Tiga Pejuang

Desember 8, 2008 oleh t724626

Ada baiknya bagi kita untuk sedikit refreshing ditengah kesibukan kerja atau belajar. Tapi, tidak semata-mata bermain dan melupakan otak. yang jelas mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya, termasuk dengan menyisihkan sedikit waktu untuk relax. Kita tentu ingat dengan perjuangan para pahlawan dan tentara kita dahulu kala ketika melawan kompeni belanda…!? Berbagai kisah perjuangan telah kita dengarkan dan didoktrinkan ke kepala kita. Semangat yang menggebu dari para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa haarus kita hormati dan segala hasil pengorbanan para pahlawan di masa lalu itu harus kita pergunakan dengan seoptimal mungkin untuk menuai keberhasilan hidup kita. Nah, di sini ada sebuah cerita yang terjadi di sebuah kota yang berhasil diserang oleh pejuang Indonesia. Kompeni yang merasa kewalahan berusaha menggunakan kelicikan dan menyatakan ingin melakukan perundingan damai atau gencatan senjata istilahnya. Akhirnya dari pihak pejuang dikirimlah tiga orang pejuang untuk mengadakan perundingan dengan pihak Kompeni. Walhasil, ketika berada di markas Kompeni, ternyata mereka dijebak sehingga kemudian salah seorang pejuang itu tewas ditembak.

Selanjutnya, dengan kematian seorang pejuang tersebut apakah moril dan semangat pejuang kita kendur? Tenyata tidak. Apakah jumlah mereka semakin menyusut dan terdesak? Tenyata tidak. Lho, kok bisa demikian, sebenarnya berapakah pejuang yang tersisa?

Apakah ada yang bisa menjawab persoalan ini? Jawaban anda sangat dinantikan….sambil relax dan mengisi waktu luang anda.
:)

Tuhan dan Polisi

Desember 8, 2008 oleh t724626
Seorang bocah yang sangat ingin melanjutkan sekolah, tetapi orang
tuanya tidak mempunyai uang untuk membiayai sekolahnya.Lagipula ibunya yang sedang
sakit membutuhkan biaya untuk membeli obat.

Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada Tuhan :

Kepada Yth
Tuhan
di Surga

Tuhan yang baik, saya mau melanjutkan sekolah, tapi orang tua saya tidak
punya uang.
Ibu saya juga sedang sakit, mau beli obat.Tuhan saya butuh uang Rp 20.000
utk beli obat
ibu, Rp 20.000 untuk membayar uang sekolah, Rp 10.000 untuk membayar
uang seragam, dan uang buku Rp 10.000. Jadi semuanya Rp 60.000

Terima kasih Tuhan, saya tunggu kiriman uangnya.
Dari : Rio.

Rio pun pergi ke kantor pos untuk mengirim suratnya. Membaca tujuan surat
tersebut, petugas kantor pos merasa iba melihat Rio, sehingga tidak
tega mengembalikan suratnya.

Bingung mau di kemanain surat itu, akhirnya petugas pos itu
menyerahkannya ke kantor polisi terdekat.Membaca isi surat itu, Komandan polisi merasa iba dan
tergerak hatinya utk menceritakan hal tsb kepada anak buahnya. Walhasil, para polisi pun
mengumpulkan dana utk di berikan ke Rio, tetapi dana yang terkumpul hanya Rp 55.000,-

Sang Komandan pun memasukan uang yang terkumpul ke dalam amplop, menuliskan
keterangan : ” Dari Tuhan di Surga ” dan menyerahkan ke anak buahnya
utk di kembalikan ke Rio. Menerima uang tsb, Rio merasa sangat senang permintaannya
terkabul, walaupun yang di terima hanya Rp 55.000,-. Rio pun bergegas
mengambil kertas dan pensil, dan mulai menulis surat lagi :
“TUHAN LAIN KALI KALO MAU KIRIM UANG, JANGAN LEWAT POLISI,
KARENA KALO LEWAT POLISI DI POTONG RP 5.000,-”

Sumber: Kiriman dari teman.

Please keep smile.

Belajar Membuat CSP (Cerita Sangat Pendek)

Desember 5, 2008 oleh t724626

Resahku….

Tergagap bangun, aku terduduk, tertegun lama sekali berusaha mengembalikan kesadaranku. Ini adalah yang kesekian kalinya terjadi. Jam 3 pagi, ya, hampir selalu jam 3 pagi aku terbangun lemas berkeringat, terasa panas di kepala. Suasana kamar sepi, terdengar samar detik jam dinding yang tersaingi kerikan jangkrik bersahutan, mungkin 2 atau 3 ekor dari arah halaman belakang dan lahan kosong di samping rumah.

Mimpi-mimpi itu terus mendatangi. Isinya memang tidak sama, namun seperti dalam tema yang sama dengan alur yang berkelanjutan. Aku ingin menuliskannya lagi, semenjak beberapa kali mimpi serupa itu membuatku merasa susah memejamkan mata lagi. Mungkin ini adalah yang ke-enam dari banyak mimpi sebelumnya yang belum sempat aku tulis.

Kupandangi buku tulisku diatas dipan kayu. Mejaku memang hanya itu, meja kecil dengan duduk lesehan tanpa kursi. Ada beberapa kitab, termasuk Alquran dan buku do’a, beberapa kertas coretan dan buku-buku tulis, salah satunya ku pakai sebagai diary. Bukan kebiasaanku memang, untuk menuliskan isi pikiran dalam diary, sehingga aku tidak pernah punya buku diary yang sesungguhnya.

Masih enggan, aku duduk di depan meja kecilku, menatap Alquran, aku sempat bertanya dalam hati apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa terjadi pada diriku. Bagi orang-orang yang dekat dengan Tuhan, ketika mendapatkan hal yang meresahkan hati seperti ini pasti akan segera bangkit, berwudlu, shalat malam, dan membaca Alquran. Mungkin itu yang akan mereka lakukan untuk menenangkan hati yang resah gulana.

Tapi aku bukanlah seorang yang rajin sembahyang, ayat-ayat Alquranpun susah sekali aku hafalkan, shalat malam hampir tidak pernah aku jalankan. Tak ingat berapa kali aku menjalankan shalat malam dalam tiga bulan terakhir ini. Bukan karena terlalu banyak, tapi karena terlalu jarang maka tidak terhitung jumlahnya. Shalat malam yang rutin aku kerjakan hanyalah shalat tarawih. Ya, hari ini adalah dua hari menjelang Ramadhan, biasanya shalat tarawih tidak pernah terlupa.

Heeeeeh……..

Aku menghela nafas sekali lagi sambil meraih pena dan mulai membuka diary mimpi. Ku buka beberapa lembar dan ternyata memang ku beri nomor lima untuk mimpiku, mimpi anehku, sekitar sebelas hari yang lalu. Berarti ini urutan ke-enam yang akan kutuliskan. Kumulai dengan menulis detail waktu kejadian dan TKP.

“Kamarku yang sunyi, dua hari menjelang Ramadhan 1429, terbangun jam 03.05, mulai menulis diary pada jam 03.25 pagi”

Berarti aku sudah sekitar 20 menit termenung menunggu kesadaran diri. Di sana juga kutuliskan dua hari menjelang Ramadhan karena aku tidak hafal nama-nama bulan dalam penanggalan islam. Entahlah, memalukan memang, sebagai orang islam aku sendiri tidak pernah berusaha tahu penanggalan hijriyah.

Kulanjutkan tulisanku,

“Kali ini mimpiku makin terasa nyata. Bahkan kepalaku panas, penginderaaanku semua siaga, mataku perih merah, hidung terasa sesak bagaikan keluar dari dapur pembakaran yang pengap, telingaku pun mendenging. Kali ini kumulai mimpiku di sebuah jalanan lebar yang berlubang dimana-mana, bekas galian dan juga ledakan. Banyak bagian aspal yang sebenarnya masih mulus hitam, tapi hampir semuanya telah ditutupi tebaran debu memutih kotor.

Lubang-lubang itu, lebih tepatnya lubang bekas ledakan, diperlebar untuk tempat berlindung. Sebentar aku masih mengamati sekitarku, mencoba memahami suasana yang terjadi, namun, sentakan seseorang tiba-tiba membawaku jatuh bersamanya, diiringi kemudian suara rentetan senjata berat dan ledakan di sekitarku. Benar-benar menakutkan dan membuat siapa saja yang ada di sana panik bukan kepalang.

Belum lagi aku sempat menyadari apa yang terjadi, tanganku segera ditarik keras atau bahkan diseret menjauhi ledakan yang baru saja terjadi dan menghamburkan segala komposisi aspal dan tanah dibawahnya. Serpihan-serpihan dan bongkahan aspal serta debu menerpa apapun disekitarnya. Akupun belum tahu siapa yang menarikku keras, menjagaku ataukah malah menyanderaku. Sambil menunduk terseret-seret, aku memegang perut kiriku dengan tangan kanan, perih. Kurasakan lambungku makin panas, ku perhatikan situasi mulai terasa sepi menjauhi suara tembakan yang masih susul-menyusul.

Seketika aku teringat lantunan merdu penyanyi Syria yang syahdu, dan rasanya ingin memejamkan mata menikmati seuntai bait menyentuhnya. Aku memang suka lagu-lagu berbahasa arab meskipun tidak paham benar bahasanya. Maklumlah disuruh belajar bahasa arab susahnya setengah hidup setengah mati, mbandhel. Padahal orang tua maupun beberapa teman telah mengingatkan bahwa bahasa arab adalah bahasa ibu kita sebagai orang islam, tapi entahlah hati ini susah sekali mentaati nasehat-nasehat mereka.

Sekarang baru tahu rasa, saat ingin memahami lantunan indah tidak paham artinya, ketika ada ayat Alquran dan Hadist diperdengarkan juga tidak paham maknanya, dan itu berarti juga tidak paham segala dasar agama dan ideologi yang seharusnya jadi prioritas hidup kita. Terngiang kembali lantunan indah lagu Syria. Hal ini termasuk salah satu hal yang aneh juga bagiku, sudah jelas tidak paham bahasanya, tapi kenapa masih suka juga bait-bait dan irama musik itu. Atau mungkinkah aku sekedar suka sama kemolekan penyanyinya saja? Ah, kupikir tidak juga, karena banyak lagu yang dinyanyikan penyanyi pria juga aku suka, jadi tidak melulu melihat kemolekan penyanyinya.

Makin lama aku semakin tenggelam dalam lantunan lagu merdu dalam kenanganku. Terasa tubuh makin lemas dan mata makin terpejam, letih sekali terasa persendian dan gerak langkahku. Namun, kesadaranku mulai pulih kembali tatkala pipiku terasa ditepuk-tepuk dan badanku digoyang-goyangkan agar aku terbangun dan kembali tegar. Aku perhatikan kembali orang yang menyeretku, masih muda, potongan rambut rapi pendek, pun tidak menampakkan wajah suram. Kata-katanya susah untuk dipahami, tapi jelas itu adalah bahasa arab dan dari intonasi serta arahannya, aku paham bahwa dia tidak ingin aku tertidur lagi yang mungkin akan berlanjut tidak bangun selamanya.

Di depan sana kira-kira 10 meter ke depan ada lagi seorang yang turut berlari-lari, selalu memunggungi, tidak menoleh ke arahku sama sekali, seakan menjadi penunjuk jalan dan mengamankan situasi. Tangan kiriku kembali disentak erat dan sangat memaksa, terseret-seret rasanya kakiku yang ternyata sudah tidak memakai alas kaki lagi. Aku perhatikan baju dan celanaku masih lengkap meski terlihat lusuh dan ada robekan-robekan di helai bajuku. Perih itu terasa lagi, aku perhatikan tangan kananku yang memegang perut kiriku, tepat di daerah lambung, terlihat kini makin basah, akhirnya ku dekatkan ke arah wajahku dan tertampunglah lelehan darah segar di sana yang segera mengalir dan membasahi lengan bajuku meski pada saat itu telah terlipat hingga siku. Entah karena takut, terkejut, atau memang perutku sakit semakin parah, aku terjerembab di pinggir jalan. Perjalanan menyakitkan itu akhirnya terhambat sebentar. Aku segera diperiksa, tapi sudah terlanjur pingsan lagi.

Aku kembali sadar dengan terkaget, ternyata aku telah dibawa ke balik pagar di sebuah pekarangan rumah yang jelas sudah tidak berpenghuni. Entahlah rumah besar itu milik siapa, tapi sudah separuh hancur, isinya semburat keluar seakan rumah kertas yang dikoyak-koyak tangan besar dan kasar. Luka di perutku telah dibalut dan tanganku diletakkan disana untuk menekan dan menghambat pendarahan yang terjadi. Di seberang lubang pagar kulihat seorang lagi yang sejak tadi didepanku dan selalu memunggungiku, kini kulihat jelas perawakannya tidak terlalu besar, masih muda, dia menenteng sebuah senjata laras panjang, entah apa namanya, satu lagi dia cangklong di punggung adalah jenis Kalashnikov. Untuk yang satu ini aku sedikit tahu karena sering melihat di berbagai media massa, diidentikkan dengan terorist dan wajah arab. Dia tenang mengawasi sekitar sambil sesekali menatapku dan mencoba mengajakku bicara.

Aku tidak perhatikan sama sekali karena ingatanku masih loading, mencoba mencari jawab di mana sebenarnya aku saat itu. Di manakah lingkungan yang biasanya aku lewati?, keadaan menyakitkan yang kualami saat itu dilingkungan yang sangat berbeda, entah disebelah dunia mana. Anganku mencoba kembali ke waktu sebelum aku berada di tengah jalan dengan desingan peluru dan ledakan yang menakutkan tadi, tapi nol besar, tidak ingat sama sekali.”

Aku berhenti sebentar dari menulis diaryku, berdiri menuju meja makan menuangkan segelas air dingin. Sekilas terbayang kembali mimpiku. Sungguh nyaman bisa minum air dingin, entah bagaimana keadaan mereka yang sedang dilanda perang dan terlunta-lunta seperti itu. Jangankan air dingin, untuk mendapatkan kesempatan tidurpun mungkin sangat sulit, mempertahankan nyawa, hidup dan mati, sangat berarti bagi mereka.

Kulihat jam dinding sudah hampir jam 4 pagi, kupaksakan lagi menulis diary hingga selesai, kalau bisa sebelum jam 5 untuk shalat subuh. Aku menulis lagi sambil tetap berusaha mengingat-ingat isi mimpi aneh itu.

“Begitu aku menatap jalanan, tiba-tiba suasana berganti, ramai, wajah-wajah baru mengamati. Tempatku bersandar sudah bukan lagi pagar yang separuh runtuh, tapi sebuah tempat tidur dengan sprei seadanya. Terasa kembali sakit, aku mencoba turun dari tempat tidur, wajah-wajah itu menyambut. Kulihat perutku telah diperban, rapi. Lubang pagar yang kuamati berubah menjadi lubang jendela sebuah bangunan. Sinar matahari turut menusuk di sela-sela lubang dinding, entah karena sudah rapuh, ataukah senasib dengan pagar dan rumah dipinggir jalan tadi, di koyak peluru dan mortir. Namun, rumah suram ini tidak lagi menampakkan kesuramannya, tertutupi senyum para penghuninya.

Mereka mengerumuniku. Salah seorang yang sudah tua, beruban, dan berjenggot tidak terlalu panjang, mencangklong pula senjata laras panjang. Barangsiapa hidup diwilayah seperti itu seakan telah jadi keharusan untuk memiliki senjata, mempertahankan hidup. Tersenyum dia kepadaku,

‘Silahkan duduk saja’ katanya ramah.

Entah bagaimana, salah satu dari orang-orang ini bicara padaku dengan bahasa yang sama denganku. Dia memulai lagi berbicara setelah aku kembali duduk di atas tempat tidur sambil menyandar dinding sama seperti sebelumnya.

‘Dunia ini penuh dengan berbagai hal, ada baik dan ada buruk, ada benar ada salah, ada yang tertindas dan ada yang menindas. Semua itu telah menjadi isi dunia ini semenjak dahulu. Lihatlah kami di sini, kehilangan sandaran hidup, kehilangan segenap penjuru tanah dan ladang karena dijarah dan dijajah oleh kaum laknat. Ketika kami melakukan perlawanan demi hak kami, kami dibantai dengan keji dan bahkan di segenap penjuru dunia dikatakan bahwa kami adalah terorist yang tidak beradab. Setiap saat ada diantara kami yang harus merelakan saudaranya meninggal dengan mengenaskan menghadapi perlakuaan semena-mena musuh kami, setiap saat ada diantara kami yang harus merelakan anak-anaknya dibawa ke penjara untuk disiksa dan diperlakukan seperti binatang hanya karena keberanian mereka melempari para penjajah laknat bersenjata lengkap dengan batu seadanya. Ketika kami meminta keadilan kepada perserikatan dunia, hanya dianggap seperti angin lalu yang tidak berguna. Perlawanan demi perlawanan hingga saat ini masih kami lakukan dengan kekuatan tidak seberapa, jelas tidak berimbang dengan musuh kami yang dilatih negara-negara besar laknat yang juga menginginkan kami hilang dari muka bumi. Mereka mencanangkan perang terhadap terorisme, tapi mereka sendirilah yang menjadi teroris terbesar dan paling laknat.’

Suara ramah itu berhenti sebentar, akupun tak kuasa menahan sesak di dada, pilu mendengar keluh kesah seperti itu, tanpa terasa mataku turut berkaca-kaca meskipun sebisa mungkin kutahan-tahan. Kenapa hal seperti itu diceritakan pada diriku?

Suara itu menghela nafas menguatkan diri sebelum melanjutkan bicaranya,

‘Maka dari itu, kami di sini menitipkan pesan padamu, sampaikan salam kami kepada saudara kami di dunia sana yang dikelilingi kedamaian semu melenakan hati. Kami disini sangat membutuhkan bantuan kalian wahai saudara kami kaum muslimin, bergeraklah mengulurkan tangan kalian kepada kami, akan kami sambut dengan kehangatan dan pelukan mesra sebagai saudara. Akankah kalian membiarkan kami, saudaramu ini disini dibantai, dihinakan, diinjak-injak hak-hak dan kehormatannya. Kehormatan dan hak-hak ini adalah juga milik kalian sebagai saudara kami. Apakah kalian tidak merasa sakit dan terhinakan juga, padahal nabi kita telah mengatakan bahwa ummat islam laksana satu tubuh yang saling membutuhkan dan saling membantu apabila satu bagian tertimpa musibah. Kini kami, saudaramu, satu tubuh dengan kalian, telah mendapatkan musibah, kapankah kalian datang menolong kami yang sedang kesusahan ini. Tolonglah kami………’.

Helaan nafasnya kembali terdengar, panjang, dan tertahan, pilu.

Sepintas aku teringat pada orang-orang yang teguh dalam kesesatan mereka, pada orang-orang yang terlena dengan mengunggulkan otak-otak mereka, pada orang-orang yang setia menjadi anjing para laknat untuk menghujat saudara-saudara mereka sendiri yang sedang disudutkan dan dihinakan.

Aku makin merasa heran, bagaimana manusia bisa berpikir bahwa islam adalah teroris, padahal kenyataan membuktikan bahwa pejuang-pejuang islam hanya mempertahankan diri semata, mempertaruhkan nyawa dan harta demi hak-hak yang dirampas penjajah, berjuang demi kehormatan dan agama yang dihinakan para laknat. Kini, banyak wilayah-wilayah islam yang dipisah-pisah menjadi negara-negara kecil tanpa daya, dikerdilkan menjadi santapan musang-musang lapar.

Banyak sekali kenyataan dan bukti kebenaran diputarbalikkan oleh pemegang kendali informasi dunia. Segala yang diuraikan media massa harus menuruti skenario dan keinginan polisi dunia, sang musang berbulu domba. Penilaian yang bertolak belakang dari kenyataan itulah yang semakin menyudutkan para pejuang islam. Mereka diexpose sebagai pihak yang salah dan bermasalah.

Belum lagi, banyak orang islam sendiri yang terjebak dalam pemikiran bodoh yang sebenarnya malah membodohi mereka sendiri. Mereka islam, tapi turut serta memojokkan saudara mereka yang gigih berjuang melawan penjajah laknat, mereka bahkan terbawa dalam pengkondisian pola pikir yang salah, sesat dan menyesatkan.

Sekali lagi aku tertegun dan menghela nafas. Bagaiman bisa orang-orang yang mengaku islam, yang bersyahadat mengaku bertuhan Allah dan bernabi Muhammad, tapi tidak bersedia mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan dan wajib dikerjakan. Mereka berpikir layaknya orang non-islam, bertingkah laku tidak islami, tidak mau berpola pikir islami, menafsirkan agama sekehendak hati (nafsu)nya sendiri, bahkan ada yang mencapai kesesatan mempertanyakan kebenaran perintah-perintah Tuhan, baik wahyu Ilahi maupun hadist nabi. Tidak relevan katanya, tidak sesuai lagi dengan zaman. Selain itu, ada juga yang menganggap bahwa wahyu Tuhan adalah sesuatu yang tidak masuk akal dan mengatakan bahwa dogma-dogma agama dianggap nyleneh dan tidak masuk akal maka tidak wajib diikuti. Naudzubillah.

Orang-orang semacam itu, yang mengandalkan akal dan mempertuhankan akal, sebenarnya mereka itu telah terjebak pemikiran sesat sehingga menyimpang dari petunjuk Tuhan. Seharusnya mereka tahu bahwa akal hanyalah salah satu ciptaan Tuhan yang disetting bisa disusupi dan di infeksi oleh nafsu dan keinginan yang tidak benar alias menyimpang dari kebenaran. Seharusnya mereka sadar bahwa akal sangat membutuhkan keberadaan wahyu Tuhan sebagai senjata melawan nafsu dan keinginan setan.

Para pemuja akal dan nafsu dengan pola pikir mereka yang dari dasarnya telah sesat itulah yang juga menjadikan mereka turut serta bergabung dengan musuh-musuh islam untuk menghancurkan islam dari dalam. Mereka juga turut serta memojokkan saudara-saudara mereka yang sedang dihinakan dan dirampas kehormatannya. Dan parahnya, orang-orang sesat semacam itu bahkan mempengaruhi orang lain untuk mengikuti kesesatan mereka.

Kuperhatikan, wajah tua nan ramah itu hendak kembali mengutarakan isi hatinya. Sambil tangannya memegang pundakku, terasa dingin, sejuk, nyaman. Namun, baru saja hendak terucap kata, ……. blaaaaaaaaaaaaaaar……, ledakan besar menyala silau menghancurkan dinding dan jendela rumah itu, membuyarkan semua wajah ramah dan tabah itu, tertinggal senyum yang makin sirna, kini lenyap semuanya. Tergagap bangun, aku terduduk, tertegun lama sekali berusaha mengembalikan kesadaranku. Bahkan kepalaku panas, penginderaaanku semua siaga, mataku perih merah, hidung terasa sesak bagaikan keluar dari dapur pembakaran yang pengap, telingaku pun mendenging. Aku sudah tidak bisa memejamkan mata lagi.”

Heeeeeh…………, aku merasakan jari-jariku kaku. Aku melihat jam dinding ternyata telah menunjukkan hampir jam 5 pagi, waktunya shalat subuh. Berarti tadi sudah adzan subuh tapi aku terlalu serius menatap diaryku, tidak terdengar suara adzan pagi itu. Semoga itu bukan pertanda lemahnya imanku.

Kutambahkan sedikit tulisanku,

“Ya Allah, alhimni rushdi wa a’idni min sharri nafsi.

Ya Allah, adkhilni mudkhola sidqin wa akhrijni mukhroja sidqin.

Ya Allah, berilah aku ilmu yang bermanfaat dan jadi bagian dari orang-orang yang mampu mengamalkan ilmunya.

Ya Allah, jadikanlah otakku mampu menerima ilmu-ilmu dan petunjuk-Mu dan juga mengamalkannya sehingga bermanfaat bagi manusia.

Ya Allah, jika otakku tidak mampu menerima dan mengamalkan ilmu-ilmu-Mu, maka berikanlah aku jalan ke tempat saudara-saudaraku yang sedang dirundung musibah melawan musuh-musuh-Mu.

Ya Allah, berilah kesiapan dalam hatiku untuk berdagang dengan-Mu, diri dan hartaku untuk berjuang dijalan-Mu demi surga dan kemenangan besar yang telah Kau janjikan.

Ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu agar aku mampu memilih jalan hidupku.

Semoga Islam kembali berjaya seperti bergantinya malam ini menjadi pagi yang terang, cerah, dan ceria. Amien.

Diary ini selesai kutulis jam 5 pagi, dua hari menjelang Ramadhan 1429.”

Masih mengingat wajah tersenyum yang menguap hilang, tetap menjadi resahku.

Selesai.

Obama, Sebuah Euphoria Semu

November 6, 2008 oleh t724626

Hari ini akhirnya saya sempatkan kembali mengupload tulisan setelah hampir dua bulan terkonsentrasi pada kesibukan dan aktifitas lain. Kemenangan Obama memaksa saya untuk mencoba urun rembug di tengah gempita kemenangan seorang yang dianggap “berbeda”. Dengan kemengan Obama, sebuah awal pertama seorang Presiden Amerika berkulit hitam, sangat muda, murah senyum, bernama tengah Husain?, dan pernah jadi anak Menteng. Woooow……

Segala harapan yang ditumpahkan pada sosok Obama merupakan beban berat baginya, harapan dari pendukungnya di penjuru bumi dan juga di negerinya sendiri. Di dalam negeri, dia diharapkan mampu membawa perubahan setelah kegagalan Presiden sebelumnya yang menjadikan Amerika makin banyak musuh dan bahkan mengalami krisis ekonomi.

Masyarakat internasionalpun berharap agar seorang “Chief of Police” yang dianggap “berbeda” ini mampu bertindak sebagai gentleman yang membawahi polisi dunia sebagai kekuatan yang bijaksana. Mulai dari Eropa hingga Asia, terutama Indonesia yang pernah menjadi tempat tinggal Obama, berharap penuh atas terpilihnya Obama.

Namun, apakah harapan-harapan itu nyata? Mampukah Obama memberikan perubahan?

Dalam hal kepentingan politik, sudah umum memberikan janji-janji dan harapan-harapan untuk meraih simpati masssa pemilih. Harapan perubahan yang didengung-dengungkan Obama memang sangat indah dan mungkin saja bisa terjadi. Namun, alangkah baiknya jika kita tidak dibutakan oleh sekedar keadaannya yang “berbeda” itu, dan lebih baik jika lebih diwaspadai serta dianalisis lebih hati-hati. Euphoria yang berlebihan hanya akan membutakan mata hati kita akan realita dan kecenderungan fakta-fakta perpolitikan Amerika selama ini.

Kita mendapati bahwa menjelang pergantian Presiden Amerika, perbankan dan bisnis Amerika mengalami kemerosotan dan keambrukan, bahkan berimbas kepada negara-negara lain. Apakah sekedar kebetulan saja?

Dalam hal ini ada beberapa spekulasi dan analisis atas hal tersebut:

  1. Kejenuhan dunia usaha yang melanda Amerika memang merupakan pemicu utamanya dan menjadi semacam “chain reaction” atas berbagai sendi bisnis. Perusahaan-perusahaan yang menggurita semakin memperbesar produksi untuk mencari laba makin besar, begitupun pola peningkatan harga saham yang makin tinggi untuk memperbanyak dividen. Singkat kata, sampailah kepada tidak seimbangnya kredit masuk dan keluar sehingga menumpuklah kredit macet, diperparah pula dengan kebijaksanaan bunga yang tidak beres, pajak, iklan yang jor-joran, sampai pula pada bergugurannya investasi, dan sebagainya.
  2. Prediksi selanjutnya adalah adanya konspirasi para pemodal dan pebisnis utama Amerika untuk mengguncang perekonomian, sehingga presiden yang terpilih selanjutnya tetap bisa di dikte dan dikendalikan sebagai boneka mereka. Ekonomi adalah tumpuan setiap pemerintahan besar seperti Amerika, dan kita tahu bahwa hampir 70% modal perekonomian Amerika berasal dari pebisnis YAHUDI. Sehingga loby YAHUDI dalam pemerintahan Obama nanti dipastikan akan tetap kuat seperti masa-masa presiden sebelumnya.

Peranan loby YAHUDI ini selain di dalam negeri terutama dalam hal ekonomi, jelas berimbas kepada politik luar negeri Amerika yang selalu bermuka dua. Standard ganda akan tetap menghias perpolitikan Amerika terutama mengenai masalah Israel dan terorisme. Isu utama bahwa Islam adalah teroris dan Palestina adalah pihak yang salah akan tetap tidak berubah.

Kompromi-kompromi yang mungkin dilakukan Obama sangat mungkin untuk dihambat oleh berbagai kepentingan loby YAHUDI. Apalagi mengingat kejadian penembakan Yitzhak Rabin karena dianggap terlalu berkompromi dengan Palestina. Bahkan penerus Rabin menjadi semakin berhati-hati untuk melangkah. Boneka Israel semacam Presiden Amerika tentu tidak mungkin mau mengalami kejadian serupa. Obama juga tidak mungkin akan melangkah diluar tekanan loby YAHUDI, bahkan bisa jadi mentaati ungkapan bahwa dengan melangkah diluar kehendak loby YAHUDI, tiga hari pertama disambut sebagai pahlawan dunia, tapi pada hari keempat dia pasti ditangisi keluarganya. Apakah Obama siap menjadi Rabin berikutnya? Ataupun siap menjadi Kennedy kedua?

Ramadhan Memupuk Keserakahan

September 13, 2008 oleh t724626

Itulah kenyataan yang harus kita akui adanya. Bulan yang diagungkan, bulan yang diberkahi, bulan yang didalamnya kita bisa menimba jutaan poin kebaikan, namun dikalangan ummat islam saat ini, bulan ini tidak lebih dari sekedar memuaskan nafsu yang sebelumnya tertunda. Bulan ini dipergunakan sebagai bulan boros, bulan dimana kita menghamburkan uang untuk balas dendam setelah seharian berpuasa dengan hidangan melimpah, bulan ini adalah bulan dimana kita makin sering berbelanja untuk berbagai kebutuhan materi, sajadah baru, peci baru, baju baru, sarung baru, mukena baru, tapi iman tidak diperbaharui, keyakinan juga tidak diperkuat lagi. Di bulan ini pula kejahatan meningkat, karena para penjahat kambuhan ini juga orang yang merasa perlu menambah materi menjelang lebaran. Titik kemenangan bagi mereka adalah terpenuhinya kebutuhan materi untuk berlebaran, termasuk di dalamnya kebutuhan akan baju baru, makan enak, dan sebagainya.

Ada pula yang bilang, beli baju dan sarung itukan juga untuk ibadah. Kok dipermasalahkan. Nah, ini dia mulai ada unsur hitungan enak ndak enak, untung ndak untung. Alasan semacam ini menunjukkan bahwa disana mulai ada keinginan bahwa beribadah hanya jika dalam keadaan enak dan nyaman saja. Kalau tidak dikasih enak dan nyaman oleh Allah swt maka tidak mau beribadah. Tidak menyadari pula bahwa ibadah adalah untuk Allah swt semata, ibadah sebagai kewajiban makhluq kepada Penciptanya, bukan sekedar untuk membalas keberhasilannya memperoleh baju dan sarung baru. Sikap-sikap semacam itu pada akhirnya akan menumbuhkan tujuan baru yang tidak sesuai dengan syariat, dan juga menimbulkan penyimpangan baru dalam pelaksanaan ibadah islam.

Pernah mendengar pertanyaan mengapa jika syaitan dibelenggu di bulan ramadhan, tapi kok masih banyak kemaksiatan di bulan suci ini?

Seorang ulama pernah mengatakan bahwa syaitan memang dibelenggu di bulan Ramadhan, tapi hasil pendidikan syaitan pada diri kita selama sebelas bulan sebelum Ramadhan itulah yang melekat dalam diri kita dan akan merusak kesucian Ramadhan. Entahlah, apakah penyataan ini benar atau salah, namun setidaknya kita paham bahwa berusaha menjadi baik di bulan Ramadhan saja tidak cukup. Ketika syaitan berkeliaran mempengaruhi kita di luar bulan Ramadhan dan kita membiarkan saja atau bahkan mengikuti ajakan syaitan, maka kecenderungan kita untuk berbuat maksiat di bulan Ramadhan tetap ada dan itu terus-menerus seperti kita ketagihan dengan kemaksiatan itu. Kita akan berusaha menjalankan hasil didikan syaitan itu meskipun syaitan yang menjadi guru kemaksiatan itu tidak ada di dekat kita lagi. Seperti para penjahat kambuhan dan pelaku kejahatan lainnya, mereka mendekatkan diri dengan jalan hidup yang seperti itu, membiarkan diri mereka mendapat pendidikan syaitan sepanjang tahun dan akan selalu ketagihan untuk menjalankan kemaksiatan yang diajarkan syaitan.

Godaan di dalam bulan Ramadhan memang merupakan cobaan bagi kita, dan itu pula yang menjadikan bulan Ramadhan sungguh bermakna. Jika kita mampu mengekang hawa nafsu, itulah yang membedakan kita dari orang-orang yang hanya mendapat lapar dan dahaga. Apabila godaan keserakahan mampu kita redam, insyaAllah akan memberikan kita sekat dari bisikan syaitan di luar bulan Ramadhan, dan juga akan memutus rasa ketagihan kita terhadap hal-hal maksiat yang diajarkan syaitan.

Mari kita jaga ramadhan kita untuk tidak memupuk keserakahan dan mengembalikan fungsi Ramadhan untuk meningkatkan iman dan ketaqwaan kepada Allah swt.

Mari kita jaga agar mata kita jauh dari tontonan tidak islami di media elektronik maupun dipinggir-pinggir jalan ataupun di mall.

Mari kita saling menjaga saudara kita untuk menjauhi sarana kemaksiatan dan memutuskan rasa ketagihan terhadap perbuatan maksiat.

Mari kita jaga hati kita agar selalu ingat bahwa ibadah kita, hidup dan mati kita, hanya untuk Pencipta kita, Allah swt.

Semoga hidup yang sekali ini kita tutup dengan husnul khaatimah.

Allaahumma innaa nas-aluka salaamatan fiddiin wa ‘aafiyatan fil jasad wa ziyaadatan fil ‘ilmi wa barakatan fir-rizqi wa taubatan qablal maut wa rahmatan ‘indal maut wa maghfiratan ba’dal maut.

Allaahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annaa.

Aamien ya Rabbal alamiin.

Merapatkan Shaf

September 9, 2008 oleh t724626

Mumpung masih Ramadhan mari kita benahi shaf shalat kita. Kenapa pake kata “mumpung”? Karena biasanya hari-hari gini masih banyak yang mau shalat di masjid, entar kalo sudah akhir bulan Ramdhan makin sepi, apalagi kalo udah lewat Syawwal, habis semua. (hehe…….saya juga termasuk yang jarang ke masjid).

Sering kita dengar sebelum shalat dimulai, imam mengatakan “sawwu sufuufakum fainna taswiyatassufuufi min tamaamisshalaat” lalu ma’mum menjawab “sami’naa wa atha’naa”. Ya, itu adalah sebuah seruan perintah imam kepada ma’mum agar memmbenahi shaf mereka. Ma’mum juga menyatakan mereka mendengar dan mentaati perintah tersebut. Tapi apa yang terjadi kemudian, semua itu hanyalah formalitas tradisi. Perintah imam tidak dilaksanakan, shaf kacau, tidak lurus, dan tidak rapat. Bahkan, sebagian besar jama’ah mungkin sekedar ikutan ngomong tapi tidak mengerti apa yang diucapkan dan tidak faham apa yang diperintahkan imam.

Ya, begitulah memang keadaan sebagian besar ummat ini pada masa sekarang, memprihatinkan. Seringkali kita mendapati ungkapan dari Rasulullah yang memberikan petunjuk bahwa ummat islam ini maju mundurnya dilihat dari shalat berjamaahnya. Ada hadist yang menyatakan bahwa ummat islam akan kembali menjadi besar dan ditakuti orang kafir jika masjid penuh dengan jama’ah. Ada pula hadist lain yang menyatakan bahwa ketaatan ma’mum kepada imam dan cara pemilihan imam seperti juga pemilihan pemimpin ummat, jika baik dan sesuai aturan, maka akan terbawa dalam kepemimpinan ummat. (related topic: Pemimpin)

Begitu pula dalam hal pengaturan shaf shalat, tercermin pula disana ketaatan pada pemimpin, dan juga persatuan dan kesatuan ummat dalam keseharian mereka. Maka dari itu, jika dalam shalat saja tidak mau mengikuti perintah imam, apalagi di kehidupan sehari-hari, cekcok dan protes melulu. Pada saat ini ketika dalam menata shaf shalat saja ummat islam masih amburadul, gimana bisa nyata persatuan di kehidupan nyata. Dan ini juga menjadikan orang kafir tidak takut dengan kekuatan islam. Ya karena tidak bisa bersatu, gampang diadu dan kocar-kacir mengurusi kehendak masing-masing.

Lantas kira-kira bagaimana shaf shalat yang baik?

Ada beberapa hadist yang menuntun kita dalam hal ini:

  1. Bahwa shaf diawali dari belakang imam tepat atau agak disebelah kanannya.

‘An Jaabirin qaala, shallaitu khalfannabiyi saw fakumtu ‘an yamiinihi tsumma jaa’a ……ila akhir. (rawahu Muslim).

Ada uang mengatakan bahwa penataan ini dilanjutkan ke arah kanan hingga penuh atau melihat keadaan jauh dekatnya pembatas untuk ma’mum yang paling kanan. Kalau dekat saja, maka dihabiskan hingga pembatas kanan, jika terlalu panjang, diperkirakan saja sampai ma’mum paling kanan masih bisa melihat imam, dan yang berikutnya menata diri di sebelah kiri imam sampai batas kiri dengan ketentuan serupa dengan yang kanan. Sedangkan selebihnya bisa melihat situasi, jika datang dari pintu kiri bisa mengambil tempat di sebelah kiri, dari pintu kanan mengambil tempat di sebelah kanan. Penyusunan ini hanyalah sekedar mengacu kepada keutamaan sisi kanan daripada sisi kiri, dan juga memberikan keteraturan shaf.

  1. Utamakan laki-laki dewasa di barisan depan dan anak-anak di barisan belakang. Sedangkan untuk shaf perempuan kebalikannya.

Kaana annabiyyu saw yaj’alurrijaala quddaamal ghilmaani wannisaa’a khalfa alghilmaani. (rawahu Muslim).

  1. Jarak antara ma’mum satu dengan satunya dalam satu shaf dirapatkan bahkan kalau bisa hingga rapat lutut dan bahunya (bukan diartikan berdesakan hingga menyulitkan bergerak sehingga tidak nyaman dan tidak khusu’ dalam beribadah karena mendapat tekanan dari kanan kiri).

‘An abi amaamah qaala’ annabiyyu saw sadduu alkhalala fa inna assyaithaana yadkhulu fiima bainakum bi manzilati alhadzafi. (rawahu Ahmad).

  1. Jarak ma’mum antar shaf (shaf pertama dengan kedua, dan seterusnya) tidak boleh terlalu dekat hingga mengganggu satu sama lain. Ini yang sering terbalik dengan perintah merapatkan shaf. Sering kita lihat shaf di Indonesia (ndak tau apa demikian juga di negara-negara asia lainnya), shaf dibuat terlalu dekat antara depan dan belakangnya, sehingga yang shaf belakang kepalanya terbentur pantat shaf yang di depannya, bisa juga terjadi kadang waktu sujud kopiah atau rambutnya terinjak barisan depannya. Jadi, perintah merapatkan antara kanan kiri ma’mum dalam satu barisan tidak dilaksanakan, malah antara shaf depan belakang yang dirapatkan sehingga pantat dan kepala bertubrukan. Padahal perintah yang benar adalah merapatkan barisan dalam satu shaf antara kanan dan kiri ma’mum. Sedangkan jarak antara shaf depan dan belakangnya tidak boleh terlalu rapat.

‘An aisyata ra qaalat, suila annabiyyu saw fi ghazwati tabuuka ‘an sutrati almushalli; fa qaala, mitslu mu’khirati arahli. (akhrajahu Muslim).

Ada pendapat bahwa dari hadist ini dan beberapa hadist lainnya, disimpulkan bahwa lebar shaf shalat hingga batas shaf berikutnya minimal sepanjang tongkat untuk memandu perjalanan atau tongkat pengikat unta kira-kira 1,5 m. Ini adalah jarak yang cukup nyaman untuk shalat, cukup untuk orang tinggi maupun standard asia.

Nah, kapan kita akan mulai mengatur shaf shalat masjid kita?

Marilah segera kita budayakan pengaturan shaf yang sesuai qaidah dan memprioritaskan kekhusu’an berjama’ah. Pembenahan ummat diawali dengan pembenahan shaf shalat. Teratur dan indahnya shaf shalat ummat islam mencerminkan persatuan dan kesatuan ummat islam dalam kesehariannya. Kapan kita bisa bangkit mencapai kembalai kejayaan islam, kalau dalam sholat berjama’ah saja masih amburadul?

Jika ada kesalahan mohon dikoreksi. Semoga tulisan ini bermanfaat. Amien.

Problems at Moslem’s Early Century

September 1, 2008 oleh t724626

The situation of Moslems at early century after the death of Muhammad saw were wrapped with many struggle inside Moslems communities themselves, especially related with politics and authority. Some people said if that condition was proved and evidence in the bad of Islamic teaching and irrelevant for human. Also with this reason, the Islamic hatred tries to give a black eye on Islam’s face with many methods and distort many facts of Islam to support their mission collapsing Moslems’ faiths.

Some aspects which we need to take attention about the early Moslem’s struggle are:

  1. Many intrudes and provocations by hypocrites people (munaafiq) whose supported up by non Muslims alliance which always against Islam. This condition was also happen when Muhammad saw still alive. They make un-stabilized situation and economy so it will make them easy to create many other problems, and they also try to mislead Alqur’an and Alhadith by creating many wrong interpretations. This attempt brings much success because the prophet was death and Moslem’s thought spread everywhere hard to be controlled. (In this modern era, all Islam countries also have the same problems; many conflicts with many provokes blow up the crisis).
  2. The social system changed from simple Islam into rich and glamour authority with wide land inside it. Related with this, many new rules and interpretations from holy book were showed up to solve new complex problems. But, there were always some people try to gain advantages for their need in politic and authority, plus interfere by outsiders.

Some of them are:

a). Khilafa election (Khilafah bil intikhab) changed with khilafa hereditary (khilafah bil waratsah).

b). Khalifa use special guard even when he prays in mosque.

c). Khalifa use throne and glamour cloths.

d). Beginning of aristocracy forced their need and boss acted arbitrarily.

e). Etc. (the others example please ask to the historian experts).

These aspects create contrary between ummah, some of them keep silent and some are vocal or some others agree. The new system which step by step stay away from the true Islamic system give more bigger chances to the Islamic hatred to build new conflict and also drift away Moslems from the correct Islamic thought. So, the collapse of Islam was not because of the using of syaria Islamic law, but because of Moslem stay away from the syaria Islamic law.

  1. Human are the place of mistakes and forgets. That’s also happen with some Moslems in early century. Some people were in the wrong, forced by evil and glamour world passions, possibility to do mistakes and sin. When this human who’s in the wrong didn’t return to the Alqur’an and Alhadith it will mislead and teach their descendant and followers into wrong generation, and with great special loves to their ascendants they will creates new groups which became more far away from the correct systems.

The important points which must be noticed to:

  1. The differentiation in Islam is allows and even became blessing only if we understand the knowledge about it.
  2. Islam was divided because Moslems stay away from syaria, Islam will united if living and using syaria.
  3. The destroyer and the shatter of Islam at early century of Islam were not prophet’s companions, but the hypocrites with supports from non Islam alliance.
  4. The born of mislead groups in Islam because of the mislead ancestors.
  5. Many Islamic leader didn’t take tough and strong action against mislead groups which always spread their wrong thoughts.
  6. All of these problems are happen also in this recent time in all Moslem countries. The leader must though against them to return the system into correct syaria Islamic law and regain the great Islam civilization.

I’m sorry if many mistakes in my language, I just want to share my idea and hope many points and benefit in this short writing. Thanks.

Kata Bijak

September 1, 2008 oleh t724626

1. Sholat

Tidur itu tidak sia-sia, tetapi sesungguhnya yang sia-sia adalah orang yang tidak sholat hingga masuk waktu sholat yang lain. (HR Muslim)

2. Irama

Kehidupan bagaikan sebuah orkestra. Seorang gila juga pemusik seperti kita, hanya saja melodi yang ia mainkan kurang berirama. (Khalil Gibran).

3. Iman

Kehilangan uang patut disesali

Kehilangan teman harus lebih disesali

Kehilangan iman patut dikasihani.

4. Optimis

  • Seorang optimistis melihat hikmah dalam setiap malapetaka,
  • seorang pesimistis melihat malapetaka dalam setiap hikmah.
  • Seorang optimistis melihat kesempatan dalam setiap kesempitan,
  • seorang pesimistis melihat kesempitan dalam setiap kesempatan.

5. Syair Ungkapan

Saat hayal terpaut sesal dan duka, ketika harapan tinggal ilusi belaka

Langkah gontai tersayat luka, sebuah kematian menjadi tujuan seketika

Keabadian bukanlah di dunia, karena kebahagiaan nyata ada diseberang kematian

Begitupun sandaran jiwa bukanlah harta semata, karena keimanan merupakan jawaban

Manusia memang bukan keledai tua, mereka mengharapkan secercah asa menjadi nyata

manusia tidak lagi manusia, ketika Sang Pencipta berada di bawah tumpukan harta

Manusia hidup dengan sejuta ilusi, namun mati dengan selembar kafan

Kehidupan beratus tahun tak kan berarti, tanpa sekecap amalan teriringkan

Rahman

خير الكلام 2

September 1, 2008 oleh t724626

خير الكلام 2

- النظافة من الإيمان

- قيمة المرء بقدر ما يحسنه

- انظر ما قال دلا تنظر من قال

- العلم بلا عملٍ كالشجر بلا ثمرٍ

- لا تحتقر مسكينًا و كن له معينًا

- تعلمن صغيرًا و اعمل به كبيرًا

- التعلم فى الصغر كالنقش على الحجر

- ما من شدة إلا سيأتى # لها من بعد شدتها رخاءُ

- كم من عائبٍ قولاً صحيحًا # و آفته من الفهم السقيم

- رزق الله فى الدنيا فسيح # فسر فى بلاد الله و التمس الغنى

- اتق الله حيث ما كنت # و اصبر على كل ما يأتى الزمان به

- اصبر على مضض الايام محتملاً # ففيه ترغ لباب النجح و الأمل

خير الكلام 1

September 1, 2008 oleh t724626

خير الكلام 1

- الاتحاد أساس النجاح

- الوقت أثمن من الذهب

- لن ترجع الأيام التى مضت

- كل شئ إذا كثر رخص إلا الأدب

- خير الأصحاب من يدلك على الخير

- خير الناس أحسنهم خلقًا و أنفعهم للناس

- موت الصالح راحة لنفسه و موت الطالح راحة للناس

- ليس الجمال بأثوابٍ تزيننا # إن الجمال جمال العلم والأدب

- مصا ئب قومٍ عند قومٍ فوائد # و بالله فاستعصم ولا ترج غيره

للإمام الشافعى

- و عين الرضا عن كل عيبٍ كليلة # كما أن عين السخط تبدى المساويا

- و لست بهيابٍ لمن لا يهابنى # و لست أرى للمرء ما لا يرا ليا

- فإن تدن منى تدن منك مودتى # و إن شأ عنى تلقنى عنك نائيًا

- علانا غنى عن أخيه حياته # و نحن إذا منا أشد تنانيا