Arsip untuk Desember, 2008

Pencarian

Desember 27, 2008

Cerah pagi itu, sepoi angin mengalir menyambut kicau burung dan kokok ayam pagi, riang mengurai semburat merah cahaya mentari. Alam seakan tidak tahu dengan tingkah polah manusia yang semakin beragam dan variatif dalam kelinglungan. Luas pandanganku terbuai kehijauan pepohonan yang sedang mengeluarkan kucup-kuncup daun muda, dan bunga-bunga mulai pula mekar, harum, penuh warna, exotic katanya, sungguh indah.

Aku semakin menerawang ke atas sisi dunia yang penuh kehiruk-pikukan dan kesenangan ini, sungguh melenakan dan membius jiwa. Hati ini tenang, tentram berkat indahnya alam yang terkoleksi cakupan pandang mata. Ungkapan kekaguman rasanya tak cukup untuk menyatakan rasa ini, sejuk, tentram, indah.

Sejenak aku kembalikan rasa ini, melihat tanah dan timbunan disekitarku. Ya, di sekitar tempatku berdiri sekarang telah berubah menjadi kuburan, tidak seperti masa kecilku yang merupakan tanah kosong tempat anak-anak kecil seusiaku bermain. Tempat di pinggir desa ini kini telah berubah menjadi kuburan. Lokasinya tepat di pinggir sungai besar yang mengalir deras. Keindahan dunia ini pastilah tidak dapat lagi dinikmati oleh mereka yang terkubur disana. Apakah mereka mendapat ketenangan dan kenikmatan tidur di alam barzah, ataukah mendapatkan bermacam siksaan karena hasil tingkah laku mereka di dunia yang dulunya amburadul. Entahlah……….

Hari ini adalah hari penting, kuingat kembali pada tanggal yang sama, pohon di pinggir desa ini pada 25 tahun lalu masih setinggi pinggang, bahkan kuncupnya masih sangat jarang. Tapi kini, pohon itu telah menjulang tinggi melebihi bangunan 5 lantai, subur, dan nampaknya berhasil mengelola nutrisi tanah dan air sungai yang masuk melalui akar-akarnya.

Dulu, 25 tahun lalu, ada suatu kejadian penting yang kemudian merubah situasi lingkungan ini dan hal itu menetap dalam otakku hingga kini, karena aku termasuk salah satu saksi sejarahnya. Tepat sehari sebelum perayaan 1 Muharram atau lebih dikenal dengan 1 Suro, sore hari, beberapa anak kecil bermain air di tepian sungai itu. Saling bercanda dan berebut berbagai hal yang dianggap menarik, atau saling sembunyi-sembunyian di belakang pohon-pohon atau tebing yang menjulang. Tempat itu benar-benar menjadi tempat anak-anak berkumpul dan bermain air menjelang petang. Mereka akan bergembira loncat kesana kemari dari tepian sungai. Namun, hari itu adalah hari naas, air sungai naik mendadak bergemuruh tanda bahwa sungai sedang banjir terkena limpahan air hujan dari hulu. Dua anak kecil terseret arus air dan hilang ditelan sungai. Aku dan teman-teman yang lain segera menghambur panik berlarian pulang menceritakan kejadian besar yang menimpa kami. Ya, pohon di pingggir sungai itu juga menjadi saksi bisu sejarah memilukan itu.

Malam itu bukan lagi malam yang tenang, puluhan pemuda dikerahkan menyusuri sungai mencari kedua anak yang hilang terseret arus air sungai itu. Orang-orang tua sibuk berkoordinasi dengan aparat desa, polisi, dan tim SAR dari kota. Keluarga korban menangis pilumemikirkan nasib anak-anka mereka. Malam itu seharusnya mereka merayakan tradisi leluhur, melaksankan ritual dan acara selamatan desa pada malam 1 Suro. Namun, kali ini bukan hiruk pikuk bahagia, malah sebaliknya, kesedihan yang melanda. Sesepuh desa dan beberapa orang perangkat desa dan warga berusaha untuk tetap menjalankan tradisi mereka. Mereka yang dituakan itu tetap melanjutkan ritual di tengah desa dan beberapa tempat yang dikeramatkan, terutama kuburan Mbah Dipo, seorang yang dianggap sebagai manusia pertama yang membuka lahan desa itu. Mbah Dipo begitu dihormati dan bahkan dipuja-puja sebagai pelindung desa. Maka, mereka minta barakah dan perlindungan pada makamnya, dan itu sudah menjadi semacam kewajiban dan syarat jika ingin desa aman dan terlindungi dan bahaya.

Menjelang tengah malam, desa makin sunyi, kesibukan pencarianpun dihentikan. Rencananya dilanjutkan pagi hari, itupun kalau ada yang mau, karena mengikuti acara ritual dan tradisi bagi sebagian dari penduduk desa ini adalah lebih penting daripada mencari jasad anak-anak yang hilang itu. Menurut mereka, pencarian itu bisa ditunda atau menunggu hingga ada kabar dari hilir yang mungkin telah lebih dahulu menemukan jasad anak-anak itu.

Mbah Karimun, yang paling dituakan pada masa itupun sudah sejak sore mengawali ritual di tengah desa, kemudian menjelang jam 10 malam pindah ke makam Mbah Dipo. Sebuah tempat yang sangat dikeramatkan, angker, dinaungi sebuh pohon besar yang berusia ratusan tahun, seumur dengan pembukaan lahan desa itu. Itu adalah pohon yang ditanam Mbah Dipo semasa hidupnya dahulu. Bahkan pohon itupun diberi sesajen untuk membahagiakan dan menghormati Mbah Dipo. Pohon itu dianggap sebagai wakil keberadaan Mbah Dipo yang terus mengontrol desa dan penduduknya.

Sambil komat-kamit, Mbah Karimun yang juga salah satu keturuna Mbah Dipo duduk bersila tunduk hormat di depan makam. Lama sekali sunyi senyap, namun tiba-tiba Mbah Karimun berteriak bahkan meloncat mengejutkan orang-orang yang duduk melingkar di belakangnya. Suasana yang awalnya sepi dan hanya sedikit disela gemerisik alam, berubah jadi terkejut panik.

“Mereka dijaga Mbah Dipo didekat hutan jati”, sambil terengah-engah Mbah Karimun berusaha menyusun kesadarannya.

“Mereka ditemukan”, sekali lagi Mbah Karimun berujar.

Orang-orang segera paham apa yang dimaksudkan, yaitu bahwa dua anak desa mereka yang sore tadi hanyut telah ditemukan. Lantas beberapa orang segera beranjak mencari para pemuda dan menginstruksikan agar segera mencari lokasi yang ditunjukkan oleh Mbah Dipo melalui Mbah Karimun. Mereka sangat mempercayai kekuatan gaib semacam itu, bahkan akan sangat takut untuk tidak mempercayainya, takut kena musibah.

Ketika malam telah beranjak menjelang subuh, para pemuda itu pulang dengan membopong 2 jasad anak kecil, tak bernyawa lagi. Tangispun menyeruak lagi menghias awal tahun baru itu. Pesta makan-makan yang biasanya diadakan, tidak jadi digelar. Bahkan pagi itu, arak-arakan yang dipimpin perangkat desa dan para sesepuh berubah, tidak seperti biasanya. Atas instruksi Mbah Karimun, arak-rakan itu diikuti pula dengan pemakaman 2 jasad korban keganasan sungai itu. Katanya hal itu atas perintah Mbah Dipo melalui wangsit yang diterimanya. Mbah Dipo menyuruh agar 2 jasad itu dikuburkan di pinggiran sungai tempat mereka terseret arus sungai, yaitu tepat di utara sebuah pohon yang menyendiri. Padahal tempat itu merupakan tempat favorit anak-anak kecil bermain. Maka, setelah hari itu, tempat itu berubah menjadi tempat paling ditakuti anak-anak.

Telah 25 tahun berlalu, kini aku kembali dan mendapati kuburan 2 orang temanku itu telah berubah. Dua kuburan itu kini dicungkup indah bahkan dinaungi rumah-rumahan, disekelilingnya telah banyak kuburan yang turut mengisi area itu. Bisa dibilang telah menjadi pekuburan umum, hanya saja dua kuburan teman-temanku itu saja yang dirawat dan diperindah, serta hanya dua kuburan itu saja yang berada di utara pohon, selebihnya berada di sisi selatan. Area itu kini dikelilingi pagar dan juga dibuatkan gerbang masuk. Pohon itupun jauh berubah, besar, rindang, dan terkesan angker. Di bawah pohon itu bertebaran sesajen seperti juga di sekitar 2 kuburan temanku itu. Kuburan dan pohon itu begitu dipuja dan dihormati, seperti juga kuburan Mbah Dipo. Banyak orang yang sakit mendapatkan kesembuhan setelah bermimpi bertemu dengan Mbah Dipo atau 2 temanku itu. Maka, makin dipujalah 2 kuburan itu, karena mereka telah dianggap sebagai pelindung dan pemberi rasa aman bagi warga desa. Meskipun generasi telah berganti, tapi ritual itu tetap ada dan dilestarikan. Hanya saja, di masa kini, penduduk desa telah hidup modern dan beradaptasi dengan pola hidup kota. Desa telah teraliri listrik, jalan halus, dan transportasi lancar. Perubahan besar telah melanda desa ini dan penduduknya.

Akan tetapi, pada kenyataannya perubahan itu bukan mengarah kepada hal yang lebih baik, namun seperti masuk mulut harimau masuk pula mulut buaya. Belum lepas mereka dari keterpasungan dalam kesyirikan dan kebodohan dengan melaksanakan ritual kesyirikan mengharap pertolongan kepada selain Tuhan yang Maha Kuasa, kini mereka terseret pula dalam kerusakan moral modernisasi dan peradaban baru yang sebenarnya malah tidak beradab.

Kini para pemuda desa ini bergaul dan bertingkah laku sepereti anak kota. Ritual yang dahulu sangat sakral dan tenang, kini berubah menjadi pesta pora. Ritual malam 1 Suro yang diisi dengan mengunjungi makam-makam keramat dan pada pagi harinya dilanjutkan dengan makan-makan bersama di tengah desa, kini jauh berubah. Malam 1 Suro kini sangat ramai dengan orang berjualan di makam-makam dan di tengah keramaian desa, sangat jauh dari kesan sakral dan beradab. Disusul kemudian pagi harinya bukan lagi dengan makan-makan di tengah desa yang di dahului ritual do’a keselamatan, tapi kini diisi dengan acara musik di panggung besar di tengah desa. Konser diadakan dengan mengundang artis-artis seronok yang suka tampil vulgar. Dan memang kevulgaran itu saja yang jadi andalan, karena suaranya ala kadarnya saja alias pas-pasan. Entahlah, mana yang lebih buruk, melaksanakan kegiatan kesyirikan yang dibungkus ritual dan ketaatan adat, ataukah perubahan dengan mengikuti kerusakan moral dan pola pergaulan peradaban baru yang tidak beradab yang merusak akhlaq semua kalangan?.

Kini kedua bentuk kerusakan itu dilaksanakan, dan kondisi semacam ini makin umum terjadi di negeri ini. Di berbagai belahan kota dan desa, orang kaya dan miskin, tua dan muda, tidak mampu menemukan jati diri mereka. Pencarian yang selama ini terus dilakukan tidak menemukan tujuannya. Setiap komunitas kini tergerus zaman, lewat tehnologi diperkenalkan kevulgaran dan kerusakan moral, dan lewat tehnologi pula disebarluaskan kesyirikan dan berbagai bentuk penyelewengan pemahaman keagamaan.

Para dai dan ulama yang mengajak kepada kebaikan pada lemes, kurang semangat, cermin keputus-asaan diri menghadapi zaman. Padahal ummat ini akan terus terbelenggu lingkaran setan kesesatan dan kerusakan moral jika tidak ada ulama dan umara’ yang rajin, getol, serta tekun melakukan perubahan ke arah perbaikan. Dan hal ini wajib berkelanjutan dari generasi ke generasi. Sekali saja kaderisasi terputus dan tergerus arus kemaksiatan lagi, maka usaha perbaikan itu akan kembali dari nol lagi.

Semoga Islam bercahaya dan bersinar terang kembali.

InsyaAllah.

Dulu Saya Islam, Sekarang………

Desember 27, 2008

Puji Tuhan……….

Puji Tuhan……….

Puji Tuhan……….

Berkat adanya berbagai masukan dan kenyataan yang tersampaikan kepada saya, kini saya telah berubah. Puji Tuhan, dulu saya Islam, sekarang………..hahahahhahaha…..

saya makin menemukan bagaimana Islam sebenarnya, saya makin memahami Islam, dan saya makin mendalami Islam, karena bagi saya Islam adalah agama yang haq (benar).

Alhamdulillah, cahaya Islam tetap menerangi saya, dan insyaAllah menjadikan diri saya makin menyatu dengan Islam. Rasulullah menyatakan bahwa barang siapa yang hari ini lebih jelek dari kemarin, maka orang itu termasuk merugi. Maka, saya selalu berusaha untuk berubah, berusaha meningkatkan kualitas pemahaman saya mengenai agama Islam yang benar. Perubahan ini diantaranya adalah berkat adanya berbagai diskusi dan lancarnya media informasi. Kita dapati banyaknya kenyataan yang menghinakan Islam dan memanipulasi informasi tentang Islam, serta memojokkan perjuangan Islam. Maka dari itu, terimakasih saya ucapkan kepada para pembenci Islam, karena dengan adanya kalian, maka saya makin teguh dalam Islam. Karena dengan adanya kalian, mempertebal keyakinan saya akan kebenaran Islam.

Benarlah kiranya firman Allah swt yang menyatakan bahwa segala penciptaan makhluq ada manfaatnya, tidak ada yang diciptakan sia-sia. Kalian para pembenci Islam, sama seperti adanya nyamuk-nyamuk penggangggu yang menyedot darah manusia, tapi juga dengan gigitannya itu membangunkan manusia untuk sadar diri dan mempertebal perlindungan diri serta membangunkan manusia lepas dari mimpi untuk melaksanakan ibadah di malam hari.

Allah swt juga telah menciptakan syaitan dan murid-murid syaitan tidak dengan sia-sia, karena mereka adalah pembanding sejati untuk kebenaran Islam, seperti halnya gelap dan terang.

Gara-gara kalian, saya makin meyakini kebenaran Islam.

Gara-gara kalian membuat situs-situs pelecehan muslimah, maka saya makin yakin bahwa hanya Islam sajalah penjaga moral yang sejati.

Gara-gara kalian melecehkan para utusan Tuhan, maka saya makin yakin bahwa Islam adalah satu-satunya pilihan hidup manusia bermoral dan beradab.

Maka dari itu sebagai ucapan terimakasih saya, semoga Allah swt melaknat kalian dengan azab yang pedih.

Islam terbukti sebagai ideologi dan jalan hidup yang lengkap, mengatur segala segi kehidupan manusia.

Dulu saya Islam, sekarang insyaAllah makin teguh dalam Islam.

Amiin.

Santai Lagi……..

Desember 12, 2008

Sudah Punya Hotel….????

Seorang kakek tua perokok berat berusia 70 tahun dengan nafas tersengal sengal mendata ngi dokter langganannya. Si kakek telah tiga kali mendatangi dokter langganannya dalam satu bulan terakhir ini.
Pasien : ” Dokter, nafas saya sudah tiga hari ini terasa berat dok, susah tidur dok “.
Rupanya si dokter sudah kesal dengan keban delan si kakek yang tidak mau berhenti mero kok.
Dokter : ” Bapak ini gimana sih, saya sudah berkali kali katakan berhentilah merokok. Be rapa umur bapak sekarang …”
Pasien : “70 tahun dok.”
Dokter : “Mulai umur berapa Bapak merokok “.
Pasien : ” Umur 16 tahun dok ”
Dokter :” Nah, coba Bapak bayangkan merokok dari umur 16 tahun sampai umur 70 tahun….ka
lau uang buat beli rokok itu Bapak kumpulkan, sudah bisa buat bikin hotel..”
Si kakek rupanya tersinggung berat.
Pasien : ” Begini Dok. Dokter umurnya seka rang berapa tahun “.
Dokter : ” Sama seperti Bapak, 70 tahun “.
Pasien : ” Dokter merokok ? “.
Dokter : ” Ooh jelas enggak dong “.
Pasien : ” Sudah punya hotel ???”.

Saat Makan

Ada keluarga sedang makan bersama diruang makan seorang anak mau bicara kepada ayahnya
Anak : “Pak ada …”
Ayah : “Ssst kalau makan tidak boleh bicara”
Anak : “Tapi yah ada …”
Ayah : “Ayah bilang kalau makan tidak boleh
bicara.”
(ketika selesai makan si ayah tanya)
Ayah : “Sekarang kamu boleh bicara, apa yang
mau kamu katakan?”
Anak : “Saya mau bilang bahwa tadi ada maling
ambil jemuran kita”
Ayah : “Hah ?!!?”

Sumber: Kiriman dari teman.

Tidak Membantu Malah Menjegal

Desember 10, 2008

Ada komentar bahkan hujatan, bahwasanya orang-orang yang kritis memberikan peringatan dan tegas terhadap kemaksiatan di lingkungan dan daerahnya adalah orang yang pengecut, karena tidak mau berjuang di tempat yang seharusnya seperti Palestina dan Afghanistan.

Ada berbagai ulasan dan alasan dikemukakan sebagai dalil mempersalahkan dan menghujat segelintir ummat Islam yang tegas melawan ketidakbenaran. Dalil-dalil yang dipakai juga dari Alquran dan Alhadist, namun dengan mekanisme penafsiran dan pola pikir yang tidak semestinya, alias tidak relevan (atau mungkin juga sengaja disesuai dengan kehendak hatinya sendiri) untuk mendukung pendapat pribadinya tadi dalam mempersalahkan para pejuang Islam.

Manusia-manusia dengan tipe semacam inilah yang tercetak dengan pola pikir tanpa tuntunan Ilahi, cenderung suka menghujat, mengikuti pola pikir non-islami, cenderung kepada sistem dan tingkah laku di luar islam, lebih mengutamakan nafsu dan kehendak pribadi daripada ketetapan agama (ideologi) yang dianutnya. Mereka berlagak mempertanyakan tindakan orang-orang yang dianggap “keras” semacam FPI dan kelompok-kelompok sejenis yang tegas menghadang kemaksiatan. Juga mengenai cara-cara peledakan bom di Bali dan beberapa tempat lainnya yang dikatakan dan diexpose sebagai tindakan terorisme. Mengapa tidak mau membandingkannya dengan terorisme sejati hasil karya Inggris maupun Amerika dalam mendukung Israel membunuh dan menyiksa ratusan ribu rakyat Palestina?. Mereka malah mengatakan bahwa tindakan-tindakan tegas dari sebagian umat Islam itu sebagai tindakan bodoh. Koar-koar yang menyudutkan para pejuang Islam semacam itu biasanya malah berasal dari orang-orang yang sebenarnya pengecut, mereka tidak berani melawan kemaksiatan, tidak mau memperjuangkan Islam, dan bahkan mungkin tidak mau menerima Islam secara kaffah (sepenuhnya).

Ijtihad yang dilakukan para pejuang Islam dimanapun berada, seharusnya tidak perlu dipersalahkan dan dijelek-jelekkan. Para pejuang itu memang bukanlah malaikat yang tanpa dosa. Kesalahan-kesalahan dalam tindakan mereka pasti ada, tapi itu lebih baik daripada para pengecut yang diam melihat kemaksiatan di daerah mereka. Para pejuang yang berijtihad dan salah maka berpahala satu, sedangkan yang benar berpahala ganda.

Para pengecut itu selalu mencari-cari kesalahan hasil ijtihad orang lain, padahal dia sendiri tidak melakukan apapun dan tidak punya solusi apapun dalam menghadapi permasalahan yang ada. Orang-orang semacam itu termasuk orang-orang yang sangat merugi dan pantas untuk diberi pertanyaan; Apa saja yang telah dilakukannya sebagai bagian ummat Islam dalam menghadapi kemaksiatan? Sudahkah turut serta berusaha mengishlah dan berdakwah kepada ummat? Atau jangan-jangan dia tidak melakukan apapun selain berkomentar jelek dan menjelek-jelekkan orang lain yang berani bertindak menyelesaikan masalah. Pantas kiranya bagi manusia semacam itu mendapat sebutan NATO (Not Action Talk Only). Naudzubillah.

Mungkin sebagian besar ummat Islam turut mempertanyakan tindakan-tindakan peledakan bom dan bentuk-bentuk kekerasan serta ketegasan terhadap kemaksiatannya lainnya di wilayah yang bukan wilayah perang. Apa diperbolehkan?

Kalaulah kita menyatakan tidak setuju dan menganggap ijtihad semacam itu salah, maka itu adalah bagian dari penafsiran dan bagian dari kompleksitas permasalahan. Namun, sekali lagi perlu ditekankan, janganlah menjadi bagian dari orang-orang yang menghujat tindakan orang lain. Selain itu, ketidaksamaan pendapat atau perbedaan pendapat tidak harus berujung pada penghujatan ijtihad orang lain. Padahal, mereka yang melakukan penghujatan itu juga tidak jelas kontribusinya dalam menyelesaikan masalah-masalah yang berkembang.

Umat ini seharusnya bersatu, meskipun ada cabang-cabang ide dan bentuk-bentuk penyelesaian masalah yang berbeda. Kalau tidak bisa ikut bertindak dan tidak mau berpartisipasi atau tidak mempunyai solusi dalam membantu ummat, lebih baik diam menyimak dan belajar, jangan menjegal usaha orang lain. Semoga ummat ini dijauhkan dari pertikaian dan perpecahan akibat rongrongan para pengecut yang suka menjegal ijtihad saudaranya. Amien.

Bangga Jadi Miskin

Desember 9, 2008

Kebiasaan masyarakat Indonesia, kreatif mempergunakan kesempatan. Namun, kesempatan yang dimaksud di sini adalah hal-hal yang kurang baik dan cenderung memalukan. Entahlah, mungkin karena taraf pendiikan yang terlalu rendah, atau salah arah pendidikan. Kian hari, kian banyak bertebaran generasi-generasi pengemis, pemalas, tidak berpengetahuan, dan berpikiran instan.

Perhatikan berbagai even yang digembar-gemborkan memberikan hasil instan dan cepat tanpa perlu banyak keluar modal dan usaha. Yang penting bisa untung, entah prosesnya gimana terserah, mungkin demikan pemikiran mereka. Hal-hal demikian ini dapat kita temui dalam berbagai bentuk, baik yang halal maupun yang haram. Contohnya dalam hal yang haram, merebaknya berbagai bentuk perjudian skala kecil semacam perjudian tukang becak dan preman pasar pakai kartu maupun domino dengan omset kecil, sampai taraf level tingkat tinggi pakai mesin judi slot dan rollet dengan omset jutaan. Ada pula bentuk-bentuk perjudian terselubung melalui media elektronik, termasuk penggunaan SMS premium yang berharga mahal dan diundi dengan iming-iming hadiah besar, padahal tidak semuanya mendapatkan hasil. Lebih banyak dari mereka yang rugi dan sekedar ditipu saja. Para penjudi ini berdalih untuk menambah penghasilan, mereka berusaha mendapat kesenangan dan terbuai harapan mendapatkan keuntungan secara instan. Itulah para pemalas.

Dalam bentuk yang halal dan baik juga demikian adanya, banyak manusia yang kreatif dan pintar mengakali. Liat aja kasus-kasus BLT, orang-orang pada berebut untuk dimasukkan dalam daftar orang miskin agar menerima uang instan. Mereka berlagak jadi orang miskin di bawah garis standar hidup, padahal punya TV, kulkas, rumah lumayan, bahkan punya perhiasan emas. Ada lagi even pembagian zakat fitrah, zakat maal, daging kurban, dan sebagainya. Banyak yang berlomba-lomba menuju kemiskinan. Mereka turut antri dan berdesak-desakan dengan orang-orang lainnya yang memang berhak menerima pembagian itu. Mereka tidak punya malu lagi, tidak merasa bahwa kelakuan-kelakuan semacam itu adalah salah dan memalukan. Persis juga dengan orang-orang yang pura-pura miskin kemudian berkeliling kota mencari-cari sumbangan mengatasnamakan yayasan yatim piatu, dan sebagainya. Sedangkan orang-orang yang benar-benar miskin susah hidup dan harus bersaing penghidupan dengan para penyerobot kreatif tadi.

Demikianlah, banyak di sekitar kita, manusia yang kreatif sedemikian, tidak punya malu menyerobot hak-hak saudaranya yang lain yang benar-benar miskin. Hal ini sebenarnya adalah juga salah satu jenis korupsi yang makin kuat mengakar dalam tingkah laku bangsa kita. Lantas kenapa negara tidak bersungguh-sungguh mengelola keuangan yang berasal dari zakat, sumbangan, infaq, pajak, dan lain sebagainya untuk alokasi penghidupan kaum miskin dan anak terlantar. Padahal kaum miskin dan anak terlantar seharusnya menjadi tanggungan negara. Beberapa waktu lalu telah diadakan peraturan pelarangan memberikan uang kepada pengemis dan gelandangan di jalanan kota-kota besar, tetapi solusi untuk mengcover penghidupan mereka tidak dioptimalkan, demikian pula tunjangan pendidikan gratis, kesehatan gratis, dan lain sebagainya susah diperoleh oleh kaum miskin.

Lantas keuangan ini kemana mengalirnya??? Apakah masuk kantong pejabat atas alias di korupsi???

Begitu pula pembagian kurban, zakat, BLT, dan sebagainya, sepertinya masih banyak salah sasaran, termakan orang-orang yang memiskinkan diri dan tukang serobot hak orang-orang lain yang seharusnya menerimanya. Hal-hal semacam ini kenapa tidak ditertibkan??? Atau memang dikondisikan demikian agar manusia-manusia Indonesia tetap menjadi generasi pemalas, tidak tahu malu, dan jadi tukang serobot. Mulai dari pejabat atas hingga komunitas rakyat jelatanya mengakar sikap korupsi dan sifat tidak tahu malu.

Naudzubillah.

Kapan berubah???

Selamat Idul Adha 1429, semoga penuh barakah. Amien.

Stories 4 You:

Desember 8, 2008
1. Prophet Muhammad and The Wrestler

Rukanah was a famous wrestler of his time in Arabia. He had won many wrestling bout and his name had become a terror in his profession. Nobody dared to face him. This made Rukanah mighty proud of his strength and valour.

When the Holy Prophet Muhammad (peace be upon him) conveyed the teachings of Islam to his followers, Rukanah was also there. He threw a challenge to the great prophet and said, “Wrestler as I am, I shall not accept you as a messenger of God and embrace Islam unless you defeat me in a wrestling bout”. Brave and fearless as our Prophet was, he accepted the challenge without hesitation. And why should he hesitate when he feared none but Allah. Thrice, the Holy Prophet knocked down the proud wrestler Rukanah. Losing the fight, Rukanah realized the difference. He was ashamed of his unwise challenge. Faith with he recited the Syahadah: “There is no God but Allah and Muhammad is Allah’s messenger”, and embraced Islam.

2. Matchless Forgiveness

Prophet Muhammad (peace be upon him) was sleeping under a tree one day. Da’sur, a hostile horseman happened to pass that way. He jumped down the faithful animal and pulled out his sword to put the enemy of his gods to death. Awaken by he noise, the prophet opened his eyes, and saw a sword shining over his head. “Who will save you now?”, cried the unbeliever with a look of triumph. “Allah!”, was he confident reply of the Holy Prophet.

These words struck the unbeliever with great terror. He began to tremble and his sword fell down. The Prophet got up with the same sword in his hand and said to Da’sur, “But who will save you now?”. “None”, replied the idol worshipper. “No?”, replied the Prophet with a smile on his face. “You are entirely mistaken. My God will save you, just as He has saved me. Here is your sword, have it, and go your way”. The unbeliever was filled with great surprise at this strange forgiveness for his insolence. He tried to go away, but could not do so without embracing Islam.

Forgive those who deserve no forgiveness اعف من لا يستحق له الإعفاء

Tiga Pejuang

Desember 8, 2008

Ada baiknya bagi kita untuk sedikit refreshing ditengah kesibukan kerja atau belajar. Tapi, tidak semata-mata bermain dan melupakan otak. yang jelas mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya, termasuk dengan menyisihkan sedikit waktu untuk relax. Kita tentu ingat dengan perjuangan para pahlawan dan tentara kita dahulu kala ketika melawan kompeni belanda…!? Berbagai kisah perjuangan telah kita dengarkan dan didoktrinkan ke kepala kita. Semangat yang menggebu dari para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa haarus kita hormati dan segala hasil pengorbanan para pahlawan di masa lalu itu harus kita pergunakan dengan seoptimal mungkin untuk menuai keberhasilan hidup kita. Nah, di sini ada sebuah cerita yang terjadi di sebuah kota yang berhasil diserang oleh pejuang Indonesia. Kompeni yang merasa kewalahan berusaha menggunakan kelicikan dan menyatakan ingin melakukan perundingan damai atau gencatan senjata istilahnya. Akhirnya dari pihak pejuang dikirimlah tiga orang pejuang untuk mengadakan perundingan dengan pihak Kompeni. Walhasil, ketika berada di markas Kompeni, ternyata mereka dijebak sehingga kemudian salah seorang pejuang itu tewas ditembak.

Selanjutnya, dengan kematian seorang pejuang tersebut apakah moril dan semangat pejuang kita kendur? Tenyata tidak. Apakah jumlah mereka semakin menyusut dan terdesak? Tenyata tidak. Lho, kok bisa demikian, sebenarnya berapakah pejuang yang tersisa?

Apakah ada yang bisa menjawab persoalan ini? Jawaban anda sangat dinantikan….sambil relax dan mengisi waktu luang anda.
:)

Tuhan dan Polisi

Desember 8, 2008
Seorang bocah yang sangat ingin melanjutkan sekolah, tetapi orang
tuanya tidak mempunyai uang untuk membiayai sekolahnya.Lagipula ibunya yang sedang
sakit membutuhkan biaya untuk membeli obat.

Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada Tuhan :

Kepada Yth
Tuhan
di Surga

Tuhan yang baik, saya mau melanjutkan sekolah, tapi orang tua saya tidak
punya uang.
Ibu saya juga sedang sakit, mau beli obat.Tuhan saya butuh uang Rp 20.000
utk beli obat
ibu, Rp 20.000 untuk membayar uang sekolah, Rp 10.000 untuk membayar
uang seragam, dan uang buku Rp 10.000. Jadi semuanya Rp 60.000

Terima kasih Tuhan, saya tunggu kiriman uangnya.
Dari : Rio.

Rio pun pergi ke kantor pos untuk mengirim suratnya. Membaca tujuan surat
tersebut, petugas kantor pos merasa iba melihat Rio, sehingga tidak
tega mengembalikan suratnya.

Bingung mau di kemanain surat itu, akhirnya petugas pos itu
menyerahkannya ke kantor polisi terdekat.Membaca isi surat itu, Komandan polisi merasa iba dan
tergerak hatinya utk menceritakan hal tsb kepada anak buahnya. Walhasil, para polisi pun
mengumpulkan dana utk di berikan ke Rio, tetapi dana yang terkumpul hanya Rp 55.000,-

Sang Komandan pun memasukan uang yang terkumpul ke dalam amplop, menuliskan
keterangan : ” Dari Tuhan di Surga ” dan menyerahkan ke anak buahnya
utk di kembalikan ke Rio. Menerima uang tsb, Rio merasa sangat senang permintaannya
terkabul, walaupun yang di terima hanya Rp 55.000,-. Rio pun bergegas
mengambil kertas dan pensil, dan mulai menulis surat lagi :
“TUHAN LAIN KALI KALO MAU KIRIM UANG, JANGAN LEWAT POLISI,
KARENA KALO LEWAT POLISI DI POTONG RP 5.000,-”

Sumber: Kiriman dari teman.

Please keep smile.

Belajar Membuat CSP (Cerita Sangat Pendek)

Desember 5, 2008

Resahku….

Tergagap bangun, aku terduduk, tertegun lama sekali berusaha mengembalikan kesadaranku. Ini adalah yang kesekian kalinya terjadi. Jam 3 pagi, ya, hampir selalu jam 3 pagi aku terbangun lemas berkeringat, terasa panas di kepala. Suasana kamar sepi, terdengar samar detik jam dinding yang tersaingi kerikan jangkrik bersahutan, mungkin 2 atau 3 ekor dari arah halaman belakang dan lahan kosong di samping rumah.

Mimpi-mimpi itu terus mendatangi. Isinya memang tidak sama, namun seperti dalam tema yang sama dengan alur yang berkelanjutan. Aku ingin menuliskannya lagi, semenjak beberapa kali mimpi serupa itu membuatku merasa susah memejamkan mata lagi. Mungkin ini adalah yang ke-enam dari banyak mimpi sebelumnya yang belum sempat aku tulis.

Kupandangi buku tulisku diatas dipan kayu. Mejaku memang hanya itu, meja kecil dengan duduk lesehan tanpa kursi. Ada beberapa kitab, termasuk Alquran dan buku do’a, beberapa kertas coretan dan buku-buku tulis, salah satunya ku pakai sebagai diary. Bukan kebiasaanku memang, untuk menuliskan isi pikiran dalam diary, sehingga aku tidak pernah punya buku diary yang sesungguhnya.

Masih enggan, aku duduk di depan meja kecilku, menatap Alquran, aku sempat bertanya dalam hati apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa terjadi pada diriku. Bagi orang-orang yang dekat dengan Tuhan, ketika mendapatkan hal yang meresahkan hati seperti ini pasti akan segera bangkit, berwudlu, shalat malam, dan membaca Alquran. Mungkin itu yang akan mereka lakukan untuk menenangkan hati yang resah gulana.

Tapi aku bukanlah seorang yang rajin sembahyang, ayat-ayat Alquranpun susah sekali aku hafalkan, shalat malam hampir tidak pernah aku jalankan. Tak ingat berapa kali aku menjalankan shalat malam dalam tiga bulan terakhir ini. Bukan karena terlalu banyak, tapi karena terlalu jarang maka tidak terhitung jumlahnya. Shalat malam yang rutin aku kerjakan hanyalah shalat tarawih. Ya, hari ini adalah dua hari menjelang Ramadhan, biasanya shalat tarawih tidak pernah terlupa.

Heeeeeh……..

Aku menghela nafas sekali lagi sambil meraih pena dan mulai membuka diary mimpi. Ku buka beberapa lembar dan ternyata memang ku beri nomor lima untuk mimpiku, mimpi anehku, sekitar sebelas hari yang lalu. Berarti ini urutan ke-enam yang akan kutuliskan. Kumulai dengan menulis detail waktu kejadian dan TKP.

“Kamarku yang sunyi, dua hari menjelang Ramadhan 1429, terbangun jam 03.05, mulai menulis diary pada jam 03.25 pagi”

Berarti aku sudah sekitar 20 menit termenung menunggu kesadaran diri. Di sana juga kutuliskan dua hari menjelang Ramadhan karena aku tidak hafal nama-nama bulan dalam penanggalan islam. Entahlah, memalukan memang, sebagai orang islam aku sendiri tidak pernah berusaha tahu penanggalan hijriyah.

Kulanjutkan tulisanku,

“Kali ini mimpiku makin terasa nyata. Bahkan kepalaku panas, penginderaaanku semua siaga, mataku perih merah, hidung terasa sesak bagaikan keluar dari dapur pembakaran yang pengap, telingaku pun mendenging. Kali ini kumulai mimpiku di sebuah jalanan lebar yang berlubang dimana-mana, bekas galian dan juga ledakan. Banyak bagian aspal yang sebenarnya masih mulus hitam, tapi hampir semuanya telah ditutupi tebaran debu memutih kotor.

Lubang-lubang itu, lebih tepatnya lubang bekas ledakan, diperlebar untuk tempat berlindung. Sebentar aku masih mengamati sekitarku, mencoba memahami suasana yang terjadi, namun, sentakan seseorang tiba-tiba membawaku jatuh bersamanya, diiringi kemudian suara rentetan senjata berat dan ledakan di sekitarku. Benar-benar menakutkan dan membuat siapa saja yang ada di sana panik bukan kepalang.

Belum lagi aku sempat menyadari apa yang terjadi, tanganku segera ditarik keras atau bahkan diseret menjauhi ledakan yang baru saja terjadi dan menghamburkan segala komposisi aspal dan tanah dibawahnya. Serpihan-serpihan dan bongkahan aspal serta debu menerpa apapun disekitarnya. Akupun belum tahu siapa yang menarikku keras, menjagaku ataukah malah menyanderaku. Sambil menunduk terseret-seret, aku memegang perut kiriku dengan tangan kanan, perih. Kurasakan lambungku makin panas, ku perhatikan situasi mulai terasa sepi menjauhi suara tembakan yang masih susul-menyusul.

Seketika aku teringat lantunan merdu penyanyi Syria yang syahdu, dan rasanya ingin memejamkan mata menikmati seuntai bait menyentuhnya. Aku memang suka lagu-lagu berbahasa arab meskipun tidak paham benar bahasanya. Maklumlah disuruh belajar bahasa arab susahnya setengah hidup setengah mati, mbandhel. Padahal orang tua maupun beberapa teman telah mengingatkan bahwa bahasa arab adalah bahasa ibu kita sebagai orang islam, tapi entahlah hati ini susah sekali mentaati nasehat-nasehat mereka.

Sekarang baru tahu rasa, saat ingin memahami lantunan indah tidak paham artinya, ketika ada ayat Alquran dan Hadist diperdengarkan juga tidak paham maknanya, dan itu berarti juga tidak paham segala dasar agama dan ideologi yang seharusnya jadi prioritas hidup kita. Terngiang kembali lantunan indah lagu Syria. Hal ini termasuk salah satu hal yang aneh juga bagiku, sudah jelas tidak paham bahasanya, tapi kenapa masih suka juga bait-bait dan irama musik itu. Atau mungkinkah aku sekedar suka sama kemolekan penyanyinya saja? Ah, kupikir tidak juga, karena banyak lagu yang dinyanyikan penyanyi pria juga aku suka, jadi tidak melulu melihat kemolekan penyanyinya.

Makin lama aku semakin tenggelam dalam lantunan lagu merdu dalam kenanganku. Terasa tubuh makin lemas dan mata makin terpejam, letih sekali terasa persendian dan gerak langkahku. Namun, kesadaranku mulai pulih kembali tatkala pipiku terasa ditepuk-tepuk dan badanku digoyang-goyangkan agar aku terbangun dan kembali tegar. Aku perhatikan kembali orang yang menyeretku, masih muda, potongan rambut rapi pendek, pun tidak menampakkan wajah suram. Kata-katanya susah untuk dipahami, tapi jelas itu adalah bahasa arab dan dari intonasi serta arahannya, aku paham bahwa dia tidak ingin aku tertidur lagi yang mungkin akan berlanjut tidak bangun selamanya.

Di depan sana kira-kira 10 meter ke depan ada lagi seorang yang turut berlari-lari, selalu memunggungi, tidak menoleh ke arahku sama sekali, seakan menjadi penunjuk jalan dan mengamankan situasi. Tangan kiriku kembali disentak erat dan sangat memaksa, terseret-seret rasanya kakiku yang ternyata sudah tidak memakai alas kaki lagi. Aku perhatikan baju dan celanaku masih lengkap meski terlihat lusuh dan ada robekan-robekan di helai bajuku. Perih itu terasa lagi, aku perhatikan tangan kananku yang memegang perut kiriku, tepat di daerah lambung, terlihat kini makin basah, akhirnya ku dekatkan ke arah wajahku dan tertampunglah lelehan darah segar di sana yang segera mengalir dan membasahi lengan bajuku meski pada saat itu telah terlipat hingga siku. Entah karena takut, terkejut, atau memang perutku sakit semakin parah, aku terjerembab di pinggir jalan. Perjalanan menyakitkan itu akhirnya terhambat sebentar. Aku segera diperiksa, tapi sudah terlanjur pingsan lagi.

Aku kembali sadar dengan terkaget, ternyata aku telah dibawa ke balik pagar di sebuah pekarangan rumah yang jelas sudah tidak berpenghuni. Entahlah rumah besar itu milik siapa, tapi sudah separuh hancur, isinya semburat keluar seakan rumah kertas yang dikoyak-koyak tangan besar dan kasar. Luka di perutku telah dibalut dan tanganku diletakkan disana untuk menekan dan menghambat pendarahan yang terjadi. Di seberang lubang pagar kulihat seorang lagi yang sejak tadi didepanku dan selalu memunggungiku, kini kulihat jelas perawakannya tidak terlalu besar, masih muda, dia menenteng sebuah senjata laras panjang, entah apa namanya, satu lagi dia cangklong di punggung adalah jenis Kalashnikov. Untuk yang satu ini aku sedikit tahu karena sering melihat di berbagai media massa, diidentikkan dengan terorist dan wajah arab. Dia tenang mengawasi sekitar sambil sesekali menatapku dan mencoba mengajakku bicara.

Aku tidak perhatikan sama sekali karena ingatanku masih loading, mencoba mencari jawab di mana sebenarnya aku saat itu. Di manakah lingkungan yang biasanya aku lewati?, keadaan menyakitkan yang kualami saat itu dilingkungan yang sangat berbeda, entah disebelah dunia mana. Anganku mencoba kembali ke waktu sebelum aku berada di tengah jalan dengan desingan peluru dan ledakan yang menakutkan tadi, tapi nol besar, tidak ingat sama sekali.”

Aku berhenti sebentar dari menulis diaryku, berdiri menuju meja makan menuangkan segelas air dingin. Sekilas terbayang kembali mimpiku. Sungguh nyaman bisa minum air dingin, entah bagaimana keadaan mereka yang sedang dilanda perang dan terlunta-lunta seperti itu. Jangankan air dingin, untuk mendapatkan kesempatan tidurpun mungkin sangat sulit, mempertahankan nyawa, hidup dan mati, sangat berarti bagi mereka.

Kulihat jam dinding sudah hampir jam 4 pagi, kupaksakan lagi menulis diary hingga selesai, kalau bisa sebelum jam 5 untuk shalat subuh. Aku menulis lagi sambil tetap berusaha mengingat-ingat isi mimpi aneh itu.

“Begitu aku menatap jalanan, tiba-tiba suasana berganti, ramai, wajah-wajah baru mengamati. Tempatku bersandar sudah bukan lagi pagar yang separuh runtuh, tapi sebuah tempat tidur dengan sprei seadanya. Terasa kembali sakit, aku mencoba turun dari tempat tidur, wajah-wajah itu menyambut. Kulihat perutku telah diperban, rapi. Lubang pagar yang kuamati berubah menjadi lubang jendela sebuah bangunan. Sinar matahari turut menusuk di sela-sela lubang dinding, entah karena sudah rapuh, ataukah senasib dengan pagar dan rumah dipinggir jalan tadi, di koyak peluru dan mortir. Namun, rumah suram ini tidak lagi menampakkan kesuramannya, tertutupi senyum para penghuninya.

Mereka mengerumuniku. Salah seorang yang sudah tua, beruban, dan berjenggot tidak terlalu panjang, mencangklong pula senjata laras panjang. Barangsiapa hidup diwilayah seperti itu seakan telah jadi keharusan untuk memiliki senjata, mempertahankan hidup. Tersenyum dia kepadaku,

‘Silahkan duduk saja’ katanya ramah.

Entah bagaimana, salah satu dari orang-orang ini bicara padaku dengan bahasa yang sama denganku. Dia memulai lagi berbicara setelah aku kembali duduk di atas tempat tidur sambil menyandar dinding sama seperti sebelumnya.

‘Dunia ini penuh dengan berbagai hal, ada baik dan ada buruk, ada benar ada salah, ada yang tertindas dan ada yang menindas. Semua itu telah menjadi isi dunia ini semenjak dahulu. Lihatlah kami di sini, kehilangan sandaran hidup, kehilangan segenap penjuru tanah dan ladang karena dijarah dan dijajah oleh kaum laknat. Ketika kami melakukan perlawanan demi hak kami, kami dibantai dengan keji dan bahkan di segenap penjuru dunia dikatakan bahwa kami adalah terorist yang tidak beradab. Setiap saat ada diantara kami yang harus merelakan saudaranya meninggal dengan mengenaskan menghadapi perlakuaan semena-mena musuh kami, setiap saat ada diantara kami yang harus merelakan anak-anaknya dibawa ke penjara untuk disiksa dan diperlakukan seperti binatang hanya karena keberanian mereka melempari para penjajah laknat bersenjata lengkap dengan batu seadanya. Ketika kami meminta keadilan kepada perserikatan dunia, hanya dianggap seperti angin lalu yang tidak berguna. Perlawanan demi perlawanan hingga saat ini masih kami lakukan dengan kekuatan tidak seberapa, jelas tidak berimbang dengan musuh kami yang dilatih negara-negara besar laknat yang juga menginginkan kami hilang dari muka bumi. Mereka mencanangkan perang terhadap terorisme, tapi mereka sendirilah yang menjadi teroris terbesar dan paling laknat.’

Suara ramah itu berhenti sebentar, akupun tak kuasa menahan sesak di dada, pilu mendengar keluh kesah seperti itu, tanpa terasa mataku turut berkaca-kaca meskipun sebisa mungkin kutahan-tahan. Kenapa hal seperti itu diceritakan pada diriku?

Suara itu menghela nafas menguatkan diri sebelum melanjutkan bicaranya,

‘Maka dari itu, kami di sini menitipkan pesan padamu, sampaikan salam kami kepada saudara kami di dunia sana yang dikelilingi kedamaian semu melenakan hati. Kami disini sangat membutuhkan bantuan kalian wahai saudara kami kaum muslimin, bergeraklah mengulurkan tangan kalian kepada kami, akan kami sambut dengan kehangatan dan pelukan mesra sebagai saudara. Akankah kalian membiarkan kami, saudaramu ini disini dibantai, dihinakan, diinjak-injak hak-hak dan kehormatannya. Kehormatan dan hak-hak ini adalah juga milik kalian sebagai saudara kami. Apakah kalian tidak merasa sakit dan terhinakan juga, padahal nabi kita telah mengatakan bahwa ummat islam laksana satu tubuh yang saling membutuhkan dan saling membantu apabila satu bagian tertimpa musibah. Kini kami, saudaramu, satu tubuh dengan kalian, telah mendapatkan musibah, kapankah kalian datang menolong kami yang sedang kesusahan ini. Tolonglah kami………’.

Helaan nafasnya kembali terdengar, panjang, dan tertahan, pilu.

Sepintas aku teringat pada orang-orang yang teguh dalam kesesatan mereka, pada orang-orang yang terlena dengan mengunggulkan otak-otak mereka, pada orang-orang yang setia menjadi anjing para laknat untuk menghujat saudara-saudara mereka sendiri yang sedang disudutkan dan dihinakan.

Aku makin merasa heran, bagaimana manusia bisa berpikir bahwa islam adalah teroris, padahal kenyataan membuktikan bahwa pejuang-pejuang islam hanya mempertahankan diri semata, mempertaruhkan nyawa dan harta demi hak-hak yang dirampas penjajah, berjuang demi kehormatan dan agama yang dihinakan para laknat. Kini, banyak wilayah-wilayah islam yang dipisah-pisah menjadi negara-negara kecil tanpa daya, dikerdilkan menjadi santapan musang-musang lapar.

Banyak sekali kenyataan dan bukti kebenaran diputarbalikkan oleh pemegang kendali informasi dunia. Segala yang diuraikan media massa harus menuruti skenario dan keinginan polisi dunia, sang musang berbulu domba. Penilaian yang bertolak belakang dari kenyataan itulah yang semakin menyudutkan para pejuang islam. Mereka diexpose sebagai pihak yang salah dan bermasalah.

Belum lagi, banyak orang islam sendiri yang terjebak dalam pemikiran bodoh yang sebenarnya malah membodohi mereka sendiri. Mereka islam, tapi turut serta memojokkan saudara mereka yang gigih berjuang melawan penjajah laknat, mereka bahkan terbawa dalam pengkondisian pola pikir yang salah, sesat dan menyesatkan.

Sekali lagi aku tertegun dan menghela nafas. Bagaiman bisa orang-orang yang mengaku islam, yang bersyahadat mengaku bertuhan Allah dan bernabi Muhammad, tapi tidak bersedia mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan dan wajib dikerjakan. Mereka berpikir layaknya orang non-islam, bertingkah laku tidak islami, tidak mau berpola pikir islami, menafsirkan agama sekehendak hati (nafsu)nya sendiri, bahkan ada yang mencapai kesesatan mempertanyakan kebenaran perintah-perintah Tuhan, baik wahyu Ilahi maupun hadist nabi. Tidak relevan katanya, tidak sesuai lagi dengan zaman. Selain itu, ada juga yang menganggap bahwa wahyu Tuhan adalah sesuatu yang tidak masuk akal dan mengatakan bahwa dogma-dogma agama dianggap nyleneh dan tidak masuk akal maka tidak wajib diikuti. Naudzubillah.

Orang-orang semacam itu, yang mengandalkan akal dan mempertuhankan akal, sebenarnya mereka itu telah terjebak pemikiran sesat sehingga menyimpang dari petunjuk Tuhan. Seharusnya mereka tahu bahwa akal hanyalah salah satu ciptaan Tuhan yang disetting bisa disusupi dan di infeksi oleh nafsu dan keinginan yang tidak benar alias menyimpang dari kebenaran. Seharusnya mereka sadar bahwa akal sangat membutuhkan keberadaan wahyu Tuhan sebagai senjata melawan nafsu dan keinginan setan.

Para pemuja akal dan nafsu dengan pola pikir mereka yang dari dasarnya telah sesat itulah yang juga menjadikan mereka turut serta bergabung dengan musuh-musuh islam untuk menghancurkan islam dari dalam. Mereka juga turut serta memojokkan saudara-saudara mereka yang sedang dihinakan dan dirampas kehormatannya. Dan parahnya, orang-orang sesat semacam itu bahkan mempengaruhi orang lain untuk mengikuti kesesatan mereka.

Kuperhatikan, wajah tua nan ramah itu hendak kembali mengutarakan isi hatinya. Sambil tangannya memegang pundakku, terasa dingin, sejuk, nyaman. Namun, baru saja hendak terucap kata, ……. blaaaaaaaaaaaaaaar……, ledakan besar menyala silau menghancurkan dinding dan jendela rumah itu, membuyarkan semua wajah ramah dan tabah itu, tertinggal senyum yang makin sirna, kini lenyap semuanya. Tergagap bangun, aku terduduk, tertegun lama sekali berusaha mengembalikan kesadaranku. Bahkan kepalaku panas, penginderaaanku semua siaga, mataku perih merah, hidung terasa sesak bagaikan keluar dari dapur pembakaran yang pengap, telingaku pun mendenging. Aku sudah tidak bisa memejamkan mata lagi.”

Heeeeeh…………, aku merasakan jari-jariku kaku. Aku melihat jam dinding ternyata telah menunjukkan hampir jam 5 pagi, waktunya shalat subuh. Berarti tadi sudah adzan subuh tapi aku terlalu serius menatap diaryku, tidak terdengar suara adzan pagi itu. Semoga itu bukan pertanda lemahnya imanku.

Kutambahkan sedikit tulisanku,

“Ya Allah, alhimni rushdi wa a’idni min sharri nafsi.

Ya Allah, adkhilni mudkhola sidqin wa akhrijni mukhroja sidqin.

Ya Allah, berilah aku ilmu yang bermanfaat dan jadi bagian dari orang-orang yang mampu mengamalkan ilmunya.

Ya Allah, jadikanlah otakku mampu menerima ilmu-ilmu dan petunjuk-Mu dan juga mengamalkannya sehingga bermanfaat bagi manusia.

Ya Allah, jika otakku tidak mampu menerima dan mengamalkan ilmu-ilmu-Mu, maka berikanlah aku jalan ke tempat saudara-saudaraku yang sedang dirundung musibah melawan musuh-musuh-Mu.

Ya Allah, berilah kesiapan dalam hatiku untuk berdagang dengan-Mu, diri dan hartaku untuk berjuang dijalan-Mu demi surga dan kemenangan besar yang telah Kau janjikan.

Ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu agar aku mampu memilih jalan hidupku.

Semoga Islam kembali berjaya seperti bergantinya malam ini menjadi pagi yang terang, cerah, dan ceria. Amien.

Diary ini selesai kutulis jam 5 pagi, dua hari menjelang Ramadhan 1429.”

Masih mengingat wajah tersenyum yang menguap hilang, tetap menjadi resahku.

Selesai.