Arsip untuk ‘perempuan’ Kategori

Pemimpin

Desember 2, 2006


Pemimpin

Manusia diciptakan memang untuk beribadah kepada Sang Pencipta dengan sungguh-sungguh dan sebanyak mungkin mengumpulkan amal sebagai bekal kehidupan akhirat. Dari satu sikap ritual peribadahan ada kisah menarik yang dapat kita ambil sebagai hikmah dan teladan agar kita tidak sampai terjerat dalam kesesatan dan kekeliruan dalam peribadahan kita.

Dalam islam dikenal adanya imam dalam sebuah jama’ah sholat. Untuk memilih seorang imam harus memenuhi persyaratan yang mendasar seperti seorang pemimpin bermasyarakat, mulai dari dicari yang paling tua dengan harapan bisa menumbuhkan sikap hormat dan segan bagi para ma’mum yang berarti juga sebuah ketaatan kepada seorang yang berpengalaman. Dicari yang paling fasih bacaannya dengan harapan agar dia menjadi imam yang membimbing para jama’ah ke arah kebenaran dalam sikap gerak dan segala bacaannya. Dicari juga yang hafal Alquran dan hadist dengan keinginan agar pedoman yang dipakai jelas dan sesuai dengan ketetapan. Dan ketentuan-ketentuan lain sebagainya dengan harapan agar jalannya sholat berjamaah akan lancar, benar, sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh agama.

Ketika seorang imam telah terpilih dalam sebuah tempat sholat, dilarang adanya imam lain yang juga melakukan sholat jama’ah. Sehingga dalam sebuah masjid dalam satu waktu sholat harus hanya ada satu imam saja. Imam susulan hanya berlaku ketika imam yang telah lebih dahulu sholat menyelesaikan sholatnya hingga salam. Ketentuan ini bila kita pikirkan tentu ada maksud dan tujuannya, tidak sekedar membuat batasan-batasan yang susah dipahami. Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita ambil contoh sederhana ketika kita melakukan pemilihan ketua RT misalnya, jelas kita tidak diperkenankan menciptakan seorang ketua RT tandingan. Ketika sang ketua RT telah lengser barulah kita memilih ketua RT yang baru. Inilah sikap yang tidak menciptakan perseteruan, kekacauan dan kesemrawutan dalam tatanan kehidupan. Coba bila ada dua ketua RT dalam satu tempat, kemudian ketua RT yang pertama memerintahkan kita membangun selokan ke arah barat, ternyata ketua RT yang lain memerintahkan kita membuat selokan yang mengarah ke utara, pasti akan ada pro kontra yang sebagian warga ingin mengikuti ketua RT yang pertama, sedangkan sebagian lagi ingin ikut perintah ketua RT yang kedua. Hal ini jelas akan merusak tatanan yang ada bahkan bisa mengarah dalam pertikaian.

Begitulah islam, peraturannya begitu lengkap dan mudah difahami namun hanya akan mencapai hati bagi orang-orang yang mau berfikir.

Ada sebuah kisah manarik pada masa dahulu, ketika ada sebuah jamaah sholat sedang dilaksanakan, datanglah seorang yang ingin ikut dalam jama’ah tersebut, namun dia sudah dalam keadaan terlambat atau masbuq dan ketika itu imam sudah sampai pada gerakan ruku’. Orang yang ingin ikut berjama’ah ini begitu masuk masjid dan tahu bahwa masih ada sedikit kesempatan sebelum terlambat atau lepas dari gerakan ruku’, dia nyeletuk: Innallaaha ma`a assobiriin, yang berarti Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Anda paham maksudnya, si orang yang baru datang ini menyindir imam agar bersedia menanti dia sehingga tidak jadi terlambat sholatnya. Tentu saja sikap ini merupakan sikap yang salah, karena memaksakan kehendaknya dan memerintahkan imam yang seharusnya tidak boleh diganggu untuk kepentingan segelintir orang yang ingin mendapatkan fasilitas dan kenyamanan. Orang yang terlambat datang pada sebuah jama’ah sholat harus mengikuti gerakan imam pada saat itu juga, baru kemudian menambah rakaat sholatnya dibelakang. Dengan cara apapun tidak diperkenankan seorang meminta kemudahan dari imam seperti itu, baik dengan kata-kata, dengan berdehem, dan lain sebagainya.

Ketika seorang imam melakukan kesalahan pun ada aturannya, yaitu ma’mum laki-laki harus mengatakan subhanallah dan tidak boleh menggunakan cara lain seperti teriak, bersuara keras dan kasar, mentertawakan, dan sebagainya. Kata-kata subhanallah sudah ketetapan yang akan mengembalikan sikap imam yang mengalami kekeliruan menjadi betul kembali. Untuk jama’ah yang bisu dan kaum perempuan, memperingatkan kesalahan imam dengan menepukkan kedua tangan atau menepukkan tangan ke tempat sholat saja. Mengapa demikian???. Hal ini dikarenakan, jika kaum perempuan memperingatkan imam dengan suara, dikhawatirkan akan mengganggu kekhusu’an sholat karena suara perempuan memang diciptakan Tuhan lebih utama dari suara laki-laki, penuh kelembutan.

Banyak sekali aturan dalam hal imam sholat ini yang bisa diambil hikmah dan teladan bagi kehidupan kita sehari-hari, sehingga damai dan tenteram laksana ketika kita sholat. Penulis berharap adanya timbal balik berupa komentar terhadap tulisan ini dan mari kita berbagi wacana untuk terus berfikir dengan obyektif. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Amien. (*sumber: data bebas).

(related topic: Merapatkan Shaf)