Hari ini akhirnya saya sempatkan kembali mengupload tulisan setelah hampir dua bulan terkonsentrasi pada kesibukan dan aktifitas lain. Kemenangan Obama memaksa saya untuk mencoba urun rembug di tengah gempita kemenangan seorang yang dianggap “berbeda”. Dengan kemengan Obama, sebuah awal pertama seorang Presiden Amerika berkulit hitam, sangat muda, murah senyum, bernama tengah Husain?, dan pernah jadi anak Menteng. Woooow……
Segala harapan yang ditumpahkan pada sosok Obama merupakan beban berat baginya, harapan dari pendukungnya di penjuru bumi dan juga di negerinya sendiri. Di dalam negeri, dia diharapkan mampu membawa perubahan setelah kegagalan Presiden sebelumnya yang menjadikan Amerika makin banyak musuh dan bahkan mengalami krisis ekonomi.
Masyarakat internasionalpun berharap agar seorang “Chief of Police” yang dianggap “berbeda” ini mampu bertindak sebagai gentleman yang membawahi polisi dunia sebagai kekuatan yang bijaksana. Mulai dari Eropa hingga Asia, terutama Indonesia yang pernah menjadi tempat tinggal Obama, berharap penuh atas terpilihnya Obama.
Namun, apakah harapan-harapan itu nyata? Mampukah Obama memberikan perubahan?
Dalam hal kepentingan politik, sudah umum memberikan janji-janji dan harapan-harapan untuk meraih simpati masssa pemilih. Harapan perubahan yang didengung-dengungkan Obama memang sangat indah dan mungkin saja bisa terjadi. Namun, alangkah baiknya jika kita tidak dibutakan oleh sekedar keadaannya yang “berbeda” itu, dan lebih baik jika lebih diwaspadai serta dianalisis lebih hati-hati. Euphoria yang berlebihan hanya akan membutakan mata hati kita akan realita dan kecenderungan fakta-fakta perpolitikan Amerika selama ini.
Kita mendapati bahwa menjelang pergantian Presiden Amerika, perbankan dan bisnis Amerika mengalami kemerosotan dan keambrukan, bahkan berimbas kepada negara-negara lain. Apakah sekedar kebetulan saja?
Dalam hal ini ada beberapa spekulasi dan analisis atas hal tersebut:
- Kejenuhan dunia usaha yang melanda Amerika memang merupakan pemicu utamanya dan menjadi semacam “chain reaction” atas berbagai sendi bisnis. Perusahaan-perusahaan yang menggurita semakin memperbesar produksi untuk mencari laba makin besar, begitupun pola peningkatan harga saham yang makin tinggi untuk memperbanyak dividen. Singkat kata, sampailah kepada tidak seimbangnya kredit masuk dan keluar sehingga menumpuklah kredit macet, diperparah pula dengan kebijaksanaan bunga yang tidak beres, pajak, iklan yang jor-joran, sampai pula pada bergugurannya investasi, dan sebagainya.
- Prediksi selanjutnya adalah adanya konspirasi para pemodal dan pebisnis utama Amerika untuk mengguncang perekonomian, sehingga presiden yang terpilih selanjutnya tetap bisa di dikte dan dikendalikan sebagai boneka mereka. Ekonomi adalah tumpuan setiap pemerintahan besar seperti Amerika, dan kita tahu bahwa hampir 70% modal perekonomian Amerika berasal dari pebisnis YAHUDI. Sehingga loby YAHUDI dalam pemerintahan Obama nanti dipastikan akan tetap kuat seperti masa-masa presiden sebelumnya.
Peranan loby YAHUDI ini selain di dalam negeri terutama dalam hal ekonomi, jelas berimbas kepada politik luar negeri Amerika yang selalu bermuka dua. Standard ganda akan tetap menghias perpolitikan Amerika terutama mengenai masalah Israel dan terorisme. Isu utama bahwa Islam adalah teroris dan Palestina adalah pihak yang salah akan tetap tidak berubah.
Kompromi-kompromi yang mungkin dilakukan Obama sangat mungkin untuk dihambat oleh berbagai kepentingan loby YAHUDI. Apalagi mengingat kejadian penembakan Yitzhak Rabin karena dianggap terlalu berkompromi dengan Palestina. Bahkan penerus Rabin menjadi semakin berhati-hati untuk melangkah. Boneka Israel semacam Presiden Amerika tentu tidak mungkin mau mengalami kejadian serupa. Obama juga tidak mungkin akan melangkah diluar tekanan loby YAHUDI, bahkan bisa jadi mentaati ungkapan bahwa dengan melangkah diluar kehendak loby YAHUDI, tiga hari pertama disambut sebagai pahlawan dunia, tapi pada hari keempat dia pasti ditangisi keluarganya. Apakah Obama siap menjadi Rabin berikutnya? Ataupun siap menjadi Kennedy kedua?