Itulah kenyataan yang harus kita akui adanya. Bulan yang diagungkan, bulan yang diberkahi, bulan yang didalamnya kita bisa menimba jutaan poin kebaikan, namun dikalangan ummat islam saat ini, bulan ini tidak lebih dari sekedar memuaskan nafsu yang sebelumnya tertunda. Bulan ini dipergunakan sebagai bulan boros, bulan dimana kita menghamburkan uang untuk balas dendam setelah seharian berpuasa dengan hidangan melimpah, bulan ini adalah bulan dimana kita makin sering berbelanja untuk berbagai kebutuhan materi, sajadah baru, peci baru, baju baru, sarung baru, mukena baru, tapi iman tidak diperbaharui, keyakinan juga tidak diperkuat lagi. Di bulan ini pula kejahatan meningkat, karena para penjahat kambuhan ini juga orang yang merasa perlu menambah materi menjelang lebaran. Titik kemenangan bagi mereka adalah terpenuhinya kebutuhan materi untuk berlebaran, termasuk di dalamnya kebutuhan akan baju baru, makan enak, dan sebagainya.
Ada pula yang bilang, beli baju dan sarung itukan juga untuk ibadah. Kok dipermasalahkan. Nah, ini dia mulai ada unsur hitungan enak ndak enak, untung ndak untung. Alasan semacam ini menunjukkan bahwa disana mulai ada keinginan bahwa beribadah hanya jika dalam keadaan enak dan nyaman saja. Kalau tidak dikasih enak dan nyaman oleh Allah swt maka tidak mau beribadah. Tidak menyadari pula bahwa ibadah adalah untuk Allah swt semata, ibadah sebagai kewajiban makhluq kepada Penciptanya, bukan sekedar untuk membalas keberhasilannya memperoleh baju dan sarung baru. Sikap-sikap semacam itu pada akhirnya akan menumbuhkan tujuan baru yang tidak sesuai dengan syariat, dan juga menimbulkan penyimpangan baru dalam pelaksanaan ibadah islam.
Pernah mendengar pertanyaan mengapa jika syaitan dibelenggu di bulan ramadhan, tapi kok masih banyak kemaksiatan di bulan suci ini?
Seorang ulama pernah mengatakan bahwa syaitan memang dibelenggu di bulan Ramadhan, tapi hasil pendidikan syaitan pada diri kita selama sebelas bulan sebelum Ramadhan itulah yang melekat dalam diri kita dan akan merusak kesucian Ramadhan. Entahlah, apakah penyataan ini benar atau salah, namun setidaknya kita paham bahwa berusaha menjadi baik di bulan Ramadhan saja tidak cukup. Ketika syaitan berkeliaran mempengaruhi kita di luar bulan Ramadhan dan kita membiarkan saja atau bahkan mengikuti ajakan syaitan, maka kecenderungan kita untuk berbuat maksiat di bulan Ramadhan tetap ada dan itu terus-menerus seperti kita ketagihan dengan kemaksiatan itu. Kita akan berusaha menjalankan hasil didikan syaitan itu meskipun syaitan yang menjadi guru kemaksiatan itu tidak ada di dekat kita lagi. Seperti para penjahat kambuhan dan pelaku kejahatan lainnya, mereka mendekatkan diri dengan jalan hidup yang seperti itu, membiarkan diri mereka mendapat pendidikan syaitan sepanjang tahun dan akan selalu ketagihan untuk menjalankan kemaksiatan yang diajarkan syaitan.
Godaan di dalam bulan Ramadhan memang merupakan cobaan bagi kita, dan itu pula yang menjadikan bulan Ramadhan sungguh bermakna. Jika kita mampu mengekang hawa nafsu, itulah yang membedakan kita dari orang-orang yang hanya mendapat lapar dan dahaga. Apabila godaan keserakahan mampu kita redam, insyaAllah akan memberikan kita sekat dari bisikan syaitan di luar bulan Ramadhan, dan juga akan memutus rasa ketagihan kita terhadap hal-hal maksiat yang diajarkan syaitan.
Mari kita jaga ramadhan kita untuk tidak memupuk keserakahan dan mengembalikan fungsi Ramadhan untuk meningkatkan iman dan ketaqwaan kepada Allah swt.
Mari kita jaga agar mata kita jauh dari tontonan tidak islami di media elektronik maupun dipinggir-pinggir jalan ataupun di mall.
Mari kita saling menjaga saudara kita untuk menjauhi sarana kemaksiatan dan memutuskan rasa ketagihan terhadap perbuatan maksiat.
Mari kita jaga hati kita agar selalu ingat bahwa ibadah kita, hidup dan mati kita, hanya untuk Pencipta kita, Allah swt.
Semoga hidup yang sekali ini kita tutup dengan husnul khaatimah.
Allaahumma innaa nas-aluka salaamatan fiddiin wa ‘aafiyatan fil jasad wa ziyaadatan fil ‘ilmi wa barakatan fir-rizqi wa taubatan qablal maut wa rahmatan ‘indal maut wa maghfiratan ba’dal maut.
Allaahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annaa.
Aamien ya Rabbal alamiin.


