Arsip untuk ‘Islam’ Kategori

Wise Word July 2008 (II)

Juli 22, 2008

Dibalik Pintu 2 Dunia

 

Tergolek dirinya lemas, ….. ajal menjelang

Berharap ampunan datang sebelum kematian

Berkah datang iba bertemu

Langkah kaki kematian berirama sendu

Sungguh senang si pesakitan, ……. ragu

Sebentar lagi hilang semua kepenatan

Akankah dia senang di dunia seberang

Akankah amalan menyelamatkan

Wajah-wajah berdosa menanggalkan topengnya

Wajah-wajah duka mengiringi kepergiannya

Ragu…… menerawang kolong dunia

Insan bertaqwakah diriku

Ujarnya lirih,…… terpejam,……. kelu…….

 

 

Di dekat lorong dunia,

Rahman, 28—08—98

 

 

 

  • Kematian sebenarnya bukanlah akhir perjalanan hidup, tapi ketika orang-orang mengabaikanmu padahal engkau ditengah-tengah mereka. (anon)
  • Jarak paling dekat antara problem dan solusi adalah antara lutut dan lantai untuk bersujud. (anon)
  • Pantun oleh Rahman:

             Sampan menari menciutkan hati,

            ditengah laut luas membentang

           Wahai kawan baik berhati-hati,

           jangan makan haram nan terlarang.

 

 

 

Wise Word July 2008 (I)

Juli 22, 2008

M e r p a t i P u n a h

M e r p a t i l e m b u t p u n a h ,

b e r u b a h d a n b e r t u k a r t i n g k a h

D a h u l u t e r b a n g m e n g h i a s a w a n ,

k i n i m e m a k a n b a n g k a i t e m a n

M e r p a t i t e l a h p u n a h ,

d a n h a t i p u n t e r j a j a h

P e r a s a a n t e r b u a n g m a k i n n y a t a ,

k e m e r d e k a a n b u k a n l a g i r e a l i t a

M e r p a t i s a n t u n p u n a h ,

b e r u b a h d e n g a n j i w a s e r a k a h

B e g i t u p u n r a k y a t t e r k u l a i ,

d a l a m d e r i t a t a k t e r p e r i

M e r p a t i t e l a h p u n a h ,

j i w a – j i w a m e n o l a k m e l a n g k a h

S e t a n m u n c u l T u h a n d i t e n d a n g ,

T u h a n d a t a n g s e t a n m e n g h a d a n g

M e r p a t i s u c i p u n a h ,

s e m u a t ’ l a h b e r u b a h

G a g a k d i a n g g a p m e r p a t i ,

k a r n a m e r p a t i t e l a h m a t i

S e g a l a n y a b e r u b a h ,

m e r p a t i t e l a h b e n a r – b e n a r p u n a h

Rahman, 20—01—01

dalam gelap dan sepi…….

# Tiada kehidupan tanpa kesengsaraan, dan tiada kebahagiaan tanpa melewati kesulitan. (anon)

# Umur manusia seperti embun pagi, begitu singkat………………………., berat. (anon)

# Kalaulah jalan ditempat berkarang, batu di kakipun setajam duri

Kalaulah datang waktu sembahyang, cepat lakukan sebelum mati. (Rahman)

Tertawa Yuuuk….! : Membahas Olok-olok Pembenci Islam

Juli 22, 2008

Sebenarnya pantas bagi mereka mendapat anugrah Dagelan Award, atau mungkin diberi kesempatan tampil di TV menggantikan panggung komedi Indonesia, untuk menyalurkan hobi dan bakat mereka dalam menyusun olok-olokan dan hinaan kepada orang lain.

Ya…., mereka para pembenci Islam sangat telaten dalam menyusun media “dakwah” mereka untuk mendobrak keyakinan para pemeluk Islam. Mereka mengarahkan berbagai kemampuan untuk menyusupkan rasa ragu dan bimbang di hati para pemeluk Islam.

Telah lama kiranya kita mengenal adanya gerakan orientalis, missionaris, dan program-program pemurtadan ummat Islam yang terselubung dan lebih banyak bergerak diam-diam. Kini di masa yang disebut sebagai era globalisasi dan kebebasan berkomunikasi serta mendapatkan informasi, mereka mendapatkan berbagai fasilitas untuk menyebarluaskan ide-ide mereka untuk menggerogoti keimanan para pemeluk Islam, bahkan lebih rapi dan terencaan semakin sistematis.

Modus mereka biasanya melalui penurunan akhlaq dan dekadensi moral seperti maraknya goyang maut dan erotis, pembebasan pergaulan muda-mudi, pencampuran norma islam dengan tata aturan diluar islam, dan berbagai cara lainnya. Namun sekarang, modus mereka yang lagi ngetrend adalah dengan cara menggunakan pemutarbalikan cara berfikir, pembalikan fakta, dan selalu dibarengi dengan pemakaian dalil-dalil dari buku-buku pedoman Islam sendiri. Hal-hal ini dipergunakan untuk memberikan keraguan kepada pemeluk Islam, seakan-akan keburukan dan ketidakberesan Islam ada di dalam buku-buku pedoman Islam sendiri sehingga mampu meyakinkan bahwa orang yang memilih Islam sebagai jalan hidup adalah orang-orang yang bodoh dan tidak memahami pedoman Islam. Mereka berusaha meyakinkan bahwa seandainya orang Islam mempelajari agamanya dengan sungguh-sungguh maka akan menemukan sendiri kesalahan-kesalahan keyakinan Islam, maka akan lebih memilih untuk keluar dari Islam. Para pembenci Islam ini, yang mempropagandakan modus-modus seperti ini menyatakan bahwa mereka adalah ex-muslim yang telah mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh dan menemukan kebenaran versi mereka untuk lebih meyakinkan bahwa mereka adalah orang yang pandai dan benar.

Fasilitas kebebasan berpendapat dan globalisasi informasi benar-benar dipergunakan oleh para pembenci Islam ini untuk “menonjok” keyakinan para pemeluk Islam dengan dalil dari buku-buku pedoman Islam sendiri. Namun, sayangnya……..dan sangat disayangkan………!. Ulama-ulama Islam terkesan diam, atau tidak mau tahu, ataupun beralasan bahwa tidak ada gunanya menanggapi tulisan-tulisan bermodus seperti itu. Apa benar tidak bermanfaat?

Sesungguhnya, berbagai olok-olok dan “dakwah” dari para pembenci Islam itu sangat-sangat-sangat-sangat-sangat berbahaya (sungguh-sungguh berbahaya!!!), dan akan lebih merugikan jika sikap diam dan acuh tak acuh semacam itu diteruskan. Mereka yang membenci Islam sangat telaten dan semakin sistematis menghancurkan Islam. Seperti situasi dimana “penjahat merajalela dan lebih pandai daripada polisi”. Sedangkan para ulama ibarat tukang kebun yang malas menaburkan pupuk dan malas pula mencabuti rumput yang tumbuh di kebun mereka (entah malas atau mungkin takut ditangkapi kayak Habib Rizieq dan Munarman……..?????). Parahnya lagi, keadaan ummat Islam pada saat ini sangat memprihatinkan, sebagain besar tertidur pulas dalam mimpi modernitas hidup, sedangkan jiwa iman mereka kurang terbentengi (fragile self defense), mereka rapuh sehingga menjadi sasaran empuk yang terbuka untuk dijajah ideologi lain. Mengapa demikian………??????, karena mereka tidak paham pedoman Islam yang katanya menjadi jalan hidup mereka, mereka lebih nyaman mengekor saja “taqliid al aam” tanpa mau tahu dan belajar mengenai dasar-dasar atau dalil-dalil yang melandasi keyakinan mereka. Secara gampang, ummat Islam pada saat ini seperti buih dilautan yang terombang-ambingkan ombak, terpisah-pisah dan makin mudah diremukkan. Bodoh………..dan gampang Dibodohi !.

Maka dari itu, atas kreatifitas dan ketelatenan para pembenci Islam menyusun program acara dan olok-olok terhadap keyakinan Islam, maka pantas bagi mereka mendapat Dagelan Award atau Jahil Award dan menjadi bahan tertawaan kita, bukan malah kita yang ditertawakan mereka. Semoga kita teguh memegang keyakinan Islam dan tidak terperangkap pemikiran-pemikiran bodoh para pembenci Islam yang seharusnya kemampuan mereka adalah sebagai pelawak dan ditertawakan orang, bukan sebagai pemikir.

Ulasan-ulasan mereka lebih terkesan membingungkan dan asal-asalan dalam mentafsirkan berbagai dalil. Memang harus diakui, cara mereka menyusun alur berpikir dan membawa pembaca menuju akhir yang sesuai dengan keinginan mereka sangat bagus (ketimbang disebut pelawak apa lebih baik disebut penulis skenario aja ya………..???&*^). Yang jelas gitu deh, di satu sisi cara kerja otak mereka sangat excellent, tapi di sisi lain terasa adanya keruwetan dan membolak-balik kata (mungkin karena kebencian dan permusuhan atau mungkin disebabkan ketidakstabilan jiwa……………..????%*&).

Hal ini dapat kita cermati dari berbagai hal yang mereka bahas, diantaranya:

Mengenai neraka:

Mereka mengatakan bahwa Tuhan Islam adalah Tuhan yang kejam dan tidak mempunyai rasa kasih karena menghukum orang-orang yang tidak taat dengan hukuman neraka. Apa benar hanya islam yang mengancam dengan siksa neraka?. Jelas tidak. Semua agama pasti memberikan ancaman semacam itu, dan itu tidak bisa menjadi dasar bukti bahwa Tuhan tidak Maha Pengasih dan Penyayang. Penempatan Maha Adil, Bijaksana, Pengasih, Penyayang, dan semua Kebesaran Tuhan harus dicermati secara proporsional dan pada bahasannya. Lha apa gunanya ketaatan dan keingkaran, apa fungsi pemberian pahala dan hukuman, apa fungsi tata aturan agama kalau semua yang mengerjakan dan tidak mengerjakan dianggap sama saja. Orang yang punya otak pasti berpikir: ”Enakan nggak usah ngerjakan perintah agama dong………, kan nggak ada hukumannya”. Atau mungkin berpikir juga: “Ngapain harus kerja keras kalau merampok dan membunuh nggak bakal mendapat hukuman dari pencipta kehidupan……. Kalo gitu merampok aja ah…..!^$&*”.

Di dalam ajaran agama Islam memang diberikan pembagian surga yang diperuntukkan bagi manusia yang beriman, sedangkan neraka bagi manusia yang tidak beriman. Namun, dalam ajaran Islam dijelaskan dengan luas melalui Alqur’an maupun Hadits mengenai tempat-tempat manusia sesuai dengan keadaan mereka di dunia. Tidak ada diskriminasi dan kekejaman yang digembar-gemborkan para pembenci Islam. Orang yang berimanpun apabila melakukan tindak kejahatan dan penyimpangan dari ajaran Islam akan memperoleh hukuman di neraka sesuai dengan level kejahatan mereka. Begitupun orang kafir, akan mendapatkan level yang sepantasnya. Allah Maha Pengasih atas segenap ciptaannya. Semuanya diberikan kesempatan untuk memilih antara tindakan yang baik dan buruk. Berbagai petunjuk telah diberikan untuk mengarahkan jalan manusia ke jalan yang baik. Kalaulah manusia itu memilih jalan yang buruk dan menjauhi berbagai sarana kebaikan yang diberikan oleh Maha Pencipta dan Pengasih, berarti bukan salah Tuhan jika manusia yang tidak taat tersebut mengarahkan dirinya ke neraka. Jadi dengan adanya neraka bukan berarti Tuhan tidak Maha Pengasih Penyayang atau Tuhan kejam.

Di dalam ajaran agama lainpun jelas tercantum bagaiamana Tuhan masing-masing agama tersebut menghukum ummatnya yang tidak taat ataupun orang-orang yang tidak mengikuti ajaran agama mereka.

Pada agama kristen dinyatakan bahwa orang yang kafir akan mendapatkan siksaan neraka tidak terpadamkan (selamanya). Diantara dasar-dasar dari ajaran mereka adalah:

“…diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala”. (Mat 5:22)

“…takutlah (taat) kepada Dia yang berkuasa membinasakan jiwa maupun tubuh ke dalam neraka”. (Mat 10:28)

“Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik hidup dengan tangan putus daripada utuh di dalam neraka, api yang tidak terpadamkan”. (Mrk 9:43)

Pada ajaran agama Buddha dinyatakan bahwa orang yang tidak menerima Buddha jika saatnya tiba, datang hukuman yang tidak dapat digantikan. Dijelaskan pula berbagai jenis neraka yang jumlahnya ribuan, diantaranya ada neraka pencabut lidah lalu dibajak dengan kerbau besi hingga lumat, ada pula neraka pencabut jantung, ada neraka yang memasak tubuh dalam air mendidih, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Pada agama Hindu, manusia yang tidak taat atau berdosa akan masuk neraka di siksa kemudian dibawa ke dunia lagi terus-menerus sesuai perbuatan mereka di dunia. Bahkan pada limit paling hina akan tetap berada di dasar terbawah kawah neraka menerima siksaan terus-menerus.

Pada agama Yahudi bahkan diperjelas bahwa Tuhan mereka mengharamkan surga bagi orang yang bukan Yahudi sedangkan kaum Yahudi sangat sedikit menderita di neraka. Maksimal katanya tidak lebih dari 11 bulan apapun dosa mereka. Sedangkan non-yahudi akan selamanya di neraka. Kejam dan diskriminatif, kan!

Dalam hal perbuatan tidak baik:

Para pembenci Islam juga mengatakan bahwa peraturan Islam di dunia juga kejam, dengan mengambil dalil mengenai potong tangan bagi para pemcuri. Padahal peraturan potong tangan dalam islam merupakan peraturan yang sangat mampu meredam aksi kejahatan atas sesama manusia. Seorang manusia lemah akan terlindungi dari kejahatan tangan manusia lainnya. Sedangkan mereka yang punya pikiran kotor dan jahat, akan berpikir seribu kali sebelum melakukan tindakan pencuriannya karena pastinya takut dengan akibat tindak kejahatannya yaitu potong tangan. Bahkan aturan pemberian hukuman ini diberlakukan hanya kepada pencuri yang mencuri diatas batas ukuran tertentu, sehingga yang mencuri dibawah batas itupun hanya akan menerima hukuman yang lebih ringan. Belum lagi adanya pertimbangan berbagai aspek sosial kemasyarakatan, orang yang mencuri bisa jadi tidak dipotong tangannya apabila ternyata dia dalam keadaan kelaparan yang sangat, atau pemilik barang memaafkannya, dan sebagainya. Inilah kedamaian dan kebaikan serta fleksibilitas hukum islam.

Jika kita menelaah agama lain, hal yang sama juga diberlakukan hal yang sejenis.

Pada agama kristen disebutkan “Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik hidup dengan tangan putus daripada utuh di dalam neraka, api yang tidak terpadamkan”. (Mrk 9:43). Jadi hukum potong tangan disana juga ada.

Pada agama Buddha seperti telah disebutkan sebelumnya mengenai berbagai jenis neraka, maka disana dibuatkan neraka potong tangan, potong ini itu, dan sebagainya.

Pada agama Hindu, orang yang mencuri akan dipotong tangannya, orang yang mencuri dengan telinga (mencuri dengar ayat-ayat kitab suci oleh kasta rendah) akan dicor dengan timah panas, dan sebagainya.

Pada Yahudi, dan agama lainnya juga sama saja, ada hukuman yang setimpal bagi orang-orang yang melakukan tidak kejahatan terhadap sesamanya. Hanya saja karena telah terjadinya pemalsuan dan penyelewengan ajaran agama mereka, maka ajaran-ajaran dan bahkan kitab suci mereka telah diubah sesuai dengan keinginan nafsu mereka.

Mengenai Alqur’an: (related topic: Decision Letter)

Para pembenci Islam mengatakan berbagai hal yang menyatakan bahwa Alqur’an bukanlah wahyu dari Tuhan tapi sekedar rekaan, palsu, dan bahkan dikatakan yang otentik dari masa Muhammad sudah tidak ada lagi. Mereka mempermasalahkan berbagai hal dari Alqur’an, mulai dari tulisan yang tidak ada lagi sejak masa Muhammad, manuskrip yang asli tidak ada, format penulisan yang berbeda, dan lain sebagainya.

Nah, mengapa Alqur’an begitu penting menjadi pembahasan pembenci Islam untuk melawan Islam? Hal itu tidak lain adalah karena mereka ketakutan dengan kebenaran Alqur’an, mereka takut dengan mu’jizat dan orisinalitas Alqur’an, mereka takut dengan adanya Alqur’an sebagi pembeda antara yang bathil dan benar, mereka takut ummat Islam bertahan di jalan yang lurus karena dengan berpegang kepada Alqur’an itulah ummat Islam bisa bertahan selama ribuan tahun melawan usaha menyimpangkan ajaran Islam.

Mengenai olok-olokan mereka yang menyatakan bahwa Alqur’an tidak ada lagi yang otentik, maka marilah kita bahas sedikit demi sedikit. Menurut salahsatu versi, data yang ada menunjukkan bahwa Alqur’an tertua yang ada hingga masa sekarang ditulis diatas kulit berjumlah 1400 lembar tersimpan di Mesir yang diperkirakan ditulis semasa Khilafa ar Rashidin (saat ini disebut Mushaf Cairo). Versi lain menyatakan bahwa Alqur’an tertua yang ada sekarang ada di Tashkent, Uzbekistan, dengan percikan darah diatasnya diperkirakan milik Utsman bin Affan. Ada pula yang menyatakan di simpan di museum London, atau yang disimpan di Topkapi. Selain itu, ada beberapa Alqur’an tua pula yang beredar di Eropa, yaitu Alqur’an yang ditulis dengan tinta emas dengan gaya tulisan khat kufi oleh Yahya bin Muhammad bin Umar tertanggal 17 Ramadhan 599 / Juni 1203. Alqur’an ini dilelang di Christie’s London seharga ₤ 1.14 juta. Merekapun meneliti bahwa dari beberapa Alqur’an yang dianggap tertua tersebut ada yang tidak sama dengan Alqur’an yang dimiliki ummat Islam masa sekarang. Bahkan mereka menyatakan bahwa jenis ornament dan gaya tulisan yang ada pada Alqur’an tersebut menunjukkan jenis yang lebih muda dari yang diperkirakan, dan masih banyak lagi alasan dan ulasan mereka untuk menjatuhkan otentisitas atas orisinalitas Alqur’an yang kita miliki pada masa sekarang.

Benarkah Alqur’an sekarang telah berbeda dengan Alqur’an pada masa Nabi?

Sebenarnya ini adalah pertanyaan orang-orang yang kurang berfikir saja, dan pertanyaan bodoh seharusnya dijawab dengan diam saja, tapi baiklah kita bahas hal ini untuk pengetahuan bersama bahwa Alqur’an tidak berubah selama perjalanan waktu lebih dari 1400 tahun ini.

Alqur’an adalah wahyu dari Allah kepada Muhammad s.a.w.. Pada masa hidup beliau, semasa wahyu masih berkelanjutan, Alqur’an sudah mulai ditulis atas perintah Nabi. Begitu wahyu turun dan diucapkan oleh Nabi kepada ummatnya, para sahabat yang bisa menulis segera menuliskannya diberbagai media yang ada, dan ini diperuntukkan bagi diri mereka sendiri. Sedangkan penulis yang secara langsung ditunjuk oleh Nabi (sekretaris Nabi) adalah Zaid bin Tsabit. Tulisan-tulisan wahyu tersebut semakin lengkap seiring dengan turunnya wahyu yang masih berkelanjutan pada masa hidup Nabi. Namun, hal terpenting yang menjaga keaslian Alqur’an bukan berada di tulisan atau bukti-bukti manuskrip tertua yang ditemukan, tetapi dalam hafalan. Mengapa demikian?

Semenjak masa Nabi masih hidup, dalam berbagai kesempatan dilantunkan ayat-ayat Alqur’an, terutama dalam sholat. Berkali-kali ayat-ayat yang telah turun dihafalkan sesuai dengan urutan yang telah ditetapkan oleh Nabi tanpa dirubah-rubah lagi hingga akhirnya lengkap. Itulah Alqur’an yang ribuan orang mampu menghafalnya lengkap persis semenjak zaman awal Islam hingga berlanjut ke generasi-generasi berikutnya. Jika ada pihak yang berusaha merubahnya, maka akan segera ketahuan bahwa itu palsu. Para pembenci Islam selalu berpijak pada konteks material manuskrip, seperti cara mereka berpikir tentang Perjanjian lama dan baru. Mengapa demikian?, karena Perjanjian lama dan baru yang ditulis dengan bahasa aslinya sudah tidak ada lagi, yang tertua adalah terjemahan dan uraian dalam bahasa Yunani yang kemudian menjadi rujukan mereka menerjemahkan Injil ke berbagai bahasa yang akhirnya semakin menciptakan kerusakan di dalamnya karena penuh dengan imbuhan dan pengurangan tulisan maupun makna, ditambah lagi subyektifitas penulisnya, dengan kata lain menjadikannya palsu. Itulah kenapa tidak ada yang bisa menghafalkannya, karena tidak ada mu’jizat di dalamnya. Berbeda dengan Alqur’an yang sama di seluruh penjuru dunia, dalam tatanan dan urutan yang telah ditetapkan semenjak masa Nabi. Semuanya otentik dan orisinal tercantum dalam hafalan ribuan orang. Alqur’an adalah benar, tidak ada keraguan di dalamnya, mu’jizat, dan tetap orisinal sama persis dengan Alqur’an pada masa Nabi Muhammad s.a.w..

Jika dipertanyakan juga mengenai text yang di makan kambing, atau text tertua dibakar, dan lain sebagainya, maka itu tidak berpengaruh pada kelengkapan Alqur’an dan keasliannya karena telah lengkap dalam hafalan ribuan hafidz. Bahkan seorang ustad mengatakan kalaupun text Alqur’an di makan dinosaurus ataudimakan ikan paus atau apapun itu, nggak bakalan mengurangi isi dan tata urutan Alqur’an. Hafalan yang lengkap dari ribuan hafidz dari generasi ke generasi adalah Alqur’an yang otentik.

Mengenai keunggulan Arab dari selain Arab:

Para pembenci Islam juga berusaha memunculkan kebencian terhadap ras Arab dengan mengatakan bahwa orang-orang Islam dari ras selain Arab adalah orang-orang bodoh yang ditindas oleh ras Arab. Pada dasarnya hal ini disebarkan oleh para pembenci Islam selain untuk mengadu domba, juga dikarenakan kebencian mereka saja atas keberhasilan ras selain ras mereka sendiri. Mereka itulah sebenarnya yang berusaha untuk mengangkat ras mereka dan merasa sebagai ras yang lebih unggul dari ras lainnya. Kebohongan mereka berdasar kepada pemutarbalikan dalil dengan kenyataan sejarah. Semua paham, bahwa dalam Islam dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan manusia satu dengan lainnya, atau arab dengan non arab, kecuali atas dasar ketaqwaan. Artinya, persamaan hak derajat yang sama semua manusia telah diamalkan oleh Islam, tidak ada keunggulan ras Arab atas ras lainnya, semua sama terkecuali dalam tataran keimanan dan ketaqwaan saja. Jikalau dalam sejarah kita temukan adalanya penindasan dan kesewenang-wenangan dari penguasa Islam, itu adalah atas kontribusi politik atau permainan politik dan penyimpangan Islam. Bahkan pada beberapa masa, orang Arab berada di bawah Ottoman Turki, dan beberapa penguasa dari ras lainnya. Nah, begitu pula rasa permusuhan orang-orang yang mempropagandakan kebencian ras ini, mereka cemburu karena merasa ras mereka yang superioritas tidak mendapat tempat untuk disalurkan, plus mereka juga membenci Islam. Lengkap sudah setan dalam diri mereka………hahaha.

Mengenai poligami Muhammad: (related topic: Poligami Muh.)

Muhammad punya istri lebih banyak dari ummatnya tidak begitu penting, karena nabi pada waktu itu juga sebagai pemimpin setingkat raja dan kaisar dari berbagai belahan dunia lainnya. Namun, dibalik itu, Muhammad punya kewajiban dan tanggungjawab yang lebih besar dari ummatnya, sholat sunnah pun menjadi wajib baginya, menjaga norma dan akhlaq masyarakat, bertindak seadil mungkin dalam menyelesaikan berbagai persoalan, dan lain sebagainya. Istri Muhamamd yang perawan hanya satu, yaitu Aisyah, sedangkan yang lainnya adalah janda-janda yang suami mereka gugur di medan perang, dan sebagainya, sedangkan mereka dan anak-anak mereka membutuhkan perlindungan. Aisyah masih sangat muda ketika dinikahi Muhammad, bukan berarti suatu keburukan dan aib, karena dalam islam menikah bukan sekedar sex, tapi sesuatu yang suci dan berharga, lebih dari sekedar kesenangan semata.

Pembenci Islam tetap saja akan membenci Islam walaupun umpamanya kejadian ini tidak ada. Hati mereka yang tertutup kebencian menjauhkan mereka dari kebenaran, dan tetap saja akan keras membeku meskipun diberikan kebenaran seterang apapun.

Hal yang perlu diperhatikan: (related topic: Bencana diawal Islam)

Para pembenci islam sekarang semakin banyak mengupas islam dan mencari kejelekan islam dari kesalahan-kesalahan pengikut islam maupun sengaja membolak-balik makna dalil-dalil berbagai sumber islam, sehingga bagi orang yang kurang mengetahui keseluruhan islam akan melihatnya sepintas islam seperti yang di gembar-gemborkan tersebut, yaitu islam yang brutal, jelek, dan tidak beradab. Selain itu, mereka juga sengaja mengartikan dan menafsirkan dalil-dalil tersebut tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Perhatikan juga pola penafsiran dalil Islam dalam film semacam Fitna karya Gert Wilder. Mereka yang bermodus seperti ini biasanya mengaku sebagai mantan islam dan sekarang tidak beragama atau menyembunyikan identitas agama mereka, sehingga ummat islam yang mayoritas pada saat ini sedang terlelap (bodoh dan senangnya taqlid buta), termakan umpan mereka untuk berpikir menyimpang dan tergelincir, karena ummat islam ini tidak tahu dan tidak paham sepenuhnya terhadap agama mereka. Mereka yang membenci islam ini menyembunyikan identitas agama mereka karena mereka takut ulama Islam menyerang kesalahan agama yang mereka anut. Maka dari itu jika mereka tidak ketahuan dari mana, maka kita tidak bisa membalas mengupas kejelekan agama mereka, dan mereka juga tahu bahwa islam tidak boleh menghina agama lain tanpa ada sebab musababnya. Dakwah bil hikmah menjadi dasar pandangannya. Mereka ini benar-benar telah mendapatkan pendidikan dan pengalaman yang melebihi banyak kapasitas pemikiran ummat islam pada saat ini. Mereka telah benar-benar mempersiapkan diri untuk menghancurkan islam dengan berbagai cara.

Ada juga mereka yang mengaku mantan islam (ex-muslim) yang juga bersuku Arab. Penekanan ini bagi orang-orang yang rapuh imannya menambah keraguan dalam hati mereka dan dipaksa untuk berfikir: “waaah yang bersuku Arab dan mendapat pendidikan islam di daerah utama Islam saja bersedia untuk murtad…….., apa mereka benar ya…….., berarti pilihan saya salah dong untuk memeluk islam…….., dan seterusnya”.

Sebenarnya uraian dan ulasan mereka itu dibuat-buat dan direkayasa. Ingatlah, bahwa kemaksiatan dan kemungkaran ada dimanapun juga, di negara arab maupun non arab. Jika dengan pernyataan semacam itu saja ummat Islam sudah timbul rasa ragu di hati mereka berarti jelas itulah tanda-tanda orang yang bodoh dan mudah untuk dibodohi. Yakinlah bahwa orang yang teguh dalam Islam bukan orang bodoh ataupun salah langkah. Ingatlah bahwa dahulu pada masa awal Islam, sebagian besar orang Arab masih jahil dan tidak menerima Islam, kemudian bertahap berbondong-bondong memeluk islam setelah mengetahui kebenaran dalam islam. Jikalau seandainya saat ini ada lagi orang-orang yang bertindak bodoh alias jahil dan memilih keluar dari Islam, ya biasa aja kaleeee……… Hal seperti itu tidak perlu dijadikan pertimbangan akan kebenaran Islam dalam hati kita, tidak perlu dibesar-besarkan, dan ummat Islam tidak perlu menjadi ragu akan kebenaran Islam.

Maka dari itu, buat anda yang non-islam, entah kristen, buddha, hindu, yahudi, dan lain sebagainya, silahkan pelajari agama anda dengan sungguh-sungguh, semoga kebenaran yang hakiki akan mengarahkan anda kepada jalan yang seharusnya anda tempuh.

Untuk saudara seiman dalam Islam, mari teguhkan iman kita, bentengi jiwa kita dengan pengetahuan Islam yang benar. Jangan sampai terperangkap pembodohan yang dilakukan berbagai pihak yang membenci Islam. Kadangkala sejarah memang menunjukkan berbagai celah dan ketidakberesan pelaksanaan Islam, baik dalam bidang politik, agama, ekonomi, dan lain sebagainya, tapi itu semua adalah penyelewengan dan penyimpangan ajaran Islam yang dilakukan oleh orang-orang tertentu saja dalam Islam yang bukan citra asli atau pencerminan ajaran Islam yang sesungguhnya. Mari kita pahami ajaran agama kita, dan percayalah bahwa Islamlah yang terbaik.

Sekian, semoga bermanfaat.

قلب الإنسان

Januari 31, 2008

القلب هو احد من أعضاء الجسم ما وجد في دخيل صدورنا و فيه حياتنا, إذا يقيف حراكته فتقبل الإنسان الموت. ثم لماذا نقول هذا الشئ القلب؟ لأن هذا الشئ قلبًا لِتَقَلُّبِهِ, حوله عن وجهه او حالته, قلّب عملية الجيدة إلي الفسيدة, و نحوه.

فلذالك لكي لا يصير إلي الحقارة, فلازم علينا نحافظه و نحرسه بالعقل و الضمير و النظام السموية او العقيدة التي ربط الشئ عليه القلب و الضمير الإنسلنية. ثم ماذا العقيدة؟ العقيدة هي الأساس الذي يقوم عليه الدين او النظام الصحيحة و تصحّ معه الأعمال. و في شريعة الإسلام مجموعة في أركان الإسلام و هم الإيمان بالله و ملائكته و كتبه و رسله و اليوم الآخر و الإيمان بالقدر خيره و شره.

بحث عن القلب و العقيدة, ينقسم الجمهور الأحوال قسمين:

1. أسباب قلب القلب إلي الفسيدة و إنحراف العقيدة:

· الجهل بالعقيدة الصحيحة سببه الإعراض عن تعلميها.

· التعصب لما عليه الآباء و الأجداد و التمسك به.

· التقليد الأعمي بغير معرفة علي دليلها و مدي صحتها.

· الغلو في الأولياء و الصالحين و رفعهم فوق منزلتهم.

· الغفلة عن تدبر آيات الله الكونية و القرآنية.

· انحراف الوالدين.

· إحجام وسائل التعليم و الإعلام عن أداء مهمتهما.

2. أسباب قلب القلب إلي الحسانة و صحّة العقيدة:

· الرجوع إلي كتاب الله عز و جل و سنة رسوله.

· العناية بتدريس العقيدة الصحيحة.

· أن تقرر دراسة تاكتب السلفية الصافية.

· قيام دعاة مصلحين.

· اعتقاد بالتوحيد الكاملة و الصحيحة.

إذا وجد الخطآت في الجملة أطلب العفو, لأن لغتي غير صحيحة.

NB:

  1. I am still learning Arabic language, so I am sorry if anyone sees many mistakes here.
  2. Thanks for your attention and always keep our mind objectively and stay at the right path of faith.

 

Fill Up the New Year with Say the Truth

Januari 9, 2008

Islam is very concern about honesty, saying the truth attitude, and commitment in our social life. Rasulullah saw said: “Qul al-haq walau kana murran”, which means “say the truth even if it’s bitter”.

This order has two meaning, inside and outside. The first is the outside means, became honest, say which the true in front of others’ behavior, in front of friends, family, or even in front of bad authority. This is termed as “jihad bil lisan” and of course need bravery or “Assaja’ah”.

The next, the other meaning is about inside ourselves, became honest about ourselves’ behavior and associated with ourselves personality. Honesty always need big bravery, because most of us feel unpleasant, hated to do, and bitter to say the truth especially with ourselves problematic. That’s why we can say if someone who’s brave to confess his own guilty and say the truth about his fouls is shows his big heart and noble deed.

The ability to take a look at ourselves is a stairs to develop our personality. The capability to introspections ourselves needs high taste of fairness inside our heart or “muhasabah an nafsi”. This fairness also make us could see and feel our weakness aspects and dare to confess it, say which the truth. But, as we pointing out before, it’s hard to introspect inside ourselves; it’s hard to say which the true especially associated with ourselves’ problems.

That’s all about saying which the true from our point of view. But, how about peoples point of view, friends, relatives, family, society, etc. it’s all about the risk, “the bitter” aspects. Sometimes if we say the truth, it will make conflicts or seem to be rudeness to the others. So, sometimes when we want to say which the true, we think about hurt somebody else even if it’s a true statement. We afraid it will hurt our friends, relatives, or family, and also afraid if they will change their opinion about us, or maybe we afraid if they will hate us, or break up the relations, and much more. This aspect if we think more, its look so hard to say which the true. That’s why mostly common reactions if we see something wrong or we do some fouls, we didn’t say the true, but remain silent because we afraid to loose our friends or relatives, or hurt them in what we saying or doing.

It also exists some one feel “it is not a license to say anything I want” and feel guilty most times when it’s became equivalent of rudeness. This probably because the combination of emotions or something else aspects. There are also some other people said if we say the truth and filled it up with bravery and sympathy to the others, will not be hurting at all. Perhaps, if peoples around us accept openly what we have to say even if it is hurts, and will also good to trying to correct the others, saying the true will become useful for all of us; saying the truth, with no rudeness.

So, with this New Year event, let’s try to be honest and speak up the truth, do the best for our life and all people, keep our faith on the right pattern. Insyaallah.

Keep objectives and peace.

Happy New Year 1429H.

Light of Muhammad

November 15, 2007

The knowledge about Nur Muhammad or the Light of Muhammad mostly known from Tasauf books, Sufism, metaphysics expert, or in the certain sect only. This idea said if the first beginning creation of the universe is begun from the Light of Muhammad which later or for the next, divided more into many other creation depend on the ulema says in certain sect.

Much other spreading knowledge associated or related with this idea the Light of Muhammad in this earth, there are Barelwi’s sect (which was judged as mislead sect/ lead their followers astray by mostly ulema) which even say if Muhammad wasn’t the ordinary human but his beginning creation is from the light (nur) which was taken from the light of Allah (the God). For this statement, they interpret the Holy Quran and Hadist as what they want without following the right pattern and rules (qaidah) as the “stand by knowledge” to support it, and also creates many fake Hadist.

There is also syia sect which make a concept of 5 branches from the Light of Muhammad (Muhammad the prophet, Ali bin Abi Thalib, Fatima, Hasan, Husain) which they said was created before earth and other creations.

Beside those two sects, there are some Sufism sect and Tasauf expert whose thought wrong also about the Light of Muhammad. But, if we seen carefully, they never use Hadist shahih (Hadist from best category) and the sanad not connected into the prophet as their basic opinion or idea about the Light of Muhammad.

Some other opinion or idea said if the Light of Muhammad divided or classified into 4 pieces or parts, those are: lauh al mahfudz (the mother of the book), qalam (pen), arsy (Throne), and the fourth divided again into another creations and more other classification endless. Basically, the idea or definition and classification of the Light of Muhammad like that weren’t written in Hadist, but only a claim of interpretation and wrong conclusion.

Some other sect also said if the Light of Muhammad descended or bring down generation to the next generation (one after another), starting from Adam to Hawa (Eve) then born Syith and for the next moving from a holy man to the next other holy man through the holy women, until get into Abdullah bin Abdul Muthalib and into Muhammad the prophet. There are also another thought which stating (make statement) if Allah was creating tree from nur with it’s 4 branches, and above that branches, Allah placing the white and beautiful nur looks like peacock, and so on, and so on.

Does its true????????

Of course it doesn’t true. Its wrong thought. WRONG, FALSE, NOT RIGHT!!!!

The first creation which was created by Allah according the Hadist from best category is qalam (pen) which was storied by Tirmidzi and Abu Daud from Ubadah bin Samit from Muhammad the prophet. “Actually the first thing which was created by Allah is qalam …”. Meanwhile, the Hadist which stating nur Muhammad as the first creation didn’t connected into Muhammad the prophet. Ibnu Taymiyyah and Ibnu Katsir said if all Hadist which stating like that (nur Muhammad as the first creation) are fake and artificially. This is right on ijma’ (the agreement/ share the same views) most all Hadist experts.

One of the most famous opinions about nur Muhammad is from Abdul Razak’s book (he is from syia Rafidha sect) which was judged by all Hadist experts that the hadists whom he used are not right, and most of the ulema said if he is a liar. Even, some ulema which from the same sect or from other sects who’s take the Hadist from him make many terms or qualification for his Hadist collections. But, the world is round, more freaks and weird some idea more famous and taken by people whose didn’t understood the pattern and the right qaidah.

From many idea or opinion which explains about nur Muhammad and stating that nur Muhammad created from God’s light, and then from nur Muhammad created all other creation, this is for the next features thought of wahdatul wujud or the joining of creation and the creator. They didn’t differ again between the Creator (Abid) and creations (ma’bud), between the eternity or eternal substance and the mortal. This sect was including all creation into creator’s part or scope. This for sure misleads or not true which in Christian also known the Trinity concept with the 3 fragment of the God.

Many ulema get ripped off or deceived with this thought in the past time or in this modern time which will lead their followers astray/mislead, and they thinks that this is the extraordinary or specialty from Muhammad the prophet. But for sure, the idea that said if Allah is nur was wrong because nur is Allah’s creation which can’t be taken from creator’s essence. Makhluq (creation) and Khaliq (Creator) are very different. About these, many example explaining if nur is creation inside the Holy Quran, such as:

Al An’am 1 & 122, An Nur 40, etc.

It is impossible if the Creator and creations from the same essence. Some people wrong in interpreting the Holy Quran without the true pattern or qaidah (can’t differs balagha, haven’t the right language science, didn’t understand the reason of the coming of ayat, etc), and in the end the get the false result and mislead. So, if there are any opinion which stating if all creation are from nur it’s wrong and opposite with ayat from the Holy Quran and Hadist which stating if human from dust/soil, angel from light (nur), and evil from fire, etc.

If they try to interpret the ayat: …min ruhii, some of the meanings are:

  1. Blows the souls (ruh) on the creation of Adam that wasn’t mean from the part of Allah’s ruh.
  2. Giving living hood (rizqi) from Allah’s ruh wasn’t mean take from some part of Allah.

So, if the interpreter understood the rules (qaidah) and “the standby knowledge” well, the result will be great and it’s mean through the right way or pattern, but what happen now is the people who didn’t understood the qaidah and the knowledge of interpretation, but interpreting the Holy Quran stuck on what they imagine and what they want, so they will through the wrong way and at last became “ikhtilaful juhala” until the next generation.

The jumhur ulema from many madzhab or sect didn’t questioning or have a deal in the statement that nur Muhammad is symbolic definition just like definition of light shining the dark, etc. The Holy Quran quote or mention that Muhammad as nur (light) which shows means with the holy book of Allah, he set out to lead humanity to “the light of truth” the message of Islam that he conveyed to the world, not like the definition which said if Muhammad from nur (light and even starting the creation of all creation, etc.

Beside that, accusation if nur Muhammad moving from a prophet to the other prophet uncut until Muhammad the prophet is wrong. Some other people even said if that holy light (nur) in a row influent the heredity from one holy man through holy women and for more they said if there is superiority on the genetic because of that holy light (nur). That’s all is clearly and absolutely wrong. This idea didn’t see the history and many ayat from the Holy Quran or Hadist from the best categories, because the real there are many prophets whose have bad and awful father, unbeliever to the God, and even idols maker like Ibrahim’s father, etc. So, the heredity of all human didn’t influent by the light, and there are also no superiority on genetic because that light.

There are also exist some people who said if there are no one of the prophets from Qabil genetic because of the Qabil’s sins kill his brother, Habil. This statement also crash with The Holy Quran: surah Ali Imron (The Family of Imran) 164: “…by sending them a messenger of their own…”, and At Taubah (Repentance) 128: “There hath come unto you a messenger, (one) of yourselves…”, and Al Mukminun (The Believers) 32: “and We sent among them a messenger of their own…”, and etc.

So, all tribe (ummah) mankind have their own prophet who’s sent by Allah to change their own people even from Qabil genealogy or from Habil, or the other Adam’s son genealogy. Because in all tribes always happen when some people make a mistakes and sins as unbeliever. The sinner could be from Qabil genealogy or Habil genealogy, there is no superiority genetic in this matter. All tribe get their own prophet (prophet from each ummah) continuing uncut until the time when Muhammad sent by Allah to all of human (for all tribes of mankind). Surah Saba’ 28: “and We have not sent thee (O Muhammad) but unto all mankind…”, and Al Anbiya (The Prophets) 107: “We sent thee not save as a mercy for all peoples”.

So, please don’t get into the sect which creates story about nur Muhammad where some of them in the past time or even in this modern time creating fake Hadist, or using the weak Hadist more powerful than Hadist from best category, or interpreting the Holy Quran and Hadist with no right pattern.

Because of that, some point which must take attentions on this matter are:

  1. The Hadist which connecting with nur Muhammad none of them from the best categories (shahih), but under the weak categories.
  2. Storied or Hadist about nur Muhammad as the first creation opposite with many Hadist which stating that arsy and qalam (pen) are the first creation.
  3. The human creation doesn’t from the light like angels but from dust/soil.
  4. The word nur (light) which was lean into nur Muhammad is symbolic means, just like to metaphor/figurative/symbolic the religion as the light, or the Holy Quran as the light, etc.
  5. No matter how much we love the prophet, we should never put him in a position that was not granted to him by Allah.

(From many sources)

I hope this clarifies the matter and useful for all reader. Thank you for your attention and please thinks clear and objectively. Thanks.

Nur Muhammad

November 6, 2007

(berdasar uraian dari berbagai sumber)

Pengetahuan mengenai nur Muhammad hanya menonjol dalam kitab-kitab tertentu saja yang membahas pendalaman jiwa, seperti sufi dan tasawuf, atau pada madhab tertentu saja. Ide ini menyatakan bahwa kejadian pertama alam semesta adalah berawal dari nur Muhammad yang kemudian terpecah-pecah lagi menjadi berbagai jenis sesuai dengan bentukan pemahaman masing-masing pihak berdasar keterangan para ulama mereka masing-masing.

Pemahaman-pemahaman lanjutan yang berhubungan dengan nur Muhammad di bumi ini, ada golongan Barelwi (yang telah divonis sesat oleh jumhur ulama) yang bahkan menyatakan bahwa Muhammad bukanlah manusia biasa, namun kejadiannya berasal dari nur yang diambil dari nur Allah. Untuk mendukung cerita mereka ini, mereka banyak menafsirkan Alqur’an sekehendak hati tanpa mengikuti pedoman ilmu dan qaidah yang seharusnya serta banyak memalsukan hadist mengenai nur Muhammad ini.

Ada pula kaum Syiah yang mendefinisikan konsep 5 nur dari nur Muhammad yaitu (Nabi Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan, Husain) yang dikatakan telah terlebih dahulu diciptakan sebelum bumi.

Selain dua golongan itu, ada pula sebagian kaum sufi dan ahli tasawuf sunni yang berpikir salah mengenai nur Muhammad ini. Namun, jika diperhatikan seksama maka mereka tidak pernah memakai hadist shahih atau sanad bersambung hingga rasul sebagai dasar pendapat mereka mengenai nur Muhammad, sehingga cenderung kepada penarikan kesimpulan saja dan berdasar penafsiran yang tidak sesuai qaidah.

Sebagian pendapat lagi menyatakan bahwa nur Muhammad dibagi empat bagian utama, yaitu lauh al mahfud, qalam, arsy, dan yang terakhir dibagi lagi menjadi berbagai hal di dunia ini, dan seterusnya, dan seterusnya. Pada dasarnya, pemahaman dan pendefinisian serta pembagian-pembagian nur Muhammad seperti itu bukanlah tertulis dalam hadist, namun hanya sebatas kesimpulan saja. Sebagai contoh, ketika ada hadist yang menyatakan qalam merupakan yang pertama diciptakan maka mereka berpendapat, bagaimana bisa digunakan jika tidak disiapkan terlebih dahulu tempatnya (lauh al mahfud), dan lain sebagainya.

Ada pemahaman lanjutan yang menyatakan bahwa nur Muhammad diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya, yaitu mulai Adam ke Hawa kemudian melahirkan Syith lalu pindah lagi ke laki-laki mulia berikutnya melalui pula wanita-wanita suci mereka hingga kemudian sampailah kepada Abdullah bin Abdul Muthalib dan kepada Muhammad.

Ada golongan lain yang katanya berdasarkan sebuah hadist yang menyatakan bahwa Allah telah menjadikan pohon nur dari nur-Nya dengan 4 dahan, kemudian nur Muhammad diciptakan pula dari nur-Nya yang berwarna putih dan berbentuk merak yang diletakkan diatas pohon tadi, ….. dan seterusnya.

Apakah benar demikian??????????????????????

Tentu saja TIDAK, TIDAK, dan TIDAK !!!!!!!!

Makhluq yang mula-mula diciptakan Allah menurut hadist shahih adalah qalam, diriwayatkan Tirmidzi dan Abu Daud dari Ubadah bin Samit dari Muhammad saw :”Sesungguhnya perkara yang mula-mula sekali diciptakan Allah ialah qalam, …”.

Sementara, hadist yang menyebutkan nur Muhammad sebagai awal penciptaan tidak bersambung sanadnya kepada Muhammad saw. Bahkan, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Katsir menyatakan bahwa semua hadist yang menyatakan demikian (nur Muhammad sebagai awal penciptaan) adalah palsu dan dibuat-buat/diada-adakan. Hal ini disepakati oleh jumhur ulama hadist.

Salah satu pendapat yang salah mengenai nur Muhammad yang terkenal adalah dari buku Abdul Rozak yang bermadhab Syiah Rafidhah yang oleh jumhur ulama hadist dinyatakan bahwa hadist yang dipakai tidak benar, dan sebagian besar ulama menyatakan dia sebagai pembohong. Bahkan, beberapa ulama semadhab yang mau menerima hadist darinya menetapkan banyak persyaratan terhadap riwayatnya. Namun yang namanya dunia, makin aneh suatu ide akan semakin terkenal dan diambil oleh orang-orang yang tidak paham tentang qaidah dan aturan yang benar.

Dari berbagai pendapat yang menjelaskan nur Muhammad yang diciptakan dari nur Allah, kemudian dari nur Muhammad diciptakan sekalian makhluq laindi dunia, inilah yang kemudian memunculkan paham wahdatul wujud atau manunggaling kawulo gusti. Mereka tidak lagi membedakan ‘abid dan ma’bud, tidak lagi membedakan bahwa zat pencipta itu kekal, sedangkan makhluq itu fana, dan lain sebagainya. Mereka inilah yang telah mengacaukan aqidah dengan memasukkan sekalian makhluq dalam lingkup ketuhanan, seperti yang berlaku atas Siti Jenar di Jawa, demikian pula dalam dunia kristen yang memperkenalkan trinitas yang memecah ketuhanan menjadi tiga bagian.

Banyak tokoh agama yang dipandang sebagai ulama terpedaya dengan pandangan ini, baik dimasa lalu maupun masa sekarang, sehingga sesat dan menyesatkan bagi jama’ahnya. Mereka berpendapat atau menganggap bahwa ini merupakan keistimewaan Muhammad. Namun yang jelas, anggapan bahwa Allah adalah nur saja sudah salah karena nur itu adalah makhluq Allah yang tidak mungkin diambilkan dari sebagian diri Allah. Makhluq dan Khaliq sangat berlainan. Di dalam Al qur’an banyak contoh dasar bahwa nur adalah makhluq, diantaranya adalah Al An’am 1 : “… dan mengadakan gelap dan terang (nur) …”, dan 122 :”… barang siapa tidak diberi cahaya (nur) oleh Allah …”, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Selain itu, Pembuat dan yang dibuat mustahil dari bahan yang sama. Sebagian orang salah dalam mentafsirkan alquran tanpa qaidah yang seharusnya (tidak bisa membedakan balaghah, ilmu bahasa arab tidak bisa, dasar turunnya wahyu tidak paham, dan lain sebagainya), sehingga hasilnya akan menyimpang dari kebenaran.

Jadi, jika ada pendapat yang menyatakan sekalian makhluq dari nur maka itu bertentangan dengan berbagai ayat yang menyatakan bahwa manusia dari tanah, malaikat dari nur, setan dan jin dari api, dan lain sebagainya.

Jika ada yang berpendapat dari dalil ….min ruhii, maka artinya diantaranya adalah:

  1. Ditiupkanya ruh dalam penciptaan Adam bukan berarti dari sebagian ruh Allah tetapi sekedar atas kekuasaan Allah.
  2. Memberikan rizqi dari ruh-Nya juga bukan berarti Allah mengambilkan sebagian ruh dari zat-Nya.

Oleh karena itu, apabila ahli tafsir atau ulama yang mentafsirkan memahami berbagai ilmu pendukung pentafsiran alqur’an, maka akan berakhir dengan sebuah kebenaran. Namun, apabila para pentafsir yang tidak mengerti ilmu-ilmu pendukungnya maka hasilnya sesat dan menyesatkan bagi pengikutnya, dan inilah yang terjadi pada masa-masa lalu dan inilah kemudian yang berkembang dan ramai dibahas orang awam sehingga akhirnya menjadi “ikhtilaful juhala” hingga sampai masa sekarang.

Jumhur ulama dari berbagai madhab tidak mempersoalkan (bersepakat) dalam hal bahwa nur Muhammad adalah pengertian majazi seperti cahaya yang menyinari kegelapan. Alquran yang menyebutkan Muhammad sebagai nur menunjukkan arti yang sedemikian, bukan seperti paham yang menyatakan bahwa Muhammad dari nur yang bahkan mengawali kejadian semua makhluq, dan sebagainya, dan sebagainya.

Selain itu, dakwaan nur Muhammad berpindah dari seorang nabi kepada nabi lainnya turun-temurun dan terus-menerus hingga Muhammad saw adalah sesuatu yang salah, bahkan ada yang menyatakan nur yang suci itu turun dari seorang yang suci kepada orang suci yang lainnya ataupun melewati perempuan-perempuan suci, dan seterusnya, adalah jelas salah, ditambah pula jika dikatakan adanya keunggulan gen akibat nur tersebut. Kenapa demikian???

Karena pada kenyataannya banyak diantara para nabi itu oleh Allah ditakdirkan lahir dari ayah jahat, kafir, bahkan pembuat berhala seperti bapak Ibrahim, dan banyak diantara istri nabi yang tidak berhati suci, menjadi kafir seperti istri Luth dan Nuh, dan lain sebagainya.

Ada pula yang menyatakan semua nabi-nabi berasal dari keturuan Habil yang baik, sedangkan Qabil yang membunuh saudaranya menurunkan dosa tersebut dan mengotori gen keturunannya sehingga tidak ada seorangpun keturunan Qabil yang menjadi nabi. Pendapat ini jelas salah karena bertentangan dengan Alquran dalanm Ali Imron 164 :”…Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri…” dan At Taubah 128 :”Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari bangsa kamu sendiri…” dan Al Mu’miin 32 :”lalu Kami kirimkan kepada mereka seorang rasul dari antara mereka sendiri…”, dan lain sebagainya.

Jadi semua ummat punya rasul mereka sendiri yang diutus Allah merubah kaumnya untuk menuju jalan yang benar, baik dari keturuna Habil maupun Qabil maupun keturunan anak Adam yang lainnya. Hal ini berlangsung terus-menerus sampai kepada saat diutusnya Muhammad saw yang diutus kepada segenap ummat manusia di seluruh alam, Saba’ 34 :”Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan kepada seluruh ummat manusia…” dan Anbiya’ 21 :”Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”, dan ayat-ayat yang lainnya.

Jadi, janganlah kita termasuk di antara golongan yang sesat dan menyesatkan, yang mengada-adakan cerita tentang nur Muhammad, dari sebagian diantara golongan itu pada masa lalu ataupun pada masa sekarang yang demi mendukung cerita tersebut mereka telah banyak mengada-adakan hadist lemah bahkan palsu.

Maka dari itu, yang perlu diperhatikan dan disimpulkan mengenai hadist yang berisi nur Muhammad:

  1. Hadist –hadist yang berhubungan dengan nur Muhamamd tidak ada yang shahih, bahkan kategorinya dibawah kategori dhaif.
  2. Riwayat tentang nur Muhammad sebagai kejadian yang pertama diciptakan bertentangan dengan hadist-hadist shahih yang menyatakan arsy dan qalam sebagai yang pertama.
  3. Kejadian manusia bukanlah dari nur seperti malaikat, tapi diciptakan dari tanah.
  4. Perkataan nur yang disandarkan kepada nur Muhammad adalah majazi sebagaimana untuk mengkiaskan agama sebagai nur, ataupun Alquran sebagai nur, dan lain sebagainya.

Sekian, semoga bermanfaat. Tetap berpikir objektif. Terima kasih.

Moslem’s Holy Places

Agustus 2, 2007

Moslems have 3 most holy places which is called call Haram Al-Shariif or in English (if I didn’t make mistakes) the Venerable Sanctuary. They are Mecca, Medina, and Al-Quds.

The first place is Makkah Al-Mukarramah (Mecca) as the hometown of Islam religion and the focal place of Moslems activity. The meaning of Haram for this place is forbid to do any sin activity, do anything bad to another people, and even kill animals and trees. This place also forbid for unbelievers because they trust with other God and will do tradition and cultures opposite with the order from the God. Allah was make this town haram (forbid for any sin and make it holy place) since the first time human created by Allah. All God’s messengers always protect this place (especially Kaba) from any bad human authorities. The Kaba’s structures and foundation was created thousands years ago before Muhammad era (This was analyzed by non Moslem also). Many kings from unbelievers try to damaging the structures, but always fail. When in some era bad things happened to the Kaba, soon after Allah will developing again the believers especially the inhabitants to rebuilt again the Kaba. The last devastation was the attacking of elephants debasements in 571M leads by Abrahah (I didn’t know what his name in English). All the member of these armies was dead thrown with stone by birds.

The second place is Madinah Al-Munawwarah (Medina) as the second hometown of Islam. Muhammad was lives and stay here as the prophets and the leader of Arab for 10 years. The meaning of Madinah (Medina) actually is City. This place at that time is the business city bigger than Mecca, and also the stopover / transit place for the traders who want to go to Syam area to make a business over there. This town became the holy place for Islam and get title Al-Munawwarah to describe with the visiting of Muhammad, the place get the most bright and lightening by Islam religion and became the most develop on Arab area.

And the third is Al-Quds (Jerusalem) with the main places are Al-Aqsa mosque and Al-Sakhra mosque. Al-Quds itself, in 638 came under Muslim control with the Caliph Umar bin Khattab. Soon after, for the community prayers built on that city a mosque called Al-Aqsa. Beside that, there is a rock which Muhammad takes of from that rock to makes a journey to the 7th sky to receive revelation and order about the rules of prays. So, the Moslem also built a mosque and a dome over that rock to honors the place and also as the kibla (direction when Moslem prays) before changes to Kaba (Mecca) direction. The rock also according to Jewish people is the place where Abraham offering Isaac to be sacrifice. At the era of the first Crusades, when Jerusalem fell to the Crusaders under Godfrey of Bouillon in 1099 they slaughtered many Muslim and Jewish residents, ruled with great cruelty, and destroy many mosques and synagogues, also the dome over the rock and take over Al-Aqsa mosque as a church. This condition happens until Saladin in 1187 captured the city again for the Muslims and for Jews (they are free to do their ritual religion). The Al-Aqsa mosque re-function again as a mosque, and later, after the Saladin era (I didn’t know the exactly year), the dome over the rock rebuilt and finishing by gold and called Al-Sakhra mosque (perhaps in Ottoman’s era). So, this place is Islam’s third holiest site, after Mecca and Medina.

Please corrects if you find the mistakes here. Thanks.

Muhammad and Khadija

Agustus 1, 2007


Since his young, Muhammad fills his days as a shepherd especially goat or sheep. He tends another people’s cattle and gets paid for his job. When he more grows up his age, more sheep and goat he tends, both his own and his uncle, or another people’s cattle which had been trusted and tended by him. This profession maybe is one kind of much identity from someone as a prophet candidate. Almost all prophets who are sent by God were stipulated as a sheep shepherd at his young age to prepare or to make ready when they became prophets. From Moses, Jacob, Jesus, and even Noah who’s taking care many kind animals.

Beside that job, in some certain time Muhammad also has another job, help his uncle Abu Thalib to do business sells some goods (their own goods or belongs to some other merchant) at market. Later, at the age of 12 years old offered by Abu Thalib to make a business trip into Syam region for the first time. With the result from tending cattle and make a business, Muhammad tries to make a living. This condition make Muhammad and his uncle life became better and better. The longer more grows up his age, Muhammad’s cattle quantity grows up also, and beside that more trusted by Mecca’s inhabitants in their business to trades their goods. At the age around 24 years old, Muhammad became one of the rich men in Mecca, from tending cattle and make a business, but still trusted by peoples. It proved that Muhammad is a reliable worker or trustworthy and also have big honesty heart. The climax, at age around 25 years old he trusted by a rich widow, a trader also, who’s name Khadija to help her sells some goods/stuff into Syam area. All her goods before, brought by her own staff. But, when she saw the successful and profit the other trader who’s trusted their stuff in Muhammad business make Khadija want to join with Muhammad group. In this business trip, Khadija didn’t follow but sends her trusted servant name Maisara to watch the business. Shortly, the business is successful with many profits which is made Khadija more surprise with Muhammad’s personality, and after few month later, Khadija send her family to ask Muhammad to marry her.

From the set of the story above, it is looks like that the reason of Khadija marry with Muhammad just because Muhammad was proved as a reliable worker in trading, famous, have big honesty, and successful. Does it just because of that short reason? The reason is too simple? Or there is some other reason? If we think objectively, the reason it doesn’t make sense or the story is too short. There are some other important reasons which un-discussed too much. So, some expert or historian try to opens and discuss some un-told part about this situation, the main reason why Khadija want to marry with Muhammad. There are one opinion which not much to be discussed by many peoples. This opinion said if the one possibility of what make Khadija want to marry with Muhammad is because she knew that inside Muhammad personality contain prophet identity, she knew that Muhammad is the chosen one, she knew if Muhammad is a prophet’s candidate, the new prophet chosen by God. How she knew about that? What the base of this opinion? And why Muhammad say yes to marry a widow 15 years older than his age? Why Muhammad accepts Khadija as a wife when he is at 25 years old and Khadija 40 years old, make 15 years old gap between them? Even more as a rich man, Muhammad on that marriage give 100 camels (or more) as a “mahar” which is as much as the price of one new and the best Mercedes Benz sedan price at this modern era.

Still about this marriage, the Khadija’s propose accepted by Muhammad because of some reason, good reasons, not because of wealth / property or beauty or something else worse just like what was accused by the people full of hatred into Muhammad. There are:

  1. Muhammad knew the Khadija’s families are from respected class with good ethics which is making sure that her family are weren’t from idol worshipper group and didn’t do bad habits like most of people on that era.
  2. Muhammad and Khadija have close family relation and their genealogy structures met at the 5th ancestors. Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah. And Khadija bint Khuwaylid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. From this condition, he knew that Khadija is come from good ancestors.
  3. Khadija even she is older than Muhammad and also a widow, but at the point of view or opinion of Mecca’s peoples she is famous with her good personality, have noble deed, good character, not including idol worshipper group, generous / big hearted lady, have good business, and big possibility her religion is nasrani (Christian Unitarian sects).

Those are some reason of Muhammad to accept Khadija as his wife. In the other side, Khadija herself has some other reason, which most important is she known if Muhammad is a prophet candidate chosen by God. Does it true she knew that Muhammad bring some prophet identities? How she knew that? Some histories give us clue about this. This opinion said, Khadija knew the prophet identity inside Muhammad years before they get married. Some reason and explanation about these are:

  1. Some of Khadija’s family especially the older man, aged persons, and family leader are priest or clergyman from “ahlu’l kitab” or Christian Unitarian Sects, expert on Torah and Bible and understood very much about the prophecy inside their holy books directly in the main language, Hebrew and Aramaic languages, as the ancient language of their holy books, not from the translation in their ordinary language (Arabic). These family members knew the prophecy about the new prophet.
  2. The other part of the story (un-enough to be discussed by historians), told that Khadija’s cousin (daughter of her uncle or aunt) almost get married with Abdullah, Muhammad’s father, but failed. To understanding and make conclusion about this detail, let us back to the past time before Muhammad born yet. Few years before 571M, when Khadija at 14-15 years old of her age, one of her uncle (ahlu’l kitab) saw some prophet identity on Abdullah personality. After make attentions for this person long enough, and look into in detail/check out with high confide in him, he think that person is the prophet which was promises by God. And soon after try to propose Abdullah for his daughter (perhaps she is in the same age or little older than Khadija). But God have another will, Abdullah met another woman whose name Aminah bint Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab and finally marry her. Khadija’s uncle who’s loose out the plan/failed to connected between Abdullah and his daughter still waiting and informing the evidence or clue about the prophet identity on Abdullah to all family members and also heard by Khadija herself. But with the death of Abdullah in his young age after married with Aminah (even his son didn’t born yet). The “ahlu’l kitab” from this family still looking and searching just like what another ahlu’ kitab do, searching for the chosen one as the new prophet. Later, they found again the prophet identity inside Muhammad personality, son of Abdullah, and even clearer than his father. All this condition knew by Khadija also always following development of Muhammad’s life just like the other members. At that time, beside the Khadija’s family, many other “ahlu’l kitab” searching for that chosen one just like what their holy books promises. But, some of them who are believed with the prophecy didn’t want to let the prophet candidate stay alive. Many of them want to kill him because didn’t like if the chosen one didn’t come from their own tribe or nation. So, the good “ahlu’l kitab”, when saw prophet identity on a person personality, they will close and hidden the information to save the chosen one (and of course the chosen one will be saved by God). This reason strengthens by another priest name “Bukahira” who’s seeing the same thing with Muhammad. He met at Syam when Muhammad 12 years old, he believes also if Muhammad is the chosen one, the candidate of the new prophet, and because of that he advice his uncle, Abu Thalib, to get back to Mecca as soon as possible and take care Muhammad carefully and make him stay away from bad community.

Those are some most important reasons why Khadija want to marry Muhammad, beside of the reliable worker or trustworthy and also have big honesty heart of Muhammad personality, which is make her more loving him. So, after years later, when she was a widow, she tries to connecting again her family with Abdullah’s family. Now, she try to marry Muhammad son of Abdullah, just like what her uncle do for his daughter proposing Abdullah more than 25 years before. Also, she still believes with the messages from the family older man, if Muhammad is the prophet candidate. With this situation, the big believes of Khadija into Muhammad personality or the prophet identity it wasn’t after the revelation, but years before. That is why after Muhammad get the first revelation, Khadija directly face / go to his uncle Waraqah bin Naufal to tell him the situation about Muhammad get his first revelation. Her uncle, Waraqah, is a priest “ahlu’l kitab” just like many of his brothers, understood well about Torah and Bible directly from the ancient language Hebrew, not just from the translation in ordinary language (Arab), and he was blind as his old dizzies. When Khadija told the event / situation about Muhammad, he said that is true and validity of the prophet identity on Muhammad can’t be argued any more. This faith on her family makes Khadija as the first person who does believe with Muhammad as a prophet when much people say her husband was crazy. Even more, few days later after the first revelation, Khadija bring Muhammad to face Waraqah to seek some counseling or get some advice from him. At that moment, Waraqah advice Muhammad to be careful and also inform that someday he will be hunted to be killed by his close society / his surrounding or some group around him. Because that was the regulation from the God and that was what happens to all His prophets. From Moses, Jesus, and also Muhammad, all people whose bring God’s messages / God’s orders teaching, will be tortured or abused by their surrounding.

This is the writing about the reason why Khadija marry Muhammad, and that is why Khadija directly declare herself as a first Moslem without any doubt or confusion in early day of Muhammad’s life as prophet. Khadija is the most beloved wife /most favorite wife than the others.

Wallahu a’lam bi shawaf.

Please think objectively and gives the reply or feedback to corrects the mistakes. Thanks.

Muhammad dan Khadijah

Juli 25, 2007


Muhammad semenjak kecil mengisi harinya dengan menggembalakan ternak terutama kambing dan domba, bahkan ketika semakin dewasa semakin banyak ternak yang digembalakannya, baik milik sendiri dan keluarga Abu Thalib, maupun titipan dari penduduk Makkah yang mengupahnya untuk menggembalakan ternak mereka. Profesi ini seakan telah ditetapkan oleh Tuhan kepada orang-orang pilihan-Nya yang dipersiapkan sebagai utusan-Nya. Hampir semua nabi ditetapkan oleh Allah sebagai penggembala kambing atau domba, Musa, Yakub, maupun Isa. Ini adalah salah satu ciri kenabian seseorang yang telah ditetapkan Allah.

Pada saat-saat tertentu, Muhammad juga berdagang membantu perdagangan milik Abu Thalib atau barang dagangan titipan dari orang lain. Pada usia 12 tahun untuk pertama kalinya dia diajak pamannya, Abu Thalib, berdagang keluar tanah Arab, yaitu ke daerah Syam. Dengan hasil perdagangan dan ternak, penghidupan Muhammad dan keluarga Abu Thalib semakin bagus pada saat ia semakin dewasa. Semakin lama, semakin banyak ternak yang digembalakan oleh Muhammad, baik milik pribadi dan keluarga Abu Thalib, maupun milik masyarakat Makkah. Selain itu, perdagangannya dari barang dagangan yang dititipkan maupun milik pribadi juga semakin banyak dan menuai sukses. Walhasil, pada usia 24-an tahun, Muhammad merupakan salah satu orang yang cukup kaya di Makkah dari hasil ternak dan perdagangan, namun dia tetap dipercaya orang untuk menjualkan barang dagangan mereka, ini membuktikan bahwa Muhammad merupakan tipe orang yang jujur dan bisa dipercaya. Puncaknya, pada usia 25-an dia diberi kepercayaan oleh seorang pedagang besar dan merupakan seorang janda kaya untuk membawakan dagangannya ke negeri Syam, dia adalah Khadijah. Seluruh perdagangannya sebelum itu dibawakan oleh para pekerjanya sendiri. Namun, melihat kesuksesan dan keuntungan yang diperoleh Muhammad dan pedagang lain yang mempercayakan dagangan mereka kepada Muhammad, maka Khadijah memberikan kepercayaan kepada Muhammad untuk memimpin kafilah/rombongan dagang miliknya, meskipun pada saat itu Khadijah mengikutsertakan seorang pembantu kepercayaannya yang bernama Maisarah untuk mengawasi perdagaanngn tersebut. Singkat cerita, perdagangan sukses dan banyak laba yang masuk, Khadijah semakin mempercayai Muhammad, dan beberapa bulan kemudian Khadijah meminta keluarganya untuk melamar Muhammad bagi dirinya.

Dari rangkaian cerita diatas, seakan-akan alasan Khadijah menikah dengan Muhammad semata karena Muhammad terbukti sebagai pedagang yang terkenal jujur, dapat dipercaya, dan sukses. Apakah memang seringkas itu? Apakah sesederhana itu? Jika dipikirkan dengan objektif, tentu saja kurang masuk akal atau terlalu ringkas cerita yang disampaikan disana. Nah, dalam hal ini beberapa ahli berusaha mengungkap dan membahas beberapa hal yang kurang diperhatikan oleh banyak kalangan mengenai alasan utama Khadijah bersedia menikah dengan Muhammad. Pendapat ini menyatakan bahwa salah satu hal yang menyebabkan Khadijah ingin menikah dengan Muhammad adalah karena Khadijah tahu bahwa ada ciri-ciri kenabian dalam diri Muhammad / calon nabi. Bagaimana bisa demikian? Apa dasar dari pendapat ini? Lantas mengapa Muhammad mau menikah dengan janda berusia 40 tahun disaat umurnya baru 25 tahun? Bahkan, pada saat menikahi Khadijah tersebut Muhammad memberikan mahar pernikahan kira-kira 100 ekor unta yang pada masa sekarang kurang lebih harganya sama dengan satu sedan Mercedes Benz terbaru atau lebih dari 1 milyar rupiah.

Dalam hal ini, Muhammad bersedia menikah dengan Khadijah dikarenakan berbagai pertimbangan, diantaranya adalah:

  1. Muhammad mengenal dengan baik segala hal mengenai keluarga Khadijah dan silsilahnya, sehingga paham bahwa Khadijah berasal dari keluarga terhormat dan beretika, dimana pada masa itu di Makkah sukar ditemukan keluarga yang tidak menyembah berhala dan menjalankan adat jahiliyah.
  2. Silsilah Muhammad dan Khadijah terpaut tidak terlalu jauh, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah. Sedangkan Khadijah bint Khuwaylid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. Dengan demikian ada pertemuan silsilah antara keduanya.
  3. Khadijah meskipun berusia lebih tua dan janda, namun dikalangan penduduk Makkah terkenal berpribadi luhur, berakhlaq mulia, tidak menyembah berhala, dermawan, kemungkinan beragama nasrani (kristen unitarian) karena beberapa tetua dan pemimpin keluarganya adalah ahli kitab dan ahli bahasa kuno.

Itulah beberapa pertimbangan dari Muhammad untuk menerima Khadijah menjadi istrinya. Sedangkan dari Khadijah sendiri memiliki pertimbangan lain, yang diataranya adalah karena dia tahu bahwa Muhammad adalah calon nabi. Apa dasar dari pendapat ini? Pendapat yang menyatakan bahwa Khadijah sudah melihat adanya ciri kenabian pada diri Muhammad bahkan sebelum mereka menikah adalah:

  1. Keluarga besar Khadijah, terutama para tetua, kakek, dan pemimpin keluarganya adalah ahli kitab (Injil dan Taurat) yang paham betul nubuat dan penafsiaran dari kitab sucinya secara langsung dalam bahasa kuno (Ibrani dan Aramic) sebagai bahasa kitab suci mereka pada masa dahulu kala, bukan sekedar dari terjemahan didalam bahasa harian mereka (Arab). Keadaan keluarga ini memang kurang dibahas dengan mendetail.
  2. Ada sebuah cerita tambahan (bagian ini kurang dibahas para ahli sejarah), menyebutkan bahwa beberapa waktu sebelum Muhammad lahir, saudara sepupu Khadijah pernah pula akan dinikahkan dengan Abdullah, ayah Muhammad, namun gagal. Uraian cerita ini kembali ke masa sebelum tahun 571M, beberapa tahun sebelum kelahiran Muhammad yang pada saat itu Khadijah berusia kira-kira 14-15 tahun. Seorang pamannya (ahli kitab) melihat adanya ciri kenabian pada diri Abdullah bin Abdul Muthalib dan setelah diperhatikan dengan seksama dan penuh keyakinan maka bersegeralah ia melamar Abdullah untuk putrinya (sepupu Khadijah, mungkin usianya sebaya atau lebih tua sedikit dibanding Khadijah). Namun Allah berkehendak lain, Abdullah dipertemukan dengan Aminah bint Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab, dan akhirnya menikahinya. Paman Khadijah yang gagal melamar Abdullah tetap percaya adanya ciri kenabian pada diri Abdullah, oleh sebab itu maka ia memberitahukan segala hal tersebut kepada segenap keluarga besarnya termasuk didengar pula oleh Khadijah sendiri. Namun, dengan kematian Abdullah diusia muda setelah menikah dengan Aminah (bahkan ketika anaknya belum lahir), para ahli kitab dari keluarga ini melihat ciri kenabian yang lebih jelas terlihat pada diri anaknya, yaitu Muhammad bin Abdullah. Pada masa itu, keluarga Asad ini menutup informasi ini dari orang lain karena dalam nubuat kitab suci mereka juga disebutkan bahwa orang-orang sesat yang tahu dengan keberadaan calon nabi itu pastilah akan berusaha membunuhnya. Alasan ini diperkuat dengan pertemuan rombongan dagang Abu Thalib yang disertai Muhammad pada saat berusia 12 tahun ketika berdagang ke Syam dengan seorang rahib bernama Bukhaira yang juga melihat adanya ciri kenabian pada diri Muhammad dan percaya bahwa dia adalah nabi yang dijanjikan, dan dalam pertemuan itu dia mewasiatkan kepada Abu Thalib untuk segera pulang ke Makkah dan menjaga Muhammad dengan cermat karena sebagai calon nabi dia banyak dicari untuk dibunuh oleh kaum yang sesat dan tahu akan nubuat dalam kitab suci mereka.

Itulah beberapa alasan kenapa Khadijah ingin menikah dengan Muhammad meskipun usianya jauh lebih tua dan paham betul bahwa orang yang baik tidak akan menikah hanya sekedar melihat usia dan kecantikan semata. Dan juga Khadijah percaya bahwa perkiraan tetua keluarganya yang menyatakan bahwa Muhamad adalah calon nabi yang dijanjikan adalah sesuatu yang benar. Jadi kepercayaan pada diri Khadijah kepada kenabian Muhammad tidaklah setelah turunnya wahyu, namun jauh sebelum itu. Oleh karena itu, begitu Muhammad menerima wahyu yang pertama, Khadijah langsung menghadap pamannya, Waraqah bin Naufal, salah satu ahli kitab di keluarganya yang paham isi Injil dan Taurat, mampu berbahasa Ibrani, namun sudah tua dan buta. Ketika Khadijah menceritakan kejadian atas diri Muhammad, sang paman menyatakan kebenaran dan validitas kenabian Muhammad. Selanjutnya, beberapa hari kemudian, Muhammad diajak Khadijah untuk menghadap pamannya tersebut untuk meminta nasehat. Pada saat itu bahkan Waraqah bin Naufal menyatakan kepastian bahwa suatu ketika nanti dia akan diburu dan diusir oleh kaumnya sendiri, juga pengikut-pengikutnya akan dianiaya atau dibunuh. Dan memang demikianlah yang terjadi dan berlaku kepada semua utusan Tuhan yang membawa risalah kenabian baru seperti juga yang terjadi terhadap Musa, Isa, dan begitu pula dengan Muhammad.

Demikian sekilas uraian mengapa Khadijah menginginkan Muhammad menjadi suaminya, dan juga alasan kenapa dia bersedia menyatakan keislamannya tanpa ragu-ragu dan bimbang diawal perjuangan Muhammad sebagai nabi. Khadijah adalah istri yang paling dicintai Muhammad dibandingkan istri-istrinya yang lain.

Wallahu a’lam bi shawaf.