Cerah pagi itu, sepoi angin mengalir menyambut kicau burung dan kokok ayam pagi, riang mengurai semburat merah cahaya mentari. Alam seakan tidak tahu dengan tingkah polah manusia yang semakin beragam dan variatif dalam kelinglungan. Luas pandanganku terbuai kehijauan pepohonan yang sedang mengeluarkan kucup-kuncup daun muda, dan bunga-bunga mulai pula mekar, harum, penuh warna, exotic katanya, sungguh indah.
Aku semakin menerawang ke atas sisi dunia yang penuh kehiruk-pikukan dan kesenangan ini, sungguh melenakan dan membius jiwa. Hati ini tenang, tentram berkat indahnya alam yang terkoleksi cakupan pandang mata. Ungkapan kekaguman rasanya tak cukup untuk menyatakan rasa ini, sejuk, tentram, indah.
Sejenak aku kembalikan rasa ini, melihat tanah dan timbunan disekitarku. Ya, di sekitar tempatku berdiri sekarang telah berubah menjadi kuburan, tidak seperti masa kecilku yang merupakan tanah kosong tempat anak-anak kecil seusiaku bermain. Tempat di pinggir desa ini kini telah berubah menjadi kuburan. Lokasinya tepat di pinggir sungai besar yang mengalir deras. Keindahan dunia ini pastilah tidak dapat lagi dinikmati oleh mereka yang terkubur disana. Apakah mereka mendapat ketenangan dan kenikmatan tidur di alam barzah, ataukah mendapatkan bermacam siksaan karena hasil tingkah laku mereka di dunia yang dulunya amburadul. Entahlah……….
Hari ini adalah hari penting, kuingat kembali pada tanggal yang sama, pohon di pinggir desa ini pada 25 tahun lalu masih setinggi pinggang, bahkan kuncupnya masih sangat jarang. Tapi kini, pohon itu telah menjulang tinggi melebihi bangunan 5 lantai, subur, dan nampaknya berhasil mengelola nutrisi tanah dan air sungai yang masuk melalui akar-akarnya.
Dulu, 25 tahun lalu, ada suatu kejadian penting yang kemudian merubah situasi lingkungan ini dan hal itu menetap dalam otakku hingga kini, karena aku termasuk salah satu saksi sejarahnya. Tepat sehari sebelum perayaan 1 Muharram atau lebih dikenal dengan 1 Suro, sore hari, beberapa anak kecil bermain air di tepian sungai itu. Saling bercanda dan berebut berbagai hal yang dianggap menarik, atau saling sembunyi-sembunyian di belakang pohon-pohon atau tebing yang menjulang. Tempat itu benar-benar menjadi tempat anak-anak berkumpul dan bermain air menjelang petang. Mereka akan bergembira loncat kesana kemari dari tepian sungai. Namun, hari itu adalah hari naas, air sungai naik mendadak bergemuruh tanda bahwa sungai sedang banjir terkena limpahan air hujan dari hulu. Dua anak kecil terseret arus air dan hilang ditelan sungai. Aku dan teman-teman yang lain segera menghambur panik berlarian pulang menceritakan kejadian besar yang menimpa kami. Ya, pohon di pingggir sungai itu juga menjadi saksi bisu sejarah memilukan itu.
Malam itu bukan lagi malam yang tenang, puluhan pemuda dikerahkan menyusuri sungai mencari kedua anak yang hilang terseret arus air sungai itu. Orang-orang tua sibuk berkoordinasi dengan aparat desa, polisi, dan tim SAR dari kota. Keluarga korban menangis pilumemikirkan nasib anak-anka mereka. Malam itu seharusnya mereka merayakan tradisi leluhur, melaksankan ritual dan acara selamatan desa pada malam 1 Suro. Namun, kali ini bukan hiruk pikuk bahagia, malah sebaliknya, kesedihan yang melanda. Sesepuh desa dan beberapa orang perangkat desa dan warga berusaha untuk tetap menjalankan tradisi mereka. Mereka yang dituakan itu tetap melanjutkan ritual di tengah desa dan beberapa tempat yang dikeramatkan, terutama kuburan Mbah Dipo, seorang yang dianggap sebagai manusia pertama yang membuka lahan desa itu. Mbah Dipo begitu dihormati dan bahkan dipuja-puja sebagai pelindung desa. Maka, mereka minta barakah dan perlindungan pada makamnya, dan itu sudah menjadi semacam kewajiban dan syarat jika ingin desa aman dan terlindungi dan bahaya.
Menjelang tengah malam, desa makin sunyi, kesibukan pencarianpun dihentikan. Rencananya dilanjutkan pagi hari, itupun kalau ada yang mau, karena mengikuti acara ritual dan tradisi bagi sebagian dari penduduk desa ini adalah lebih penting daripada mencari jasad anak-anak yang hilang itu. Menurut mereka, pencarian itu bisa ditunda atau menunggu hingga ada kabar dari hilir yang mungkin telah lebih dahulu menemukan jasad anak-anak itu.
Mbah Karimun, yang paling dituakan pada masa itupun sudah sejak sore mengawali ritual di tengah desa, kemudian menjelang jam 10 malam pindah ke makam Mbah Dipo. Sebuah tempat yang sangat dikeramatkan, angker, dinaungi sebuh pohon besar yang berusia ratusan tahun, seumur dengan pembukaan lahan desa itu. Itu adalah pohon yang ditanam Mbah Dipo semasa hidupnya dahulu. Bahkan pohon itupun diberi sesajen untuk membahagiakan dan menghormati Mbah Dipo. Pohon itu dianggap sebagai wakil keberadaan Mbah Dipo yang terus mengontrol desa dan penduduknya.
Sambil komat-kamit, Mbah Karimun yang juga salah satu keturuna Mbah Dipo duduk bersila tunduk hormat di depan makam. Lama sekali sunyi senyap, namun tiba-tiba Mbah Karimun berteriak bahkan meloncat mengejutkan orang-orang yang duduk melingkar di belakangnya. Suasana yang awalnya sepi dan hanya sedikit disela gemerisik alam, berubah jadi terkejut panik.
“Mereka dijaga Mbah Dipo didekat hutan jati”, sambil terengah-engah Mbah Karimun berusaha menyusun kesadarannya.
“Mereka ditemukan”, sekali lagi Mbah Karimun berujar.
Orang-orang segera paham apa yang dimaksudkan, yaitu bahwa dua anak desa mereka yang sore tadi hanyut telah ditemukan. Lantas beberapa orang segera beranjak mencari para pemuda dan menginstruksikan agar segera mencari lokasi yang ditunjukkan oleh Mbah Dipo melalui Mbah Karimun. Mereka sangat mempercayai kekuatan gaib semacam itu, bahkan akan sangat takut untuk tidak mempercayainya, takut kena musibah.
Ketika malam telah beranjak menjelang subuh, para pemuda itu pulang dengan membopong 2 jasad anak kecil, tak bernyawa lagi. Tangispun menyeruak lagi menghias awal tahun baru itu. Pesta makan-makan yang biasanya diadakan, tidak jadi digelar. Bahkan pagi itu, arak-arakan yang dipimpin perangkat desa dan para sesepuh berubah, tidak seperti biasanya. Atas instruksi Mbah Karimun, arak-rakan itu diikuti pula dengan pemakaman 2 jasad korban keganasan sungai itu. Katanya hal itu atas perintah Mbah Dipo melalui wangsit yang diterimanya. Mbah Dipo menyuruh agar 2 jasad itu dikuburkan di pinggiran sungai tempat mereka terseret arus sungai, yaitu tepat di utara sebuah pohon yang menyendiri. Padahal tempat itu merupakan tempat favorit anak-anak kecil bermain. Maka, setelah hari itu, tempat itu berubah menjadi tempat paling ditakuti anak-anak.
Telah 25 tahun berlalu, kini aku kembali dan mendapati kuburan 2 orang temanku itu telah berubah. Dua kuburan itu kini dicungkup indah bahkan dinaungi rumah-rumahan, disekelilingnya telah banyak kuburan yang turut mengisi area itu. Bisa dibilang telah menjadi pekuburan umum, hanya saja dua kuburan teman-temanku itu saja yang dirawat dan diperindah, serta hanya dua kuburan itu saja yang berada di utara pohon, selebihnya berada di sisi selatan. Area itu kini dikelilingi pagar dan juga dibuatkan gerbang masuk. Pohon itupun jauh berubah, besar, rindang, dan terkesan angker. Di bawah pohon itu bertebaran sesajen seperti juga di sekitar 2 kuburan temanku itu. Kuburan dan pohon itu begitu dipuja dan dihormati, seperti juga kuburan Mbah Dipo. Banyak orang yang sakit mendapatkan kesembuhan setelah bermimpi bertemu dengan Mbah Dipo atau 2 temanku itu. Maka, makin dipujalah 2 kuburan itu, karena mereka telah dianggap sebagai pelindung dan pemberi rasa aman bagi warga desa. Meskipun generasi telah berganti, tapi ritual itu tetap ada dan dilestarikan. Hanya saja, di masa kini, penduduk desa telah hidup modern dan beradaptasi dengan pola hidup kota. Desa telah teraliri listrik, jalan halus, dan transportasi lancar. Perubahan besar telah melanda desa ini dan penduduknya.
Akan tetapi, pada kenyataannya perubahan itu bukan mengarah kepada hal yang lebih baik, namun seperti masuk mulut harimau masuk pula mulut buaya. Belum lepas mereka dari keterpasungan dalam kesyirikan dan kebodohan dengan melaksanakan ritual kesyirikan mengharap pertolongan kepada selain Tuhan yang Maha Kuasa, kini mereka terseret pula dalam kerusakan moral modernisasi dan peradaban baru yang sebenarnya malah tidak beradab.
Kini para pemuda desa ini bergaul dan bertingkah laku sepereti anak kota. Ritual yang dahulu sangat sakral dan tenang, kini berubah menjadi pesta pora. Ritual malam 1 Suro yang diisi dengan mengunjungi makam-makam keramat dan pada pagi harinya dilanjutkan dengan makan-makan bersama di tengah desa, kini jauh berubah. Malam 1 Suro kini sangat ramai dengan orang berjualan di makam-makam dan di tengah keramaian desa, sangat jauh dari kesan sakral dan beradab. Disusul kemudian pagi harinya bukan lagi dengan makan-makan di tengah desa yang di dahului ritual do’a keselamatan, tapi kini diisi dengan acara musik di panggung besar di tengah desa. Konser diadakan dengan mengundang artis-artis seronok yang suka tampil vulgar. Dan memang kevulgaran itu saja yang jadi andalan, karena suaranya ala kadarnya saja alias pas-pasan. Entahlah, mana yang lebih buruk, melaksanakan kegiatan kesyirikan yang dibungkus ritual dan ketaatan adat, ataukah perubahan dengan mengikuti kerusakan moral dan pola pergaulan peradaban baru yang tidak beradab yang merusak akhlaq semua kalangan?.
Kini kedua bentuk kerusakan itu dilaksanakan, dan kondisi semacam ini makin umum terjadi di negeri ini. Di berbagai belahan kota dan desa, orang kaya dan miskin, tua dan muda, tidak mampu menemukan jati diri mereka. Pencarian yang selama ini terus dilakukan tidak menemukan tujuannya. Setiap komunitas kini tergerus zaman, lewat tehnologi diperkenalkan kevulgaran dan kerusakan moral, dan lewat tehnologi pula disebarluaskan kesyirikan dan berbagai bentuk penyelewengan pemahaman keagamaan.
Para dai dan ulama yang mengajak kepada kebaikan pada lemes, kurang semangat, cermin keputus-asaan diri menghadapi zaman. Padahal ummat ini akan terus terbelenggu lingkaran setan kesesatan dan kerusakan moral jika tidak ada ulama dan umara’ yang rajin, getol, serta tekun melakukan perubahan ke arah perbaikan. Dan hal ini wajib berkelanjutan dari generasi ke generasi. Sekali saja kaderisasi terputus dan tergerus arus kemaksiatan lagi, maka usaha perbaikan itu akan kembali dari nol lagi.
Semoga Islam bercahaya dan bersinar terang kembali.
InsyaAllah.