. Bagi saya, para manusia utusan Tuhan yang dihinakan tersebut adalah manusia terhormat pilihan Tuhan maka wajib dibela dari penghinaan orang-orang yang tidak mau berpikir.

Mohon dipahami dengan otak dingin dan obyektif.

Semoga bermanfaat. Amiin.

Merdeka !!!

Agustus 17, 2008

Menurut siapa Indonesia telah merdeka……..?

Menurut para pencuri, Indonesia belum merdeka karena mencuri masuk sel berhari-hari.

Menurut para koruptor, Indonesia belum merdeka karena korupsi dianggap kotor.

Menurut para perampok, Indonesia masih dijajah karena rampok masih dianggap momok.

Menurut para pelacur, Indonesia masih dijajah karena belum bebas melacur

Menurut para pelaku porno-aksi, Indonesia kapan merdekanya, kok kami dibatasi undang-undang segala.

Ehhh, yang asalnya baik-baik ternyata banyak juga yang ikut protes…….

Sebagian seniman protes kenapa nggak bisa merdeka menampilkan pornografi, itukan hak asasi.

Sebagian agamawan keblinger protes juga kok nggak bisa merdeka menafsirkan dalil dan norma.

Sebagian dari kita tetap merasa belum merdeka dengan dalih hak asasi, dengan dalih kebebasan mendapat informasi, dengan dalih belum bebas merusak harta dan jiwa orang lain.

Akan kemana kita bawa bangsa ini, negara basis porno, negara koruptor, negara perampok, negara pelacuran, ………….

Masih teruskah kita menjadi sebagian orang yang berpikir bahwa kemerdekaan itu adalah ketika kita bebas sebebas-bebasnya, bebas dari aturan norma dan akhlaq, bebas dari ketentuan agama, merdeka ketika kita menganggap agama dan moral bukan urusan penting, …………

Atau kita bangkit menuju kemerdekaan yang berketuhanan, kemerdekaan yang bernorma, kemerdekaan yang beradab, kemerdekaan yang berkeadilan, kemerdekaan dengan tetap mengutamakan moral diatas segalanya, …………

Masa depan Indonesia masa depan kita bersama !

Akan kita bawa kemana Indonesia !

Selamat Ulang Tahun ke-63 Indonesiaku !

Merdeka !!!

Jilbab Vs Kerudung

Agustus 15, 2008

Kerudung dalam keseharian kita sering kali disebut pula sebagai jilbab. Sebetulnya kebiasaan menyebut berkerudung dengan berjilbab baik-baik saja, namun kemudian kerancuan term ini menjadikan kategori jilbab tidak pas lagi.

Coba saja perhatikan, Indonesia bangga menyandang gelar sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim di dunia padahal hanya sebatas kuantitas saja bukan dalam kualitas, kita juga bangga dengan pernyataan bahwa saat ini semakin banyak para remaja putri Islam yang kesehariannya memakai jilbab, entah bersekolah, kuliah, atau kerja, karena Indonesia merasa bisa menampung aspirasi ummat Islam untuk berbusana muslimah tidak seperti di negeri sekuler lainnya yang membatasi pemakaian jilbab di sekolah misalnya, seperti yang terjadi di Turki dan negara-negara eropa. Bangga mendengarnya, senang hati rasanya.

Eits…….. tunggu dulu. Sudah lihat buktinya belum? Benar nggak statement tersebut?

Ternyata yang dibangga-banggakan tersebut tidaklah 100% benar, karena jilbab yang katanya semakin banyak dikenakan para muslimah di negeri kita bukanlah jilbab pada kategori yang seharusnya. Silahkan perhatikan, tuuuh…… tengok kanan dan kiri anda, yang ada hanyalah wanita berkerudung saja bukan berjilbab, kecuali sedikit saja.

Nah looh, gimana bisa cuma berkerudung tapi tidak berjilbab, lantas berjilbab itu yang gimana?

Kita banyak melihat di sekitar kita muslimah yang mengenakan kain penutup kepala rapi seperti yang memang diperintahkan oleh syariat, tapi setelah kita lihat pakaiannya sama sekali tidak mencerminkan islam. Mereka memakai kain baju dan bawahan yang ketat full press body, singset-set-set….bahkan mungkin kekecilan.

Pemahaman yang campur aduk jadi masalahnya. Ada yang mendefinisikan jilbab harus modis dan gaul, ada yang bilang “berjilbab iya tapi harus tetap menampilkan kecantikan”, plus campur tangan liberalis yang menganggap penafsiran Alqur’an dan Alhadist harus diperbaharui mengikuti zaman, belum lagi peran-serta para pengusung gerakan feminisme dan persamaan hak perempuan. Semuanya satu tujuan merusak term jilbab dan mengajak para muslimah agar menganggap berjilbab yang sesuai syariat itu ketinggalan zaman, djadoel katanya.

Dalam Alqur’an, Allah telah memberikan beberapa batasan dalam berpakain dalam hal ini mengenai jilbab, diantaranya di dalam surah AnNuur ayat 31 yang artinya: “…….dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (khimaar) di dadanya……”, kemudian di surah AlAhzaab ayat 59 yang artinya: “……”Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”…….”.

Dari kedua ayat tersebut dinyatakan bahwa pakaian muslimah adalah kelengkapan penutup aurat untuk muslimah yang termasuk di dalamnya adalah kerudung (dalam bahasa arab ada beberapa jenis bentuk dan penyebutan/kosakata) dan pakaian yang menutupi seluruh badan, yaitu dari jenis baju yang lapang dan tidak menunjukkan lekuk tubuh.

Yang pertama, terkait pula dengan penafsiran dan pembatasan pemakaian penutup kepala, ada beberapa versi bentuk. Secara umum dibagi dua, yaitu terbuka wajahnya dan tertutup wajahnya (terlihat mata dan sekitarnya saja). Penutup kepala yang umum dipakai adalah kerudung atau disebut khimaar atau sufur, sedangkan sebagian lagi memakai penutup wajah yang disebut cadar atau niqab. Keduanya memiliki dasar dan tidak perlu untuk diperdebatkan berlebihan, karena keduanya sudah berusaha menjalankan perintah nabi dengan baik dan benar. Yang perlu dibenahi adalah muslimah yang belum berusaha memperbaiki cara berpakaiannya.

Selanjutnya, penjelasan mengenai jenis pakaian yang diperbolehkan untuk dipakai muslimah diterangkan dalam beberapa hadist, diantaranya bahwa baju untuk muslimah adalah baju lapang dengan batasan oleh rasul selebar 2 atau 3 atau 4 jari, jadi tidak boleh kekecilan dari ukuran tubuh dan batasan yang telah ditentukan. Selain itu, baju muslimah juga tidak boleh terlalu lembut sehingga menunjukkan tulang-tulang badan (pundak, pinggul, dan sebagainya). Yang dimaksud adalah baju yang terlalu lemas dan jatuh ke badan sehingga lekuk tubuh wanita yang memakainya akan tergambar atau tercetak, atau juga jenis pakaian yang terlalu tipis menerawang. Diantara baju lembut dan lemas adalah seperti satin dan sutera, serta pakaian Qibtiyah (pada masa nabi ada baju lembut dan tipis asal Mesir, kalau sekarang ada disemua negara). Jika baju jenis lembut ini dipakai, diperbolehkan sebagai baju dalam atau diberi rangkapan.

Dalam penerapannya, pakaian muslimah ini ada beberapa penafsiran juga. Diantaranya ada yang memperbolehkan memakai pakaian terpotong (atasan dan bawahan), dan yang tidak memperbolehkan pemisahan baju atasan dan bawahan dengan alasan pemisahan atasan dan bawahan akan memperlihatkan lekuk tubuh (pinggang) dan sebagainya. Variasi ini bagi saya bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan, karena perintah rasul adalah untuk tidak memperlihatkan lekuk tubuh pemakai. Maka, jika pakaian atasan dan bawahan dikenakan dan diukur dengan semestinya dan dari jenis kain yang baik sehingga lekuk tubuh tidak terlihat (karena sudah tertutup pakaian atasan yang terjuntai kebawah pinggang), maka tidak menjadi masalah mengenakannya.

Naah, bagi muslimah yang sudah berpakaian sesuai syariat, jangan takut tidak kelihatan cantik atau ketinggalan zaman, karena fungsi jilbab yang utama bukan untuk menunjukkan kecantikan dan sensualitas, tetapi menjaga kehormatan dan menjaga pandangan. Ingatlah bahwa wanita baik-baik adalah untuk laki-laki yang baik-baik juga.

Dengan mentaati ketentuan Allah, InsyaAllah akan mendapatkan rizqi yang mulia (surga). Amien.

Semoga bermanfaat.

Bagaimana Saya Harus Bersikap??

Agustus 14, 2008

Seorang ulama mengatakan bahwa orang besar bukan hanya yang bisa tampil menjadi pemimpin besar, tapi orang yang besar adalah orang yang mau mengajar anak-anak kecil di sebuah surau kecil di daerah terpencil. Orang jenis ini adalah orang yang besar hatinya, besar jiwanya, besar mentalnya. Mereka bersedia meletakkan kehidupannya dalam tataran hidup susah, keluarga yang dibawanya juga merupakan keluarga yang wajib bermental besar seperti dirinya, dibawa dan ditempatkan dalam kesusahan hidup.

Pernahkah kita berpikir, berapa prosentase seorang islam yang berjiwa besar untuk bersedia hidup sedemikian? Berapa prosentase pula calon istri pendidik-pendidik ini yang bersedia menjawab “Ya, saya bersedia hidup susah” ketika ditanyakan padanya “Maukah engkau hidup bersamaku di daerah tak berpengetahuan dan jauh dari modernitas?”.

Kadang pula ada orang yang gampang menyatakan ”Berkeluarga adalah mencari ridho Allah, kenapa harus ditanyakan untuk diajak hidup susah. Itu tanda seorang laki-laki yang pesimistis”. Apa benar seindah itu dalam melangkah di pernikahan menuju ridho Allah? Apakah sudah difikirkan resiko dan tanggungjawab yang harus diemban?. Bagi seorang yang merasa mampu, mungkin dengan cepat akan menyatakan kesanggupannya menikah. Tapi ketika dia tahu bahwa perjalanan hidup itu tidak berada di situasi normal, yang tidak memungkinkan bagi calon suaminya meningkatkan taraf hidup keluarga, masih bersediakah calon istri ini menerima dan menjalaninya?

Ketika terbayang situasi daerah terpencil, jauh dari fasilitas, jauh dari tempat mengembangkan usaha untuk menghidupi keluarga, bahkan mungkin tidak bisa chatting dan sharing dengan teman-temannya dahulu (hehe…….mungkin saja kan kalo daerahnya benar-benar jauuuuuh……dari peradaban), dan segenap kemudahan yang dulu pernah diperolehnya tiba-tiba menghilang, maka masih mungkinkah dia menjawab “Ya”.

Mungkin ada yang bilang ketika seorang laki-laki mengkhitbah perempuan dan yang pertama ditanyakan adalah “Maukah kamu hidup susah bersamaku?”, maka dianggapnya itu sebagai ucapan seorang pemuda yang pesimistis. Bisa jadi benar, tapi apa semuanya demikian?. Kadangkala dia menyatakan demikian karena terlalu mencintaimu, terkadang dia menyatakan demikian karena telah jauh memikirkan kehidupanmu dan anak-anak. Jika ada yang demikian, lebih baik saling mengutarakan dan mengungkapkan dengan diskusi, demi penyelesaian yang baik. Menuju ridho Allah pun perlu pertimbangan dan rencana serta dimulai dari sebelum menikah tentunya. InsyaAllah barakah. Amien.

Tiada kehidupan tanpa kesengsaraan, dan tiada kebahagiaan tanpa melewati kesulitan.

Ngemeng-ngemeng (gaya Tukul..), penulis sendiri belum pernah berpengalaman melamar, sehingga tulisan ini sekedar usaha mengeluarkan pikiran saja. Semoga Allah menjauhkan saya dari sikap pesimistis dan takut. Amien.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Wise Word August 2008

Agustus 13, 2008

P e r j a l a n a n H a t i

S a l a h k a h d i r i k u m e n c a r i m u

M e n g h a r a p k e b a i k a n m u s e l a l u

I n d a h n y a d u n i a s e a k a n p e l i p u r r a s a

K e m a n a a s a n a n k u h a r a p i n i

P e r j a l a n a n h a t i ‘ t u k m e n e m u k a n k e i n d a h a n

S e d a l a m i t u l a h p e n d e r i t a a n k u

‘ T u k l u a s k a s i h s a y a n g m u n a n k u r i n d u

K u t e t a p m e n g h a r a p k e b a i k a n m u s e l a l u

M e m e n d a m p e s o n a h a t i n a n s u r a m

S e r a s a a b a d i . . .

P e n u h r a s a h a r a p t a n p a h e n t i

E l a k k a n s e m u a . . . s e m u a n y a . . . t a n p a k e c u a l i

T i d a k a k a n m a t i a s a d i j i w a i n i

T a k k a n t e r s i a k a n s e g e n a p p e r j a l a n a n h a t i

M e r i n d u m u m e n g h a r a p m u m e n a n t i m u

S e l a m a n y a . . .

A b a d i k a n d i r i k u b e r s a m a m u

J a u h d a r i i n d a h d u n i a s e m u

A b a d i k a n d i r i k u b e r s a m a m u

S e l a m a n y a . . . a b a d i . . .

Kepada Tuhanku

Ku mengharap selalu,

Rahman, 30 juli 2008

NB: Kata ganti “mu” dibaca “Mu”.

Kamu Setuju Nggak untuk Berpoligami???

Agustus 13, 2008

Beberapa waktu lalu, saya ditanya teman (mar’ah), “kamu setuju nggak untuk berpoligami?”. Awalnya kaget juga mendapat pertanyaan demikian, karena pertanyaan itu seharusnya bersifat personal (pribadi), kenapa ditanyakan ke saya. Tapi mengingat bahwa yang menanyakan hal itu benar-benar hanya teman berdiskusi, maka saya beranggapan bahwa sebenarnya yang ingin dia tanyakan adalah pendapat saya mengenai dalil-dalil poligami, bukan kesanggupan saya untuk melakukan poligami (hehe…. sempet gr juga ditanya begitu).

Namun, saya tidak memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. “Itukan hal pribadi”, saya bilang. Berikutnya saya balik bertanya, ”kalo kamu dipoligami mau nggak?”. Tanpa saya duga, dia menyatakan bersedia dipoligami. Selanjutnya saya tanya lagi, “nggak takut suami berlaku nggak adil?, apa nggak takut juga entar istri yang satu dengan yang lain saling iri jika ada sesuatu yang kalian rasa nggak adil?”. Akhirnya dijawab juga, “ya takut siih…….”. Jawaban terakhir ini menunjukkan bahwa memang kadang ada ketakutan dalam memilih sesuatu, entah khawatir dengan resikonya, atau berkaitan dengan pertimbangan yang menjadi dasar keputusannya tersebut, dan ini berawal dari pertanyaan yang personal tersebut.

Ketika kita ditanya setuju atau tidak setuju dengan sesuatu hal, dengan kata lain mau atau tidak, maka itu adalah pertanyaan yang saya anggap personal, karena kita menjawabnya dengan pertimbangan akal dan kemampuan kita, tentu saja dengan subyektifitas kita juga.

Sedangkan kalau ditanyakan pendapat saya mengenai berpoligami berdasar cara hidup saya (syariat Islam), tentu tidak bisa saya jawab dengan setuju atau tidak setuju, bersedia atau tidak bersedia. Tapi mengacunya kembali kepada dalil tentang boleh atau tidaknya berpoligami. Kalau dalil menyatakan boleh berpoligami maka tidak dimungkinkan bagi saya untuk menyatakan tidak setuju, karena dalil tidak akan berubah dengan adanya pernyataan pendapat seseorang. Begitupun sebaliknya, jika dalil menyatakan tidak diperbolehkan, maka saya tidak bisa menyatakan hal yang tidak diperbolehkan syariat itu berganti hukumnya menjadi diperbolehkan.

Jadi, jika pertanyaannya semacam itu (boleh atau tidak boleh berpoligami?), maka itu adalah pertanyaan umum dan menjawabnya juga bukan berasal dari saya pribadi, tetapi dengan membaca dan menganalisis dalil (syariat Islam).

Kalau pertanyaannya tetap seperti awal (kamu setuju nggak untuk berpoligami?), maka itu tergantung otak saya, saya mampu nggak, dan jika saya menyatakan setuju (bersedia) maka muncul juga subyektifitas diri saya atas diri seseorang yang akan saya ajak berpoligami sampai dengan menganalisis kecantikannya, kepandaiannya, budi pekertinya, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Hehe……., tulisan ini sekedar uneg-uneg. Semoga bermanfaat.

Hati-hati dengan Hal Sepele

Agustus 13, 2008

Berbagai hal yang bisa merusak pola pikir islami dan berbagai segi kehidupan islam terjadi di berbagai bentuk, bahkan dalam hal yang simple dan sepele. Dalam hal ini adalah mengenai kata-kata dan tulisan di komunitas muda islam. Kita tahu bahwa biasanya ucapan-ucapan gaul atau ngetrend cepat sekali menyebar dan tambah ramai dipergunakan orang yang berjiwa gaul, merasa tidak boleh ketinggalan zaman, dan terutama para remaja yang lagi senang-senangnya bersosialisasi.

Para perusak bahasa sering memperkenalkan jenis kosakata baru yang sering diucapkan diberbagai tempat dan aktivitas, termasuk juga singkatan dan tulisan-tulisan dalam sms atau chatting. Sebenarnya ini benar-benar hal yang simple dan sepele, tapi melihat dengan keadaan pola pikir remaja islam pada saat ini yang sebagian besar masih “apa adanya” dengan kencangnya arus pergaulan, maka hal-hal yang sebenarnya sepele tadi membawa mereka dan kita semua kepada situasi yang susah dimengerti. Ini anak islam atau bukan, ini pergaulan islam atau bukan, karena ya itu tadi, adanya pembiaran hal-hal yang sepele sehingga menjadi untaian rantai yang berkembangbiak di setiap otak dan aktifitas anak-anak islam.

Beberapa waktu lalu kita mendapati dalam komunitas sms dan chatting, penulisan Allah menjadi 4JJI. Padahal kemudian terungkap bahwa itu adalah singkatan yang berarti 4 (for) Jesus J….. I……. (saya tidak tahu secara arti lengkapnya, yang jelas ada yang memberikan info ini sebagai masukan kepada saya).

Nah, baru-baru ini di room chatting islami ada pemakaian salam yang nyleneh yang mungkin bagi orang yang tidak faham akan dianggap sesuatu yang baru, gaul, dan ngetrend sehingga akan marak digunakan. Di sana ada yang menggunakan salam “Alsalam syalom”. Looooh, ini apa lagi……!. Salah satu yang saya ketemukan memakai salam seperti ini ketika saya pertanyakan kebenaran ucapan kalimat tersebut malah menjawab “Emang kamu yang nentukan salah dan benar!” (&*%*……. capek dah.). Baru ditanya begitu aja jawabannya memperlihatkan bahwa dia ketus dan kurang ramah, semaunya sendiri, sak enake dhewe, khas orang-orang yang berpikiran bahwa kebebasan adalah prioritas. Beginilah dunia………kerusakannya tanpa akhir………… (Whalah,……. ngelantur! @)#$*%).

Perlu diketahui, bahwa kata syalom adalah kata dalam bahasa Ibrani dan menjadi salam bagi orang-orang Yahudi dan Nasrani/Kristen. Memang mirip dengan bahasa Arab, karena akar katanya dari bahasa yang masih berkerabat. Tapi apa ya harus sedemikian, gaya gaul anak muda islam, meninggalkan bahasa sendiri dan memakai bahasa agama lain dan itu bakalan menjadi syiar turut menyebarluaskan agama tersebut. Sedangkan islam, dianggap jelek dan dijauhi, mulai dari alasan bahasa gaul-lah, kebebasan berpikir-lah, atau bisa jadi sebagian memang tidak faham dan menjadi bagian kerusakan tersebut.

Mohon hal-hal sepele seperti ini menjadi perhatian dan kewaspadaan bersama, karena imbasnya nanti bukan lagi sepele, tapi pasti akan menjadi kerusakan yang menjalar ke berbagai segi kehidupan.

Semoga bermanfaat.