Arsip untuk September, 2008

Ramadhan Memupuk Keserakahan

September 13, 2008

Itulah kenyataan yang harus kita akui adanya. Bulan yang diagungkan, bulan yang diberkahi, bulan yang didalamnya kita bisa menimba jutaan poin kebaikan, namun dikalangan ummat islam saat ini, bulan ini tidak lebih dari sekedar memuaskan nafsu yang sebelumnya tertunda. Bulan ini dipergunakan sebagai bulan boros, bulan dimana kita menghamburkan uang untuk balas dendam setelah seharian berpuasa dengan hidangan melimpah, bulan ini adalah bulan dimana kita makin sering berbelanja untuk berbagai kebutuhan materi, sajadah baru, peci baru, baju baru, sarung baru, mukena baru, tapi iman tidak diperbaharui, keyakinan juga tidak diperkuat lagi. Di bulan ini pula kejahatan meningkat, karena para penjahat kambuhan ini juga orang yang merasa perlu menambah materi menjelang lebaran. Titik kemenangan bagi mereka adalah terpenuhinya kebutuhan materi untuk berlebaran, termasuk di dalamnya kebutuhan akan baju baru, makan enak, dan sebagainya.

Ada pula yang bilang, beli baju dan sarung itukan juga untuk ibadah. Kok dipermasalahkan. Nah, ini dia mulai ada unsur hitungan enak ndak enak, untung ndak untung. Alasan semacam ini menunjukkan bahwa disana mulai ada keinginan bahwa beribadah hanya jika dalam keadaan enak dan nyaman saja. Kalau tidak dikasih enak dan nyaman oleh Allah swt maka tidak mau beribadah. Tidak menyadari pula bahwa ibadah adalah untuk Allah swt semata, ibadah sebagai kewajiban makhluq kepada Penciptanya, bukan sekedar untuk membalas keberhasilannya memperoleh baju dan sarung baru. Sikap-sikap semacam itu pada akhirnya akan menumbuhkan tujuan baru yang tidak sesuai dengan syariat, dan juga menimbulkan penyimpangan baru dalam pelaksanaan ibadah islam.

Pernah mendengar pertanyaan mengapa jika syaitan dibelenggu di bulan ramadhan, tapi kok masih banyak kemaksiatan di bulan suci ini?

Seorang ulama pernah mengatakan bahwa syaitan memang dibelenggu di bulan Ramadhan, tapi hasil pendidikan syaitan pada diri kita selama sebelas bulan sebelum Ramadhan itulah yang melekat dalam diri kita dan akan merusak kesucian Ramadhan. Entahlah, apakah penyataan ini benar atau salah, namun setidaknya kita paham bahwa berusaha menjadi baik di bulan Ramadhan saja tidak cukup. Ketika syaitan berkeliaran mempengaruhi kita di luar bulan Ramadhan dan kita membiarkan saja atau bahkan mengikuti ajakan syaitan, maka kecenderungan kita untuk berbuat maksiat di bulan Ramadhan tetap ada dan itu terus-menerus seperti kita ketagihan dengan kemaksiatan itu. Kita akan berusaha menjalankan hasil didikan syaitan itu meskipun syaitan yang menjadi guru kemaksiatan itu tidak ada di dekat kita lagi. Seperti para penjahat kambuhan dan pelaku kejahatan lainnya, mereka mendekatkan diri dengan jalan hidup yang seperti itu, membiarkan diri mereka mendapat pendidikan syaitan sepanjang tahun dan akan selalu ketagihan untuk menjalankan kemaksiatan yang diajarkan syaitan.

Godaan di dalam bulan Ramadhan memang merupakan cobaan bagi kita, dan itu pula yang menjadikan bulan Ramadhan sungguh bermakna. Jika kita mampu mengekang hawa nafsu, itulah yang membedakan kita dari orang-orang yang hanya mendapat lapar dan dahaga. Apabila godaan keserakahan mampu kita redam, insyaAllah akan memberikan kita sekat dari bisikan syaitan di luar bulan Ramadhan, dan juga akan memutus rasa ketagihan kita terhadap hal-hal maksiat yang diajarkan syaitan.

Mari kita jaga ramadhan kita untuk tidak memupuk keserakahan dan mengembalikan fungsi Ramadhan untuk meningkatkan iman dan ketaqwaan kepada Allah swt.

Mari kita jaga agar mata kita jauh dari tontonan tidak islami di media elektronik maupun dipinggir-pinggir jalan ataupun di mall.

Mari kita saling menjaga saudara kita untuk menjauhi sarana kemaksiatan dan memutuskan rasa ketagihan terhadap perbuatan maksiat.

Mari kita jaga hati kita agar selalu ingat bahwa ibadah kita, hidup dan mati kita, hanya untuk Pencipta kita, Allah swt.

Semoga hidup yang sekali ini kita tutup dengan husnul khaatimah.

Allaahumma innaa nas-aluka salaamatan fiddiin wa ‘aafiyatan fil jasad wa ziyaadatan fil ‘ilmi wa barakatan fir-rizqi wa taubatan qablal maut wa rahmatan ‘indal maut wa maghfiratan ba’dal maut.

Allaahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annaa.

Aamien ya Rabbal alamiin.

Merapatkan Shaf

September 9, 2008

Mumpung masih Ramadhan mari kita benahi shaf shalat kita. Kenapa pake kata “mumpung”? Karena biasanya hari-hari gini masih banyak yang mau shalat di masjid, entar kalo sudah akhir bulan Ramdhan makin sepi, apalagi kalo udah lewat Syawwal, habis semua. (hehe…….saya juga termasuk yang jarang ke masjid).

Sering kita dengar sebelum shalat dimulai, imam mengatakan “sawwu sufuufakum fainna taswiyatassufuufi min tamaamisshalaat” lalu ma’mum menjawab “sami’naa wa atha’naa”. Ya, itu adalah sebuah seruan perintah imam kepada ma’mum agar memmbenahi shaf mereka. Ma’mum juga menyatakan mereka mendengar dan mentaati perintah tersebut. Tapi apa yang terjadi kemudian, semua itu hanyalah formalitas tradisi. Perintah imam tidak dilaksanakan, shaf kacau, tidak lurus, dan tidak rapat. Bahkan, sebagian besar jama’ah mungkin sekedar ikutan ngomong tapi tidak mengerti apa yang diucapkan dan tidak faham apa yang diperintahkan imam.

Ya, begitulah memang keadaan sebagian besar ummat ini pada masa sekarang, memprihatinkan. Seringkali kita mendapati ungkapan dari Rasulullah yang memberikan petunjuk bahwa ummat islam ini maju mundurnya dilihat dari shalat berjamaahnya. Ada hadist yang menyatakan bahwa ummat islam akan kembali menjadi besar dan ditakuti orang kafir jika masjid penuh dengan jama’ah. Ada pula hadist lain yang menyatakan bahwa ketaatan ma’mum kepada imam dan cara pemilihan imam seperti juga pemilihan pemimpin ummat, jika baik dan sesuai aturan, maka akan terbawa dalam kepemimpinan ummat. (related topic: Pemimpin)

Begitu pula dalam hal pengaturan shaf shalat, tercermin pula disana ketaatan pada pemimpin, dan juga persatuan dan kesatuan ummat dalam keseharian mereka. Maka dari itu, jika dalam shalat saja tidak mau mengikuti perintah imam, apalagi di kehidupan sehari-hari, cekcok dan protes melulu. Pada saat ini ketika dalam menata shaf shalat saja ummat islam masih amburadul, gimana bisa nyata persatuan di kehidupan nyata. Dan ini juga menjadikan orang kafir tidak takut dengan kekuatan islam. Ya karena tidak bisa bersatu, gampang diadu dan kocar-kacir mengurusi kehendak masing-masing.

Lantas kira-kira bagaimana shaf shalat yang baik?

Ada beberapa hadist yang menuntun kita dalam hal ini:

  1. Bahwa shaf diawali dari belakang imam tepat atau agak disebelah kanannya.

‘An Jaabirin qaala, shallaitu khalfannabiyi saw fakumtu ‘an yamiinihi tsumma jaa’a ……ila akhir. (rawahu Muslim).

Ada uang mengatakan bahwa penataan ini dilanjutkan ke arah kanan hingga penuh atau melihat keadaan jauh dekatnya pembatas untuk ma’mum yang paling kanan. Kalau dekat saja, maka dihabiskan hingga pembatas kanan, jika terlalu panjang, diperkirakan saja sampai ma’mum paling kanan masih bisa melihat imam, dan yang berikutnya menata diri di sebelah kiri imam sampai batas kiri dengan ketentuan serupa dengan yang kanan. Sedangkan selebihnya bisa melihat situasi, jika datang dari pintu kiri bisa mengambil tempat di sebelah kiri, dari pintu kanan mengambil tempat di sebelah kanan. Penyusunan ini hanyalah sekedar mengacu kepada keutamaan sisi kanan daripada sisi kiri, dan juga memberikan keteraturan shaf.

  1. Utamakan laki-laki dewasa di barisan depan dan anak-anak di barisan belakang. Sedangkan untuk shaf perempuan kebalikannya.

Kaana annabiyyu saw yaj’alurrijaala quddaamal ghilmaani wannisaa’a khalfa alghilmaani. (rawahu Muslim).

  1. Jarak antara ma’mum satu dengan satunya dalam satu shaf dirapatkan bahkan kalau bisa hingga rapat lutut dan bahunya (bukan diartikan berdesakan hingga menyulitkan bergerak sehingga tidak nyaman dan tidak khusu’ dalam beribadah karena mendapat tekanan dari kanan kiri).

‘An abi amaamah qaala’ annabiyyu saw sadduu alkhalala fa inna assyaithaana yadkhulu fiima bainakum bi manzilati alhadzafi. (rawahu Ahmad).

  1. Jarak ma’mum antar shaf (shaf pertama dengan kedua, dan seterusnya) tidak boleh terlalu dekat hingga mengganggu satu sama lain. Ini yang sering terbalik dengan perintah merapatkan shaf. Sering kita lihat shaf di Indonesia (ndak tau apa demikian juga di negara-negara asia lainnya), shaf dibuat terlalu dekat antara depan dan belakangnya, sehingga yang shaf belakang kepalanya terbentur pantat shaf yang di depannya, bisa juga terjadi kadang waktu sujud kopiah atau rambutnya terinjak barisan depannya. Jadi, perintah merapatkan antara kanan kiri ma’mum dalam satu barisan tidak dilaksanakan, malah antara shaf depan belakang yang dirapatkan sehingga pantat dan kepala bertubrukan. Padahal perintah yang benar adalah merapatkan barisan dalam satu shaf antara kanan dan kiri ma’mum. Sedangkan jarak antara shaf depan dan belakangnya tidak boleh terlalu rapat.

‘An aisyata ra qaalat, suila annabiyyu saw fi ghazwati tabuuka ‘an sutrati almushalli; fa qaala, mitslu mu’khirati arahli. (akhrajahu Muslim).

Ada pendapat bahwa dari hadist ini dan beberapa hadist lainnya, disimpulkan bahwa lebar shaf shalat hingga batas shaf berikutnya minimal sepanjang tongkat untuk memandu perjalanan atau tongkat pengikat unta kira-kira 1,5 m. Ini adalah jarak yang cukup nyaman untuk shalat, cukup untuk orang tinggi maupun standard asia.

Nah, kapan kita akan mulai mengatur shaf shalat masjid kita?

Marilah segera kita budayakan pengaturan shaf yang sesuai qaidah dan memprioritaskan kekhusu’an berjama’ah. Pembenahan ummat diawali dengan pembenahan shaf shalat. Teratur dan indahnya shaf shalat ummat islam mencerminkan persatuan dan kesatuan ummat islam dalam kesehariannya. Kapan kita bisa bangkit mencapai kembalai kejayaan islam, kalau dalam sholat berjama’ah saja masih amburadul?

Jika ada kesalahan mohon dikoreksi. Semoga tulisan ini bermanfaat. Amien.

Problems at Moslem’s Early Century

September 1, 2008

The situation of Moslems at early century after the death of Muhammad saw were wrapped with many struggle inside Moslems communities themselves, especially related with politics and authority. Some people said if that condition was proved and evidence in the bad of Islamic teaching and irrelevant for human. Also with this reason, the Islamic hatred tries to give a black eye on Islam’s face with many methods and distort many facts of Islam to support their mission collapsing Moslems’ faiths.

Some aspects which we need to take attention about the early Moslem’s struggle are:

  1. Many intrudes and provocations by hypocrites people (munaafiq) whose supported up by non Muslims alliance which always against Islam. This condition was also happen when Muhammad saw still alive. They make un-stabilized situation and economy so it will make them easy to create many other problems, and they also try to mislead Alqur’an and Alhadith by creating many wrong interpretations. This attempt brings much success because the prophet was death and Moslem’s thought spread everywhere hard to be controlled. (In this modern era, all Islam countries also have the same problems; many conflicts with many provokes blow up the crisis).
  2. The social system changed from simple Islam into rich and glamour authority with wide land inside it. Related with this, many new rules and interpretations from holy book were showed up to solve new complex problems. But, there were always some people try to gain advantages for their need in politic and authority, plus interfere by outsiders.

Some of them are:

a). Khilafa election (Khilafah bil intikhab) changed with khilafa hereditary (khilafah bil waratsah).

b). Khalifa use special guard even when he prays in mosque.

c). Khalifa use throne and glamour cloths.

d). Beginning of aristocracy forced their need and boss acted arbitrarily.

e). Etc. (the others example please ask to the historian experts).

These aspects create contrary between ummah, some of them keep silent and some are vocal or some others agree. The new system which step by step stay away from the true Islamic system give more bigger chances to the Islamic hatred to build new conflict and also drift away Moslems from the correct Islamic thought. So, the collapse of Islam was not because of the using of syaria Islamic law, but because of Moslem stay away from the syaria Islamic law.

  1. Human are the place of mistakes and forgets. That’s also happen with some Moslems in early century. Some people were in the wrong, forced by evil and glamour world passions, possibility to do mistakes and sin. When this human who’s in the wrong didn’t return to the Alqur’an and Alhadith it will mislead and teach their descendant and followers into wrong generation, and with great special loves to their ascendants they will creates new groups which became more far away from the correct systems.

The important points which must be noticed to:

  1. The differentiation in Islam is allows and even became blessing only if we understand the knowledge about it.
  2. Islam was divided because Moslems stay away from syaria, Islam will united if living and using syaria.
  3. The destroyer and the shatter of Islam at early century of Islam were not prophet’s companions, but the hypocrites with supports from non Islam alliance.
  4. The born of mislead groups in Islam because of the mislead ancestors.
  5. Many Islamic leader didn’t take tough and strong action against mislead groups which always spread their wrong thoughts.
  6. All of these problems are happen also in this recent time in all Moslem countries. The leader must though against them to return the system into correct syaria Islamic law and regain the great Islam civilization.

I’m sorry if many mistakes in my language, I just want to share my idea and hope many points and benefit in this short writing. Thanks.

Kata Bijak

September 1, 2008

1. Sholat

Tidur itu tidak sia-sia, tetapi sesungguhnya yang sia-sia adalah orang yang tidak sholat hingga masuk waktu sholat yang lain. (HR Muslim)

2. Irama

Kehidupan bagaikan sebuah orkestra. Seorang gila juga pemusik seperti kita, hanya saja melodi yang ia mainkan kurang berirama. (Khalil Gibran).

3. Iman

Kehilangan uang patut disesali

Kehilangan teman harus lebih disesali

Kehilangan iman patut dikasihani.

4. Optimis

  • Seorang optimistis melihat hikmah dalam setiap malapetaka,
  • seorang pesimistis melihat malapetaka dalam setiap hikmah.
  • Seorang optimistis melihat kesempatan dalam setiap kesempitan,
  • seorang pesimistis melihat kesempitan dalam setiap kesempatan.

5. Syair Ungkapan

Saat hayal terpaut sesal dan duka, ketika harapan tinggal ilusi belaka

Langkah gontai tersayat luka, sebuah kematian menjadi tujuan seketika

Keabadian bukanlah di dunia, karena kebahagiaan nyata ada diseberang kematian

Begitupun sandaran jiwa bukanlah harta semata, karena keimanan merupakan jawaban

Manusia memang bukan keledai tua, mereka mengharapkan secercah asa menjadi nyata

manusia tidak lagi manusia, ketika Sang Pencipta berada di bawah tumpukan harta

Manusia hidup dengan sejuta ilusi, namun mati dengan selembar kafan

Kehidupan beratus tahun tak kan berarti, tanpa sekecap amalan teriringkan

Rahman

خير الكلام 2

September 1, 2008

خير الكلام 2

- النظافة من الإيمان

- قيمة المرء بقدر ما يحسنه

- انظر ما قال دلا تنظر من قال

- العلم بلا عملٍ كالشجر بلا ثمرٍ

- لا تحتقر مسكينًا و كن له معينًا

- تعلمن صغيرًا و اعمل به كبيرًا

- التعلم فى الصغر كالنقش على الحجر

- ما من شدة إلا سيأتى # لها من بعد شدتها رخاءُ

- كم من عائبٍ قولاً صحيحًا # و آفته من الفهم السقيم

- رزق الله فى الدنيا فسيح # فسر فى بلاد الله و التمس الغنى

- اتق الله حيث ما كنت # و اصبر على كل ما يأتى الزمان به

- اصبر على مضض الايام محتملاً # ففيه ترغ لباب النجح و الأمل

خير الكلام 1

September 1, 2008

خير الكلام 1

- الاتحاد أساس النجاح

- الوقت أثمن من الذهب

- لن ترجع الأيام التى مضت

- كل شئ إذا كثر رخص إلا الأدب

- خير الأصحاب من يدلك على الخير

- خير الناس أحسنهم خلقًا و أنفعهم للناس

- موت الصالح راحة لنفسه و موت الطالح راحة للناس

- ليس الجمال بأثوابٍ تزيننا # إن الجمال جمال العلم والأدب

- مصا ئب قومٍ عند قومٍ فوائد # و بالله فاستعصم ولا ترج غيره

للإمام الشافعى

- و عين الرضا عن كل عيبٍ كليلة # كما أن عين السخط تبدى المساويا

- و لست بهيابٍ لمن لا يهابنى # و لست أرى للمرء ما لا يرا ليا

- فإن تدن منى تدن منك مودتى # و إن شأ عنى تلقنى عنك نائيًا

- علانا غنى عن أخيه حياته # و نحن إذا منا أشد تنانيا

تحذير هوى النفس

September 1, 2008

تحذير هوى النفس

- سوء الخلق يعدى

- رُبَّ سهوة ساعةً أورث حزنًا طويلاً

- و آفة العقل الهوى فمن علا # على هواه عقله فقد نجا

- و إذا كنتَ فى نعمةٍ فارعها # فإنّ المعاصى تزيل النعم

- كم حسنت لذةً للمرء قاتلةً # من حيث لم يدر أنّ السمّ فى الدسم

الإمام الشافعى فى الحكم

- دع الأيام تفعل ما تشاء # و طب نفسًا إذا حكم القضاء

- ولا تجزع لحادثة الليالى # فما لحوادث الدنيا بقاء

- و كن رجلاً على الأهوال جلدًا # و شيمتك السماحة والسخاء

- و لا حزن يدوم و لا سرور # و لا عسر عليك و لا رخاء

- إذا ما كنتَ ذا قلبٍ قنوعٍ # فأنتَ و مالك الدنيا سواء

- و من نزلت ساحته المنايا # فلا أرض ثقيه و لا سماء

Historical Deviation: Iskandar Zulqarnain Vs Alexander the Conqueror

September 1, 2008

In many occasion, we heard about Iskandar Zulqarnain story which according some people was a same person with Alexander the Conqueror, son of Philip XI the King of Macedonia; the king who’s believes with many gods in his religion. So, why this person became a famous Iskandar Zulqarnain who’s his story written in Alqur’an?

The great Iskandar Zulqarnain is truly different with Alexander the Conqueror. From Alqur’an, we knew if Zulqarnain is a great leader and trust in One God. The Zulqarnain story inside Alqur’an written in Alkahf 83-99 which the meaning of some of them are:

“Until, when he reached the setting of the sun, he found it set in a spring of murky water; near it he found a people: We said: ”O Zulqarnain! (thou hast authority), either to punish them, or to treat them with kindness”. (86).

Until, when he reached (a tract) between two mountains, he found, beneath them, a people who scarcely understood a word”. (93).

“Bring me blocks of iron”. At length, when he had filled up the space between the two step mountain-sides, He said: “Blow (with your bellows)” then, when he had made it (red) as fire, he said: “Bring me that I may pour over it, molten lead”. (96).

“Thus were they (Ya’juj and Ma’juj) made powerless to scale it or to dig through it”. (97).

Many historian and archeologists also found many proofs of ancient great wall older than Chinese great wall, which also much older than Alexander the Conqueror’s era.

The differentiation between Iskandar Zulqarnain and Alexander the Conqueror are:

(I) Alexander is: (1) he believes with many gods, (2) he is homosexual, (3) colonialist occupy another land with murder and war (come, destroy, and steal the resources), (4) didn’t build great wall to separate and protecting the borderline.

(II) Zulqarnain is: (1) he believes with one God, (2) he get revelation, (3) make conquest and deal with people didn’t steal the resources, (4) build the great wall to protecting borderline from bad habit people’s attack from outside.

That’s why we should differentiate these two personalities. Zulqarnain is different from Alexander.

By the way, because of many aspects, there are still many versions about Zulqarnain in Islam. Some experts said if he was Kuros or Cyrus, the Persian King cr. 300 years before Alexander era, or another King who’s older than that. If we follow this analyze we will get the roll story: when this Persian King make a trip and explores the land, he build great wall to protects the borderline form un-civilized people’s attack from outside the borderline which their hobbies are killing and attacking another country (perhaps Macedonia and their family counties). When he makes the wall rounded from west to east, he left some people outside the wall who’s later called as Turk people (Turk mean left behind). This wall collapsed and destroyed by Alexander from Macedonia.

The second version was take a guess that Zulqarnain is one of Pharaoh’s sons who’s went out from Egypt moving away as the followers of Moses after he and his family accept Moses teaching. They moves out from Egypt make a journey and stay in china land (of course this part story is long and have many detail), but in the end, he was asked by Chinese to build wall to protect them from another country’s attack (perhaps Mongolian). From the ruins, experts’ belief if the construction was closely looks like same with Egypt base construction and also comparable with Alqur’an explanation. This also makes assumption and probability why papyrus (paper) develops and spread in china even with different method from Egypt process. This wall through many lands from west to east, leafing Turk at outside the wall, and Mongolian pointed and interpreted as Ya’juj and Ma’juj, this wall also as the plot and model for the latest great wall which still exist in this time.

So, all Muslim must left behind Alexander as Zulqarnain version, which absolutely wrong. Choose the best most proof able in Islamic version. Those two version (King of Persia and Pharaoh’s son) have some similarities: (1) the point figure prays and believes in One God, (2) use crown or nickname which expresses their authorities in two world (east and west, or sea and land); two horn (in Arabic = Zulqarnain), (3) great king and noble deed person, (4) both of them build wall to protect their border land from bad habits people’s attack.

Wallahu a’lam.